oleh

Lembing dan Ringkik Kuda Kembali Memecah Sunyi Tanah Marapu

RADARNTT, Waikabubak – Ringkik kuda sandalwood membawa joki berlembing kayu kembali meramaikan festival budaya warisan leluhur kaum Marapu, Pasola Lamboya tahun ini yang resmi digelar kemarin Kamis, 20 Pebruari 2020 di Lapangan Pasola Hoba Kala, Desa Patiala Bawa, Kecamatan Lamboya Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur.

Kegiatan Festival Pasola kali ini dihadiri oleh Asisten III, Sekda, Dandim 1613 Sumba Barat, Kapolres dan Waka Polres Sumba Barat, Pasi OPS Dim 1613, Danramil 1613-02/Walakaka, Kapolsek Lamboya, Danunit Dim 1613, Camat Wanokaka, Camat Lamboya, Camat Lamboya Barat, staf ahli Bupati, Para Asisten, pimpinan OPD, Ibu Wakapolda NTT beserta rombongan, Ketua dan Wakil Ketua TP PKK.

Kegiatan Festival Pasola dibuka secara resmi oleh Camat Lamboya, Daud Eda Bora bersama para Rato Adat (tokoh adat).

Camat Lamboya, Daud Eda Bora dalam sambutan mengatakan pentingnya mempertahankan nilai budaya pasola yang selalu diselenggarakan setiap tahun, tepatnya setiap bulan Pebruari di kecamatan Lamboya sebagai warisan leluhur bagi masyarakat Lamboya.

“Oleh karena itu, mari kita jaga dan tetap kita lestarikan budaya pasola ini, karena budaya pasola ini juga merupakan identitas daerah bahkan sebagai identitas Bangsa Indonesia,” kata Eda Bora.

Ia menegaskan jangan sampai ada provokasi yang menyebabkan pasola ini tidak berjalan sesuai dengan apa yang di harapkan, Camat Eda Bora mengimbau masyarakat agar selalu menjaga keamanan secara bersama mulai dari diri sendiri ataupun kelompok.

“Pasola adalah budaya kita yang harus dilestarikan. Oleh karena itu, saya ucapakan terimakasih kepada para Rato adat yang telah menentukan jadwal hingga hari ini bisa kita sama-sama menyaksikan festival ini, saya juga menyampaikan ucapan terimakasih kepada para undangan yang hadir, para penonton yang hadir untuk menyaksikan pasola ini, diharapkan kegiatan adat pasola ini berjalan dengan lancar dan aman,” tutup Eda Bora.

Suasana Pasola Lamboya di Lapangan Hoba Kala

Rato adat Kedu Ma’ja Holi juga menyampaikan hal serupa, “Keamanan dan kenyamanan harus dijaga, masalah dari luar tidak boleh bawa pada hari pelaksanaan pasola ini, pasola ini bukan mencari musuh antara kedua belah pihak, tapi Pasola ini adalah budaya yang mempererat tali persahabatan antara kedua belah pihak. Karena itu, mari kita jaga bersama-sama saat berlangsungnya festival ini, agar kepuasan untuk menyaksikan betul-betul kita rasakan, karena Pasola ini hanya dilaksanakan sekali dalam setahun,” tegas Rato.

Sebelum festival Pasola dilaksanakan, kedua kuda adat, yaitu kuda adat Wala Baku dari suku Patiala dan kuda adat Bogorakangali dari suku Lamboya yang ditunggangi oleh masing-masing Rato adat, terlebih dahulu, harus dipacu kencang dan saling melempar lembing sebanyak tiga kali, setelah itu peserta (pemain) yang lainnya baru berlaga untuk saling melempar lembing di atas kuda yang dipacu kencang.

Kegiatan adat Pasola adalah sebagai tempat berkumpulnya kelompok suku-suku di lapangan dengan menunggangi kuda dimana antara kelompok suku satu dengan lainnya saling lempar dengan menggunakan lembing sepanjang sekitar 2 meter.

Dalam kegiatan adat pasola dipimpin oleh Rato (tokoh adat) yang dituakan untuk memimpin jalannya kegiatan pasola.

Dalam kegiatan Pasola ini, apabila ada yang terluka disalah satu pihak lawan tidak dikenakan jalur hukum tetapi diselesaikan dengan ritual adat dan apabila ada yang terluka dan mengeluarkan darah menurut kepercayaan mereka, maka hasil panen akan melimpah.

Kegiatan Festival Adat Pasola di Kecamatan Lamboya kali ini dimulai pada pukul 09:15 dan selesai pukul 11:00 dengan aman dan lancar yang dihadiri sekitar 10.000 penonton dan peserta. (AG/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan