oleh

NasDem Dukung Kedaulatan Pangan Melalui Revolusi Pertanian

RADARNTT, Larantuka – Dalam rangka memperingati Hari Lahir Partai NasDem ke–9, pada tanggal 11-11-2020, DPD Partai NasDem Kabupaten Flores Timur menggelar sejumlah kegiatan yakni: diskusi webinar dengan tema “Mewujudkan Kedaulatan Pangan Melalui Revolusi Pertanian di Flores Timur”, Tabur Bunga di Taman Makam Pahlawan Lapak Tanah Larantuka, dan Pemotongan Tumpeng.

Kegiatan Diskusi dilangsungkan pada, Selasa, 10 November 2020, Pkl. 09.30 – 13.30 Wita. Sedangkan Tabur bunga dan pemotongan tumpeng dilaksanakan bertepatan dengan hari lahir partai.

Diskusi webinar menghadirkan 5 orang Pemateri yakni, Gestianus Sino (Duta Petani Milineal Indonesia), Anton Gege Hadjon (Bupati Flores Timur), Alexander Take Ofong (Ketua Fraksi NasDem NTT), Julie Sutrisno Laiskodat (Anggota DPR RI Komisi IV bidang Pertanian, Kehutanan, Maritim/Kelautan dan Perikanan, Pangan), dan Bapak Syaiful Bahri (Staf Khusus Kementrian Pertanian RI).

Sementara peserta berasal dari berbagai kalangan. Ada Petani, kelompok tani, Penyuluh Pertanian Lapangan, Camat, Kepala Desa, Masyarakat dan pemerhati serta pengurus partai NasDem.

Diskusi dibuka oleh Ketua DPD Nasdem Flores Timur, Alberth Ola Sinuor dan dipandu oleh moderator Silverius Uhe Koten. Dalam sapaan awalnya, Albert Sinuor menyebut, DPD Nasdem menggagas diskusi dengan tema tersebut karena kedaulatan pangan telah menjadi tantangan bagi daerah ini ditengah semakin meningkatnya jumlah penduduk yang berbanding lurus dengan semakin tingginya kebutuhan akan pangan. Sementara di sisi lain, masih terdapat sejumlah problem pertanian antara lain luas lahan yang berproduksi tidak besar, minat orang muda terhadap sektor pertanian rendah, dan sektor pertanian belum terintegrasi secara baik.

“Diskusi ini nantinya akan memberikan kepada kita catatan-catatan kritis untuk ditindaklanjuti dengan aksi-aksi nyata yang berpihak pada Petani kita,” katanya.

Gestianus Sino, duta Petani Milineal yang hadir sebagai pemateri pertama, membagi pengalamannya sebagai petani di Kupang. Sarjana Pertanian lulusan Undana tersebut, menuturkan, jumlah lapangan kerja sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah pencari kerja. Karena itu ia menjadi petani dengan memaksimalkan lahan yang masih sangat luas adalah pilihan tepat. Dengan kondisi lahan pertanian di NTT yang merupakan pertanian lahan kering maka pilihan pertanian integrasi dengan jenis produk lain menjadi pilihan terbaik.

“Prinsip pertanian yang diterapkan adalah pertanian ramah lingkungan; petani harus menyuburkan dan menyehatkan tanah. Bukan tanaman. Karena dengan menyehatkan tanah, maka usaha pertanian berumur panjang. Kita tanam apa saja akan berhasil. Untuk menyuburkan tanah bahannya adalah sisa sisa hasil pertanian yakni daun, batang dan kotoran hewan. Sementara pupuk organic hanyalah perangsang saja”

Ia mengajak para pemuda untuk masuk ke lahan-lahan kering dan mengolahnya menjadi lahan pertanian. Petani menurutnya tidak dihasilkan di ruang ruang seminar tetap dari kerja. Hal yang paling sederhana adalah mulai menanama apa yang akan dikonsumsi oleh petani.

“Pertanian tidak perlu pake rencana. Nanti terlalu banyak pertimbangan. Nanti gebini, misalnya , seandanya, jangan jangan. Itu hanya membuat tidak bergerak. Saya tamat dari undana dan kerja dengan orang dengan penghasilan Rp1,4 juta. Itu tidak cukup untuk kebutuhan sendiri. Tapi sejak Saya mulai tanam di atas tanah Hari ini saya Punya lahan, punya rumah, punya mobil dan hidup cukup. Pangan dan uang ada di NTT. Tidak perlu merantau keluar di sana juga hanya akan menjadi petani,” katanya.

Lebih lanjut, Bupati Flores Timur, Anton Gege Hadjon, menyebut, sebagian besar penduduk Flores Timur bermata pencaharian sebagai petani yang bekerja di lahan kering. Orientasi petani saat ini, lebih pada untuk memenuhi kebutuhannya sendiri, sehingga tingkat kesejahteraan petani masih jauh dari harapan.  Revolusi Pertanian sudah digagas di Flores Timur, khususnya di wilayah kecamatan Titehena dengan pengembangan tanaman jagung sebesar 600 hektar.

Dijelaskannya, yang sudah dilakukan pemda Flores Timur di tiga tahun terakhir adalah dengan mulai mendorong petani mengoptimalkan lahan miliknya, menyiapkan perangkat hukum untuk melindungi komoditi petani dengan peraturan bupati tentang pangan lokal, dan pemasaran.

“Dari Evaluasi yang kita buat, semangat petani tumbuh karena sudah mulai ada kepastian pasar. Jagung misalnya, produksinya banyak kita intervensi dengan menyalurkan juga beras jagung kepada penerima bantuan pangan non tunai. Setiap bulan 28 Ton beras jagung khususnya untuk penerima PKH saja. Tahun depan kita tingkatkan menjadi 70 Ton setiap bulannya. Berarti 1 tahun 900 Ton kebutuhan beras jagung untuk PKH saja,” terangnya.

Meski demikian ia menyebut, para petani di Flores Timur saat ini juga menghadapi sejumlah kendala antara lain, peralatan yang terbatas, ketersediaan bibit, pupuk, dan infrastruktur.

Menurut Bupati, untuk mengatasi masalah tersebut, pemda Flores Timur telah memaksimalkan kemampuan yang dimiliki. Selain itu, pihaknya juga terus membangun koordinasi dengan berbagai pihak dan tingkatan pemerintahan untuk membantu mengatasi persoalan para petani tersebut.

Ibu Julie Sutrisno Laikodat, dalam kesempatan itu mengatakan, potensi pertanian di Flores Timur sangat besar. Beberapa produk pertanian di Flores Timur yang memiliki kualitas bagus yakni sorgum, kopi, kacang mente.

“Kita buka pangsa pasar, kita bikin kemasan dengan baik. Sudah ada inovasi, tetapi masih dilakukan oleh kelompok kecil dengan jumlahnya juga kecil. Tapi butuh grand design. Karena kita sejak dulu kerjanya di hulu saja sementara hilirnya tidak. Padahal urus pertanian harus terintegrasi dari Hulu sampai Hilir,” katanya.

Staf Khusus Kementrian Pertanian, Sayful Bahri mengatakan, untuk bisa mendesain pembangunan pertanian butuh pemetaan yang komprehensif terhadap tiga isu utama pertanian yakni lahan, tingkat kesuburan dan infrastruktur.

Desain pertanian kita belum terintegrasi dengan baik. Meskipun kita memiliki produksi pertanian seperti negara negara lain tetapi kita kalah bersaing. Pertanian tidak dapat berkembang dengan baik dan bersaing di pasar karena pertanian hari ini masih menjadi usaha pribadi, bukan kelompok. Akibatnya banyak varietas pertanian tetapi produktivitasnya terbatas secara kuantitas.

“Pembangunan pertanian harus dilakukan oleh kelompok kelompok tani dengan satu atap manejemen. Mari kita design Bersama. Saya akan cari waktu untuk ke Flores Timur melihat potensi disana,” katanya.

Ketua Fraksi NasDem DPRD provinsi NTT, Alexander Take Ofong menyebut Gubernur NTT, Viktor Laikodat dan pemerintah provinsi sangat konsern untuk meningkatkan dan memastikan kedaulatan pangan. Kedaulatan pangan tidak hanya soal pertanian tetapi terintegrasi dengan peternakan, kelautan, perikanan, dan peternakan untuk memastikan gizi untuk meningkatkan kualitas SDM.

Ia menyebut, saat ini di NTT tidak banyak lagi masyarakat yang menghasilkan pangan dari kebun sendiri untuk memenuhi kebutuhan akan pangan. Sudah mulai ada pergeseran pada trade based, orang menjual jasa untuk mendapatkan uang dan membeli pangan.

Membangun ketahanan pangan di NTT tidak bisa hanya memperhatikan satu sektor tetapi pertanian terintegrasi. Konsep Tanam Jagung Panen Sapi adalah konsep programatik yang dibaca secara literer. Ini konsep besar tentang pertanian terintegrasi. Pertanian tidak bisa hidup sendiri karena dia nyambung dengan peternakan. Ini untuk menjawabi tantangan kebutuhan kita hari ini. Dia mulai dengan langkah tanam jagung dulu. Jagung karena karakteristiknya cocok dengan lahan di NTT. Di NTT sudah ada 10 ribu hektar termasuk 125 hektar di Flores Timur.  Pertanian juga menjadi sektor penyanggah pariwisata.

Sementara dalam sesi diskusi, para petani dan Penyuluh Pertanian maupun pemerintah desa menyampaikan kegiatan pertanian yang telah mereka lakukan di wilayahnya masing-masing. Mereka juga mengetengahkan tantangan dan kesulitan dalam kegiatan sektor pertanian yakni peralatan yang masih sederhana sehingga tidak dapat memaksimalkan lahan tidur, bibit dan pupuk, maupun ketersediaan air.  Selain itu, para petani meminta pemerintah dapat mefasilitasi petani untuk mengakses pasar untuk produksi pertanian para petani.

“Di Flores Timur banyak petani yang gila secara positif. Petani petani gila ini yang harus diidentifikasi dengan baik oleh pemerintah dan diintervensi. Jangan intervensi petani yang hanya bikin proposal,” kata Kamilus Tupen Jumat. (TIM/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan