oleh

Naluri Guru pada Anak Korban Erupsi Ile Lewotolok

DUA sahabat saya, Siprianus Tua Betekeneng, S.Pd.,M.Pd dan Inspektur Polisi Dua (Ipda) Aloysius Langoday, Selasa (29/12 2020) berada di bawah pohon. Mereka berbaur bersama para siswa korban erupsi gunung Lewotolok. Gunung di wilayah utara Lembata, kecamatan Ile Ape dan Ile Ape Timur itu meletus pada Minggu (29/11 2020) mengakibatkan ribuan warga mengungsi ke Lewoleba.

Saat ini Sipri menjabat Ketua Analis Mutu Akademik Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XV Nusa Tenggara Timur. Sedang Polisi Alo menjabat Kepala Urusan Pembinaan Operasi Satuan Bimbingan Masyarakat Kepolisian Resort (Polres) Lembata.

Kedua rekan ini sama-sama seangkatan di Sekolah Pendidikan Guru Kemasyarakatan (SPGK) Lewoleba, ibu kota kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Masuk tahun 1987, kami sama-sama menghuni gedung di komplek Yayasan Pendidikan Kawula Muda di sebelah atas Bluwa, Kelurahan Lewoleba Barat, Kecamatan Nubatukan. Sipri dan polisi Alo di kelas berbeda. Sedang saya di Kelas I-C dan bertahan satu semester kemudian pindah di SMA Kawula Karya.

Tadi pagi Sipri dan polisi Alo mengirim gambar keduanya tengah berada di tengah anak-anak murid di bawah pohon asam. Keduanya menjadi pendamping bagi anak-anak korban erupsi dari kampung halaman mereka, Ile Ape. Di bawah pohon asam ini keduanya nampak asyik bersama anak-anak untuk memotovasi mereka agar tetap semangat meski berada di posko pengungsian bersama orangtue mereka.

“Saya sungguh dididik jadi guru, bekerja sebagai guru dan mengabdikan diri di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT. Melihat anak-anak di posko pengungsian akibat erupsi Ile Lewotolok saya tergugah. Semangat melayani sebagai guru muncul. Saya dan rekan Alo prihatin terhadap anak anak didik. Apalagi mereka semua tinggal di pengungsian. Mereka tentu mengalami trauma psikologis akibat tinggal di posko pengungsian menyusul erupsi gunung Ile Lewotolok,” kata Sipri Betekeneng.

Sipri dan polisi Alo punya niat mulia. Mereka ingin mengembalikan semangat anak anak untuk kembali ke sekolah. Juga memotivasi mereka untuk tetap giat belajar meski berada jauh dari ruang kelas nun di lereng Ile Lewotolok yang hingga saat ini masih “batuk-batuk” dan menyandra warga kedua kecamatan itu.

Menurut Ipda Aloysius Langoday, di bawah posko induk pengungsian Tenda G sebanyak 10 anak anak usia sekolah dasar dari Desa Waowala, Lamawara, Tokojaeng, dan Jontona, kedua sahabat lulusan SPGK Lewoleba ini menyatu dengan anak-anak usia sekolah dasar itu. Mengajar mereka seadanya karena sumber ajar masih sangat minim. Hingga sebulan, anak-anak pengungsi, kata Alo, mereka masih memerlukan batuan berupa buku-buku yang berkaitan dengan literasi dan numerasi.

“Saya dan rekan Sipri sekadar memberi semangat dan belajar membaca yang baik dan benar. Kita juga membantu mereka bagaimana berhitung cepat. Kami lakukan ini sejak terjadi erupsi pada Minggu, 29/11 2020 lalu. Langkah ini kita lakukan agar anak-anak bisa kembali mengingat pelajaran di sekolah, di saat masa liburan dan berada di tempat pengugsian,” kata Polisi Alo Langoday.

Di bawah pohon, anak-anak merasa bahagia. Kebahagiaan yang terpancar dari wajah adalah kabar baik. Mereka, anak-anak, tak serta merta mengingat pengalaman traumatik tatkala diboyong orangtua mereka meninggalkan kampung halaman dan sekolah mereka di kaki Lewotolok. Kemudian hidup dan kehilangan kesempatan belajar atau bertemu dengan teman-teman serta para guru di tengah kepungan virus korona yang kini juga melanda Lembata.

“Anak-anak senang sekali. Selama kami bersama-sama di bawah pohon di posko pengungsian mereka leluasa bermain bersama teman-temannya sesama pengungsi ditemani rekan Sipri, seorang pejabat dari Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga NTT dan seorang polisi dari Polres Lembata. Mereka senang sekali baru kali ini ada polisi yang langsung mengajar mereka,” kata Alo.

Alo juga menambahkan, saat ini anak-anak korban erupsi yang tinggal entah di posko utama, rumah penduduk maupun beberapa lokasi di luar Lewoleba, butuh buku-buku pelajaran agar mereka bisa belajar. Meski masih belum jelas kapan waktu mereka bisa memperoleh kemudahan seperti buku-buku itu, toh, kehadiran keduanya sangat membantu menghapus nestapa di posko pengungsian.

“Mereka merasa senang dan gembira. Kami dua bisa ajarkan mata pelajaran sekolah Kami dua mengajarkan mereka pelajaran Bahasa Indonesia dan menanamkan nilai dasar sebagai tunas bangsa untuk kelak berbakti untuk lewotana (kampung halaman), bangsa dan negara,” kata Alo, yang juga Perwira Pengendali Posko Satgas Erupsi Gunung Ile Lewotolok, Polres Lembata.

Oleh: Ansel Deri

Komentar

Jangan Lewatkan