oleh

Lodimeda: Rapid Test Massal Pemerintah Kota Kupang Buang-Buang Uang

RADARNTT, Kupang – Peneliti IRGSC (Institute of Resource Governance and Social Change)¬ yang juga anggota Forum Academia NTT (FAN), Lodimeda Kini, berpandangan bahwa Pemerintah Kota Kupang buang-buang dengan mengadakan rapid test massal.

“Untuk apa buang-buang uang dengan rapid test massal, jika sudah tahu instrument ini tidak efektif?,” kata Lodimeda Kini.

Hari Selasa (22/9/2020) Pemerintah Kota mengadakan rapid test massal, diperkirakan dana sebesar 75 juta rupiah dihabiskan dalam waktu setengah hari, untuk 500 orang. Ia juga prihatin karena para tenaga kesehatan yang ditemuinya mengaku uang jasa belum diterima hingga hari ini.

Surat terbuka yang ia kirimkan kepada walikota dan wakil walikota Kupang itu beredar di berbagai grup whatsapp lokal maupun nasional. Ia mengaku bahwa surat itu ia kirimkan langsung kepada walikota dan wakil walikota Kupang.

“Seharusnya uang itu dipakai untuk memperbaiki ruang laboratorium biomolekuler yang sudah disediakan di RSU SK.Lerrick, dan bukannya dihabiskan tanpa arah!,” katanya.

Lodimeda Kini, peneliti yang juga aktif mempresentasikan rencana pembuatan laboratorium biomolekuler kepada Pemerintah Kota Kupang mengaku kaget dengan pernyataan wakil walikota Kupang di Harian Timex. Menurutnya, seharusnya wakil walikota Kupang sudah punya referensi tentang bagaimana membuat swab terjangkau, dan bukannya mengandai-andai. Sebab Lodi yang juga hadir dalam presentasi Forum Academia NTT di depan wakil walikota Kupang pada tanggal 2 Mei 2020.

“Yang jawab hanya walikota, wakil walikota tidak ada tanggapan, Pak Jeffry awalnya menjawab ‘surat terlalu panjang kirim ke Kadis saja’,” kata Lodi.

Jawaban walikota Kupang dijawab Lodi, “Tidak sepanjang kekuatiran kami akan bahaya yang mengintai, Pak, jadi saya akan ambilkan bagian menarik terkhusus untuk waktu Berharga Bapak.”

Walikota Kupang lalu menjawab, “Thanks ya, saya kirim ke staf. Thanks.”

Percakapan itu kemudian ditutup Lodi dengan menulis dalam Bahasa Sabu. “Terima kasih Pak. Saya berdoa semoga surat tidak hilang di perjalananan. Helama Tona Ie.”

Sapaan akhir berbahasa Sabu itu dijawab Walikota Kupang dengan sapaan yang sama. Sambil memasang emoticon jempol dan orang tertawa.

Meskipun santai menurut Lodi yang menamatkan studi di Delf, Belanda, ia berharap agar walikota benar-benar serius menyikapi meningkatnya penyebaran Covid-19.

“Pak Jeffri perlu serius seperti Bu Risma yang mampu membuat tes swab gratis untuk seluruh warga ber-KTP Kupang, kalau Surabaya bisa, kenapa Kota Kupang tidak bisa, padahal dari sisi anggaran juga tidak bisa dibilang besar,” katanya berargumentasi.

“Taman, jalan, trotoar, dan lampu jalan sudah bagus dikerjakan, yang belum terlihat adalah visi Pemerintah Kota Kupang dalam menangani Covid-19,” kata Lodi.

Ia menyayangkan kondisi ini, sebab walikota adalah seorang doktor, sedangkan wakil walikota adalah seorang dokter, tetapi kebijakan yang diambil pemerintah kota malah menghabiskan uang untuk rapid test massal yang tidak jelas. (ak/TIM/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan