oleh

Rumah Adat Lakatuil Bampalola Situs Peninggalan Sejarah

-Alor, Daerah-574 views

RADARNTT, Kalabahi – Pemeritah Republik Indonesia melalui Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala sejak 1985 telah menetapkan Rumah Adat Lakatuil, Desa Bampalola, Kecamatan Alor Barat Laut, Kabupaten Alor sebagai salah satu situs peninggalan sejarah dan budaya dengan Tradisi Makan baru Bate dan Ala Baloe atau Ritus Makan Baru Jagung dan Padi.

Demikian Bupati Alor, Amon Djobo diwakili Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan SDM, Osias Gomangani, dalam sambutannya pada acara yang berlangsung di Tulagadong, Kampung Lama Desa Bampalola, Sabtu (20/6/2020) siang.

Pada upacara yang melibatkan Unsur Forkopimda Alor, di antaranya: Dandim 1622, Letkol (Inf) Supyan Munawar, Ketua Pengadilan, Dody Rahmanto, Wakil Ketua DPRD, Soleman Singsh, Wakapolres, Muhamadjid Kossah, dan para istri pejabat tersebut.

Staf Ahli Gomangani menyebutkan, bahwa Pemerintah Pusat menerima baik upaya yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Alor untuk mengembangkan Rumah Adat Lakatuil-Bampalola dengan segara bentuk dan corak rumah adat, sejarah para pemimpin adat dan sejumlah tradisi yang masih terpelihara dengan baik itu untuk dijadikan salah satu objek situs purbakala oleh Pemerintah Pusat di Jakarta.

Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi keputusan Pemerintah Pusat itu, menurut Mantan Kabid Destinasi Dinas Pariwisata adalah tradisi makan baru hasil kebun jagung dan padi yang sudah secara rutin dari tahun ke tahun diselenggarakan.

Upacara adat tersebut, masih Gomangani merupakan sebuah ucapan syukur dari masyarakat komunitas adat Bampalola yang berada di sebuah bukit tersendiri dengan pemandangan alam Teluk Kabola yang teduh.

Dirinya mengaku, bahwa ketika menjabat sebagai Kepala Seksi di Dinas Parawisata bersama-sama Dinas dan Pihak Kecamatan Alor Barat Laut berhasil medatangkan Program Rabat Jalan dari Kementrian Desa PDTT, yang sekarang ini digunakan menuju Desa Adat tersebut.

Selain upacara adat yang masih sangat sakral tersebut, setiap suku memiliki rumah adat masing-masing suku, antara lain: suku raja (Afen Lelang), Suku Kapitang (Lamuil Lelang), dan Suku Marang (Alemate dan Foebe). Pula dengan sub-sub suku dengan nama bangunan rumah adat masing-masing.

Kampung Bampalola itu sendiri, lanjut Gomngani, merupakan kampung pemali berdasarkan nama dan hal tersebut terus terjaga dengan tidak sembarangan mengeluarkan kata-kata, sehingga siapa pun yang mengunjungi kampung tersebut harus menjaga diri dalam berkomunikasi di antara pengunjung maupun masyarakat setempat.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Alor, Soleman Singsh, SH dalam sambutannya meminta agar masyarakat dan desa bisa melihat peluang kebudayaan tersebut menjadi aset pariwisata dengan jalan menjual paket wisata yang akan dibeli oleh para wisatawan baik domestik maupun manca negara. Karena hal-hal unik dan tradisional sangat diminati para wisatawan dengan kondisi alam yang ada, termasuk dengan wisata gunung atau hiking dan sport tourism (Wisata Olah Raga).

Di tempat yang sama, Dandim 1622 Alor, Letkol (Inf) Supyan Munawar, S.Ag, dalam sambutannya meminta masyarakat tetap menjaga keamanan dan kenyamanan agar para pengunjung bisa betah menikmati pesona wisata budaya dan alam yang sangat luar biasa.

Dandim yang hadir bersama istri yang juga Ketua Persit Chandara Kirana tersebut, meminta masyarakat juga menjaga nilai-nilai luhur yang selaras dengan Pancasila dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Ia pun memberikan motivasi agar anak-anak Bampalola juga bisa mengenyam pendidikan tinggi dengan cara belajar sungguh-sungguh sehingga menjadi pemimpin daerah sebagaimana dirinya pun berada di daerah Alor dari daerah Jawa Timur. Untuk itu, ke depan orang Alor pun bisa menjadi pemimpin di daerahnya sendiri.

Dari Tula Gadong, Kampung Lama Bampalola, upacara berlangsung pada pagi sekira jam 11.00 Wita hingga pukul 15.00 dimulai dengan penerimaan tamu di pintu masuk kampung, dihantar ke rumah pertama dengan mencicipi minuman kopi, teh dan kue-kue buatan para mama. Rombongan kemudian menuju pelataran Rumah Raja di hadapan para tetua adat dengan benda pusaka moko dan gong.

Acara sambutan dan kemudian dilanjutkan dengan upacara adat di mana pertama-tama seorang tua adat didaulat oleh raja untuk memukul gong di atas mezbah mengumumkan sebuah hal terkait Upacara Adat Makan Baru dalam Bahasa Daerah, kemudian masing-masing kelompok suku menghantarkan hasil usaha berupa padi, ikan dan sirih pinang untuk diatur di dalam rumah raja (Lakatuil).

Setelah itu, dari satu rumah induk tersebut, kelompok-kelompok suku dan sub suku menghantarkan persembahan makanan dan bawaan lainnya, termasuk di depan membawa serangkai pinang muda dan sebatang tebu dan diserahkan kepada Suku Kapitan untuk diproses selanjutnya.

Selanjutnya makan baru bersama di mana semua rumah yang kurang lebih berjumlah 20 buah disediakan makan dan minum bersama secara bebas memilih dan setiap tamu yang datang selalu diundang ke setiap rumah tersebut untuk mencicipi bersama.
Sebagaimana pengalaman di lokasi kegiatan, suguhan nasi merah dan daging ayam serta sayur mayur disediakan dalam makan bersama. Setiap piring dan nasi disediakan bersama dengan penuh piring, namun bila yang tidak sanggup menghabiskannya bisa meminta untuk dibagikan ke piring lain.

Kegiatan ini diadakan rutin setiap tahun bagi keluarga Bampalola di mana saja berada dan bagi masyarakat umum. Jarak antara Kalabahi, Ibukota Kabupaten Alor menuju Desa Bampalola ke arah barat sekitar 15 km dan mendaki gunung selama 15 menit dengan kenderaan roda empat atau pun roda dua. (Gabriel L. Tang/ Kasubag Komunikasi Pimpinan Setda Alor)

Komentar

Jangan Lewatkan