oleh

‘Lonto Leok’ Meriahkan Sumpah Pemuda di Bawah Rindang Pohon Pancasila

RADARNTT, Borong – Hari Sumpah Pemuda merupakan hari bersejarah bagi bangsa Indonesia. Keterlibatan kaum muda dalam memerdekakan negara tercinta dari tangan penjajah masih tersimpan rapih dalam lembaran sejarah bangsa.

Jauh sebelum Indonesia mendeklarasikan kemerdekaan oleh founding farther, Ir. Soekarno 17 Agustus 1945 silam. Para pemuda dari berbagai penjuru telah mengikrarkan diri mengangkat persatuan yang sangat kokoh dengan mengikrarkan Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928.

Telah mencapai usia hampir seabad, atau 92 tahun Sumpah Pemuda bukan hanya kata kata yang tersusun lalu diucapkan dalam lafalan yang enteng tak punya makna. Gema dan penerapan bukti dari persatuan atau kekompakan masih kita jumpai di seluruh penjuru tanah air.

Bukan hal biasa, satu dari sekian acara dan cara mengisi hari memperingati sumpah pemuda di tanah air Indonesia. Hadir dari Indonesia bagian timur, tepatnya Flores Nusa Tenggara Timur, di bawah rindangnya pohon kusambi yang telah dinobatkan sebagai pohon Pancasila, difasilitasi tuan rumah, SMA Negeri 3 Borong Manggarai Timur menggelar acara bincang bincang bernuansa budaya (lonto leok) yang melibatkan sejumlah komunitas pemuda dengan masing masing namanya, menghadiri acara bersejarah itu.

Hadir dalam Acara Kepala Dinas PUPR kabupaten Manggarai Timur Yoseph Marto, Komunitas Literasi Cangkir 16, Komunitas Petani Soft Ware, Komunitas Rumah Baca Aksara, Komunitas Pegiat Media Tabe Ite, Coffee Be, Coffee Edelweis, utusan OSIS SMA Negeri 1 Borong, utusan SMAK Pancasila Borong dan rekan pers yang terhimpun dalam Aliansi Jurnalis Online.

Tradisi adat Manggarai kepok tuak kapu atau curu, merupakan tontonan tradisi leluhur yang merupakan tradisi atau budaya yang ingin diwarisi kepada pelajar selaku generasi penerus yang turut ambil bagian dalam kegiatan yang unik tersebut.

Suatu kehormatan tersendiri bagi para hadirin apabila disambut dengan tuak kepok kapu, dalam konteks budaya Manggarai.

Dalam kegiatan yang berlangsung seru itu, Yosep Marto hadir sebagai pribadi yang merupakan salah satu dari pribadi yang memiliki kecintaan terhadap seni. Berbicara tentang seni, kata Pemusik biola itu, adalah bagian dari jiwa raganya.

Dari segi pendidikan, Ia mengatakan bahwa latar belakang pendidikannya adalah seorang tamatan arsitek di salah satu kampus swasta di ibukota provinsi NTT.

Memiliki konsep berpikir sama dan kecintaan terhadap seni yang sama adalah jalan baginya untuk bisa hadir dalam acara yang digelar para pemuda itu.

“Dengan seni dan menghasilkan karya seni, saya bisa membiayai sekolah saya di jurusan arsitek. Dulu semasa kuliah saya sering melukis di sisa tirpleks sisa plafon pekerja bangunan, lukisan itu saya jual untuk mendapatkan uang untuk biayai sekolah,” ucap Yos bercerita.

Tak hanya bincang bincang dan bagi konsep serta pengalaman yang berharga, kegiatan yang digelar memperingati hari sumpah pemuda tersebut juga diselingi dengan berbagai aksi seni para siswa SMAN 3 Borong dan para peserta yang hadir.

Beberapa alunan suara emas siswa menyanyikan lagu penuh makna, juga acara itu diisi dengan hiburan berupa stand up komedi dan pembacaan puisi.

Tampilan pakaian selaku tuan rumah, kepala sekolah dan para guru juga menyumbang nuansa budaya Manggarai yang serba mengenakan kain songke sebagai identitas budaya adat.

Saling berbagi konsep dan pengalaman yang menarik dan motivasi, sejumlah komunitas itu berbagi cerita tanpa sekat diantara satu dengan yang lain. Seakan suasana para pemuda memberi kesan bahwa kita adalah pemuda pada 28 Oktober 1928 silam.

Membangun Manggarai Timur dari sektor pariwisata dalam konsep pemuda milenial, adalah tujuan utama dari bincang Lonto Leok.

Mengingat pentingnya berkomunitas, dalam suasana bincang lonto leok, Jeril Ngalong selaku Ketua Komunitas Rumah Baca Aksara di depan para hadirin mengatakan, jika ingin maju dan bangun dari keterpurukan, hidup ini hendaknya memiliki prinsip hidup yang tidak terpegantung pada orang lain, atau mandiri dan berinovasi serta berkomunitas.

“Kita harus berkawan dan harus bermitra, alhasil semuanya pasti berjalan sesuai dengan rencana,” ajaknya.

Lanjut dalam situasi bincangnya, ia mengatakan kekompakan dan komitmen juga turut memberikan keberhasilan.

Walau musim penghujan, suasana cuaca alam yang sangat mendukung, langit mendung dan tidak hujan, tak seperti hari sebelumnya memberi gambaran bahwa alam juga mendukung dan butuh kekompakan orang muda dalam memikirkan nasib bangsa ini.

Suguhan seruput kopi promosi yang dihidangkan Coffee Edelweiss tak mampu membuat lidah berbohong. Memberi kesan bahwa kopi kopi tanpa gula dari Coffee Edelweiss mampu mengalahkan manisnya kopi suguhan para siswa SMA 3 Borong. Hal ini bertanda bahwa kita (Manggarai Timur) semakin maju.

Suasana semakin semangat dan diskusi semakin terarah, masih dalam suasana bincang bincang lonto leok, Be, gadis berparas cantik pemilik Coffee Be yang beralamat di Peot, tepatnya samping Kantor Statistik Kabupaten Manggarai Timur, di hadapan para hadirin, Be berbagi pengalamannya dalam dunia usaha.

Dikatakannya, dalam dunia usaha atau bisnis, segala sesuatunya dibawah dengan perasaan senang dan tanpa tekanan. Ekonomi keluarga juga sudah mulai bagus dan sangat baik, ucap Be memotivasi.

” Saya tidak perna mengenal siapa saya pada tempat kerja saya sebelumnya, dan ketika bergelut di dunia usaha kopi, saya baru bisa melihatnya,” ungkap Be.

Terlepas dari suasana Bincang Lonto leok, Kepala SMA Negeri 3 Borong, Kontantinus Eferson Rada, mengatakan bahwa dalam konsep sebelumnya kegiatan ini akan dihadiri oleh dinas pariwisata kabupaten Manggarai Timur.

“Adapun tujuan yang lain dalam diskusi ini, agar sebagai mitra, kita bisa membaca arah konsep pembangunan Manggarai Timur kedepannya di bidang atau sektor pariwisata, agar potensi kita sebagai orang muda juga bisa siap berkontribusi demi kemajuan Manggarai Timur”, ujar Kepala Sekolah yang kerap disapa Sony itu.

Ia mengatakan, kegiatan serupa juga akan digelar dalam waktu yang akan datang dalam panggung yang cukup besar. “Sehingga, perubahan Manggarai Timur di bidang pariwisata adalah tanggung jawab kita semua,” pungkasnya. (GN/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan