oleh

Rato Loli Angkat Bicara Soal Tradisi Kawin Tangkap di Sumba

RADARNTT, Waikabubak – Akhir-akhir ini praktik kawin tangkap di daerah pulau Sumba ramai dibicarakan baik lewat media massa maupun media elektronik setelah muncul video viral pada akhir Juni lalu, yang memperlihatkan seorang perempuan di Kabupaten Sumba Tengah dibawa secara paksa oleh sekelompok pria yang dikenal masyarakat setempat dengan sebutan ‘kawin tangkap’, atau penculikan untuk perkawinan.

Rato Raga Maru salah satu Tokoh Adat (Rato) Loli yang ditemui media ini di kediamannya pada Jumat, (10/7/2020) pagi, mengatakan bahwa antara kawin tangkap dan bawa lari perempuan sangat berbeda jauh.

“Antara kawin tangkap (‘yoppa’ dalam bahasa Loli) dengan bawa lari perempuan (‘kedu ngiddi mawinne’ dalam bahasa Loli) sangat berbeda jauh. Kawin tangkap (yoppa) itu terjadi karena sudah ada persetujuan antara laki-laki dan perempuan yang mana mereka pacaran di tempat yang tidak tepat dan hanya mereka berdua sehingga ditangkap atau yoppa oleh keluarga perempuan. Sedangkan untuk bawa lari perempuan merupakan kejadian dimana perempuan di ‘culik’ atau dibawa lari tanpa sepengetahuan perempuan dan keluarganya dan tidak memiliki hubungan percintaan sebelumnya,”jelas Rato Raga Maru.

Meriana Ina Kii salah satu perempuan Sumba yang lahir dan besar di Loli, saat dihubungi media ini melalui WhatsApp, Jumat (10/7/2020) pagi menyampaikan hal serupa dalam perspektif orang Loli (salah satu suku di Sumba Barat), bahwa kawin tangkap, bawa lari perempuan, dan kawin paksa mempunyai konteks yang berbeda.

Lulusan Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (IPB) itu, mengatakan bahwa kawin tangkap biasanya terjadi pada orang sepasang kekasih yang sedang pacaran dan ditangkap atau diketahui orang tua perempuan, “Kawin tangkap menurut orang Loli merupakan sepasang kekasih yang mempunyai hubungan, lalu mereka pacaran di sebuah rumah, baik rumah perempuan tersebut atau rumah saudara dimana di rumah tersebut tidak ada orang lain selain mereka berdua yang kemudian ditangkap atau diketahui oleh orang tua perempuan yang biasa disebut “Yoppa” dalam bahasa Loli,” tutur Meriana.

Sedangkan, lanjutnya, “Bawa Lari Perempuan” merupakan kejadian yang juga terjadi dimana perempuan “diculik” atau dibawa lari oleh laki-laki yang sebelumnya tidak memiliki hubungan percintaan dan tanpa sepengetahuan pihak perempuan maupun keluarganya meskipun keduanya saling kenal sebelumnya yang biasa disebut “Malle Ngiddi Mawinne/Kedu Ngiddi Mawinne” dalam bahasa Loli.

Meriana menjelaskan, kejadian seperti ini, dulu lebih banyak terjadi pada saat acara adat “Wulla Poddu” pada bagian acara “Kalango” yang diadakan setiap tahun pada bulan Oktober (tetapi bukan tradisi, orang hanya memanfaatkan momen pada saat acara adat karena pada saat itulah masyarakat berkumpul dan saling bertemu) dan kadang-kadang terjadi pada kehidupan sehari-hari.

Lain halnya lagi dengan kawin paksa, dimana perempuan dijodohkan dengan laki-laki pilihan orang tua. Sehingga istilah “kawin tangkap (yoppa)” berbeda konteks dengan “bawa lari perempuan (Malle Ngiddi Mawinne/Kedu Ngidi Mawinne)”dan juga berbeda dengan ‘kawin paksa’,” tuturnya.

Lebih lanjut Meriana mengatakan, video yang viral yang ramai dibahas akhir-akhir ini bukan kawin tangkap (Yoppa) atau kawin paksa melainkan “Malle Ngidi Mawinne/Kedu Ngiddi Mawinne” (bawa lari perempuan).

Dan biasanya penyebutan istilah kawin tangkap, bawa lari perempuan dan kawin paksa berbeda-beda di masing-masing daerah di pulau Sumba tergantung bahasa daerah masing-masing namun memiliki konteks yang sama. “Misalnya penyebutan bawa lari perempuan dalam bahasa Wewewa yaitu “Padeta Mawinne”. Berbeda lagi penyebutannya dalam bahasa Kodi, Lamboya, Sumba Timur, Anakalang karena di Sumba punya kekayaan bahasa daerah yang beragam,” tutup Meriana.

Menanggapi video yang viral itu, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia (PPPA RI), Bintang Puspayoga, turun tangan dan menyatakan prihatin terhadap praktik kawin tangkap hingga Menteri PPPA RI itu berkunjung ke Sumba pada beberapa pekan lalu untuk membahas permasalahan praktik kawin tangkap. (AG/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan