oleh

Ronggo Niki Tempat Sembunyi Para Gadis Masa Penjajahan Jepang

RADARNTT, Borong – Ronggo Niki, situs bersejarah tempat persembunyian para gadis pada masa penjajahan Jepang. Jejak peninggalan kolonialis itu masih membekas di desa Ruan, kecamatan Kota Komba, kabupaten Manggarai Timur, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Bejatnya penjajahan kolonialis Jepang pada masanya sangat dirasakan oleh masyarakat pribumi kampung Gurung desa Ruan. Hal tersebut terbukti dengan situs bersejarah liang (gua) Ronggo Niki.

Pada masa penjajahan kolonialis, para gadis dan ibu ibu serta anak disembunyikan dalam gua Ronggo Niki, demikian kata Lukas Hambur, tetua adat (tua teno) Gendang Niang Mongko, dusun Gurung, desa Ruan, kecamatan Kota Komba saat penelusuran fakta, Minggu (10/10/2020).

“Pada jaman itu dulu, para gadis dan ibu-ibu serta anak-anak lari dan bersembunyi di dalam liang Ronggo Niki tersebut agar tidak terbunuh oleh penjajah bejat,” tutur Lukas.

Di dalam Gua bawah tanah tersebut terdapat peninggalan para leluhur berupa periuk tanah. “Di dalam kedalaman kurang lebih dua puluh meter, terdapat ruang tempat penampungan para perempuan perempuan naas itu,” lanjut Lukas.

“Semua istri, para gadis dan anak anak dari para pejuang yang melawan bejatnya para penjajah akan dimasukan dan disembunyikan di dalam gua Ronggo Niki,” tandasnya.

Ronggo Niki merupakan cagar budaya yang memiliki kisah sejarah. Selain bersejarah tempat persembunyian para gadis, lanjut Lukas Hambur, dihamparan seluas 10 hektar tersebut juga memiliki tempat bersejarah seperti benteng atau Mesbah tempat berdiskusi para pejuang dalam menyusun strategi perlawanan dan danau kering atau bekas danau, dan juga bongkahan tanah sarang atau tempat bertelurnya burung maleo.

“Selain gua Ronggo Niki, di sekitarnya juga terdapat peninggalan bersejarah berupa benteng dan Mesbah tempat diskusi para leluhu,” tutur Lukas Hambur.

Dikisahkan Lukas, tempat Benteng atau Mesbah merupakan tumpukan batu yang dibentuk menyerupai tempat diskusi para pejuang.

“Di lokasi ini juga, terdapat danau kering atau danau yang akan berair disaat musim penghujan, dan juga masih terdapat banyak burung maleo, dan tumpukan tanah, sarang burung maleo,” jelas Lukas.

Terpisah, kepala desa Ruan Sebastianus Jangga, kepada media ini mengatakan bahwa hal tersebut benar adanya. Dahulunya, kata Sebastian, wilayah situs bersejarah gua Ronggo Niki merupakan wilayah hutan adat yang sangat dilindungi terletak di dusun gurung.

Hutan seluas kurang lebih 10 hektar tempat situs bersejarah itu telah diserahkan kepada pihak pemerintah daerah untuk diperhatikan dan di kelola dengan baik.

“Setelah penyerahan kepada pihak pemerintah kabupaten, pada tahun 2017 ada kunjungan utusan dari menteri pariwisata, dinas pariwisata provinsi NTT, dan dinas pariwisata kabupaten Manggarai Timur, dalam rangka mensurvei lokasi situs bersejarah itu,” tandas Jangga.

Dikatakannya, setelah penyerahan kepada pihak pemerintah kabupaten, pemerintah sempat berjanji untuk mendorong meningkatkan kualitas tempat bersejarah tersebut menjadi sebuah obyek wisata.

“Namun, hingga kini pemerintah belum merealisasikan janji itu,” tandasnya.

Apabila obyek wisata bersejarah Ronggo Niki itu dikelola dengan baik, kata Jangga, akan mendorong dan dapat menggerakkan seluruh sektor yang berpotensi, seperti pertanian, perdagangan, peternakan, UMKM, dan lain-lain.

Penelusuran radarntt.co, Minggu (10/10/2020) siang, untuk menjangkau daerah pariwisata Ronggo Niki desa Ruan, dari ibu kota kabupaten Manggarai Timur berjarak kurang lebih 7 kilo meter.

Sarana dan prasarana seperti jalan, listrik dan air minum bersih sangat tidak mendukung. Desa yang berbatasan langsung dengan ibu kota kabupaten Manggarai Timur tersebut memiliki jalan rusak bekas aspal yang tidak terawat, belum dialiri listrik, dan juga air minum bersih yang sangat susah.

Marten Paini (37) pemilik UKM maubel di desa Ruan kepada media ini mengungkapkan, kondisi desa yang belum dialiri listrik, sangat menghambat sektor UMKM. Terutama sejumlah usaha UKM seperti meubel hingga saat ini masih menggunakan peralatan manual.

“Kami sangat membutuhkan listrik. Semenjak Indonesia merdeka sampai sekarang, desa kami belum pernah dialiri listrik,” ungkap Marten.

Selain sektor UKM, sektor pertanian dan peternakan juga sangat berpotensi untuk dikembangkan di desa tempat terdapatnya situs bersejarah yang akan dijadikan aset wisata Roggo Niki itu. (GN/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan