oleh

Pasien Rawat Inap Tinggalkan Puskesmas Borong Lantaran Kecewa 

-Daerah, Matim-2.018 views

RADARNTT, Borong – Kecewa dengan pelayanan petugas kesehatan di Puskesmas Borong, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, NTT, terpaksa keluarga pindahkan Matius Mundur, pasien yang sedang dirawat di Puskesmas itu. Mundur korban kecelakaan lalulintas (Lakalantas) di Peot, Kelurahan Satar Peot, Kecamatan Borong dipindahkan ke Klinik Santa Klara Peot, Jumat (6/11/2020) malam sekitar pukul 00.50 waktu setempat.

Sebelumnya korban dirawat di Puskesmas Borong, Jumat (6/11/2020) sekitar pukul 13.00. Mundur diantar, Salesius Medi, Frans Borgias, Viktor Lele, Beni Dudur dan sejumlah anggota keluarga lainnya ke Puskesmas Borong. Mundur kemudian langsung diarahkan ke ruang UGD puskesmas itu guna mendapat perawatan.

Setelah mendapat perawatan, petugas medis putuskan korban harus rawat inap guna ditangani lebih lanjut. Sekitar pukul 00.30, petugas UGD dan beberapa keluarga mendekati korban untuk dihantar ke ruang rawat inap. Setibanya keluarga di ruangan rawat inap petugas medis, Kristin Carvalo, menegur keluarga korban. “Di dalam ruangan ini cukup tiga orang saja yang jaga korban. Yang lain keluar,” tegas Kristin sebagaimana dikutip Salesius Medi.

Terhadap teguran itu keluarga korban tidak merespon. Sebab keluarga korban sedang berada di dalam ruangan rawat inap untuk memindahkan korban ke tempat tidur. Lantaran terpanggil agar tidak menimbulkan hal yang kurang menyenangkan, Salesius Medi, mendekati Kristin Carvalo dan menyampaikan jika keluarga segera tinggalkan ruang rawat inap apabila korban sudah dipastikan aman di tempat tidur perawatan.

“Saya katakan, ibu keluarga akan tinggalkan ruang rawat. Keluarga hanya ingin korban lebih cepat masuk ruang rawat dan pastikan sudah di tempat tidur,” ujar Medi.

Namun terhadap penyampaian Salesius Medi itu, Kristin menimpal balik seraya menegaskan, “Apa?. Kalian tidak punya hak untuk atur kami. Kami yang punya tempat di sini. Kami tidak mau dengar siapa-siapa, dan tidak pernah pandang bulu,” ujar Kristin sebagaimana dikutip Salesius Medi.

Karena mendapat jawaban yang kurang etis itu, Salesius Medi mengingatkan Kristian.“Ibu tolong jaga tutur kata. Berikan pelayanan yang baik,” pintanya.

Usai menjelaskan hal itu, Salesius Medi, tinggalkan ruang rawat korban menunggu di luar ruangan. Sementara Kristin Carvalo masih ngomel.

Namun seturut keluarga, Kristin Carvalo masih saja mengomel. Bahkan di hadapan keluarga korban, Kristin Calvaro mengucapkan kalimat yang tidak elok didengar.

Perkataan itu secara inplisit ditujukan kepada Sales Medi. “Baru jadi Dewan sombong,” ujar Viktor Lele dan Gregorius Gepong mengutip pernyataan Kristin.
Mendengarkan hal itu keluarga Salesius Medi tersinggung berat. Sebab kehadirannya di Puskesmas Borong semata-mata menolong keluarga yang menderita sakit akibat lakalantas. Lantaran tidak puas dengan dengan celotehan Kristin Carvalo, pihak keluarga menyampaikan hal itu kepada Salesius Medi.

Kepada wartawan yang ditemui di kediamannya, Salesius Medi menyatakan kekecewaaannya. Sebab pernyataan Kristin Carvalo mencederai diri dan martabatnya. “Saya sangat tersinggung, tetapi saya harus menahan diri. Apalagi anggota keluarga saya masih dalam keadaan duka. Malam itu juga saya dan keluarga putuskan untuk pindahkan pasien ke Klinik St. Klara, Kelurahan Satar Peot,” ujarnya.

Menurutnya, sikap yang ditunjukan Kristin Carvalo sangat buruk. Ia meminta Dinas Kesehatan mengevaluasi seluruh kinerja petugas kesehatan. “Saya minta Kepala Dinas Kesehatan Manggarai Timur,  turun tangan dan evaluasi Kepala Puskesmas Borong dan petugas medis di puskesmas itu,” tegasnya.

Dikatakan, petugas medis semestinya memberikan pelayanan yang terbaik kepada para pasien dan keluarga. “Mungkin bukan hanya keluarga kami yang mengalami seperti ini. Ada juga pasien atau keluarga lain yang mengalami hal yang sama. Tetapi tidak berani menyuarakan,” urainya.

“Saya harap petugas medis di puskesmas itu bekerja sesuai standar  etika medis. Saya minta Kristin Carvalo harus pindah. Beri dia waktu berbenah diri. Sebab tutur kata tanpa kontrol dan etika itu, melukai perasaan orang lain. Apalagi dia menyebut lembaga Dewan. Padahal teguran saya tidak dalam kapasitas anggota Dewan. Saya sebagai keluarga korban.

Sangat disesalkan kalau menyinggung lembaga Dewan. Teguran saya bukan karena saya anggota Dewan, tetapi sebagai keluarga korban yang merasa diperlakukan tidak manusiawi,” katanya.

Medi menegaskan perkataan Kristian Carvalo sangat  melukai hati dan keluarganya. Apalagi sebagai lembaga  Dewan. “Saya tentu ada catatan khusus bagi Dinas Kesehatan,” tegasnya.

Menurutnya, terkait perkataan baru jadi anggota dewan sombong, pihaknya akan mengambil sikap tegas. “ Bagi saya jika pimpinan puskesmas tidak ambil sikap terhadap Kristin Carvalo, tentunya saya ada ruang yang bisa digunakan. Waktu masih panjang, kita lihat nanti,” tegasnya.

Dalam upaya pencarian kebenaran data, beberapa wartawan Sabtu (07/11/2020) siang mendatangi Puskesmas Borong. Saat itu para petugas mengaku, Kristin Calvaro sudah kembali ke kediamannya di Jawang, Desa Golo Kantar, Kecamatan Borong. Sebab Kristin ditugaskan untuk piket malam di puskesmas itu. Ketika diminta nomor kontak, para petugas di puskesmas itu mengaku jika mereka tidak memiliki nomor handphone Kristin Carlvalo.

Mendengar jawaban para petugas, beberapa awak media memutuskan untuk mendatangi rumah Kristin Carlvalo. Saat tiba dirumah itu, wartawan bertemu ayahnya, Mikael Carvalo. Kepada wartawan Mikhael Carvalo mengaku putrinya sedang istirahat. “Dia sedang tidur,” ujar Mikael.

Mendengar penjelasan itu, awak media hendak pulang. Namun bersamaan itu seorang pemuda mendekati wartawan seraya bertanya tentang kehadiran wartawan.

Menanggapi pertanyaan itu, Sandy Hayon dari media floresmerdeka.com menjelaskan jika kedatangan para awak media bertujuan meminta  mengklarifikasi terkait keluhan keluarga pasien yang sempat dirawat di Puskesmas Borong. Sebab Kristin Carvalo selaku petugas piket malam di ruangan rawat nginap di Puskesmas Borong.

Dalam komunikasi siang itu,terkesan sang pemuda itu menghalangi wartawan untuk bertemu Ibu Kristin. Hal itu dibuktikan dengan pernyataannya yang meminta wartawan untuk perlihatkan KTP dan kartu pers. Permintaan tersebut ditolak wartawan, lantaran pemuda itu tidak berkapasitas menjelaskan hal yang dikonfirmasi  wartawan.

“Waktu saya bilang kaka kami datang untuk bertemu Ibu Kristin untuk meminta klarifikasi terkait keluhan anggota keluarga pasien. Dengan tujuan agar beritanya berimbang. Tetapi dia tetap ngotot. Makanya kami memutuskan untuk pulang. Apalagi dari pengakuan ayah Kristin, putrinya sedang tidur,” ujar Hayon. (GN/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan