oleh

Sekolah Alam Manusak Kembangkan Pembelajaran Ekologi-Edukasi Wisata

RADARNTT, Oelamasi – Sekolah Alam Manusak Kabupaten Kupang bekerja sama dengan Perkumpulan Samdhana Institute Indonesia dan Yayasan Rumah Solusi Beta Indonesia (RSBI) NTT mengembangkan konsep ekologi-edukasi wisata memanfaatkan media alam.

Pada kegiatan Sosialisasi “Media Belajar dengan Bahan Lepasan untuk Mendukung Eco- Edu Wisata di Sekolah Alam Manusak”, Selasa, (14/7/2020), Direktur Yayasan RSBI NTT, Yahya Ado, sekaligus pendiri Sekolah Alam Manusak mengatakan konsep edukasi Sekolah Alam Manusak ini sebagai sebuah inovasi belajar dengan media alam, mengajak generasi kembali ke alam mereka untuk hidup yang lebih bermartabat.

Sekolah Alam Manusak memiliki visi ‘untuk menciptakan generasi berkarakter, peduli dan saling mencintai terutama di era revolusi industri 4.0 bagi anak dan masyarakat’. “Prinsip kami bagaimana mengemas lingkungan sekitar untuk anak belajar, apa yang ada disekitar atau alam dapat kita kemas menjadi suatu media pembelajaran anak,” kata Ado.

Media pembelajaran yang kami gunakan, lanjutnya, ialah barang-barang bekas milik masyarakat yang sudah tidak terpakai lagi. Barang-barang bekas itu seperti: botol plastik, aqua gelas, botol bekas oli, jerigen dan beberapa alat dapur yang sudah tidak terpakai lagi di rumah.

Daripada barang bekas dibuang lalu mengakibatkan penumpukan sampah di masyarakat karena sulit terurai, bahan-bahan ini dijadikan sebagai alat bantu peraga dan ada pula yang dibuat sebagai pot bunga dan tanaman. Ada juga kayu-kayu bekas, ban bekas dan mainan anak-anak yang sudah tidak terpakai, dijadikan tempat duduk dan meja belajar.

“Kami membuat pelatihan bagi para pengajar terutama guru-guru PAUD dan SD agar bisa memanfaatkan barang bekas tersebut untuk dijadikan alat bantu pembelajaran bagi siswa. Kita tidak perlu keluarkan biaya lebih karena disekitar kita atau lingkungan kita bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kapasitas anak-anak dalam belajar. Mudah dan murah lalu sangat membantu lingkungan kita dari permasalahan sampah yang ada,” jelas Ado.

Lebih lanjut Ado mengatakan, pola pembelajaran ini juga sebagai upaya meningkatkan rasa cinta anak-anak terhadap diri, sesama dan lingkungan sebagai wujud syukur pada ciptaan Tuhan.

“Disini juga kami ada PAUD Manusak dengan beberapa tenaga pengajar yang harus saya akui sebagai pendiri dan Direktur Yayasan, mereka memiliki kapasitas yang sangat baik sebagai tenaga pendidik. Ke depan kita akan mengemas pembelajaran berdasarkan hobi dan kemauan anak-anak,” imbuhnya.

Sehingga ke depan akan dikembangkan spot-spot khusus untuk hal itu, tandas Ado. “Kita berencana membuka event-event setiap minggu di sini dan kami terbuka bagi pihak manapun yang mau datang belajar apalagi disini kami juga mengembangkan pelatihan-pelatihan bagi guru-guru PAUD, SD dan bagi masyarakat,” ujarnya.

Kepala Desa Manusak, Arthur Ximenes, menyampaikan apresiasi atas terobosan inovasi pembelajaran yang dilakukan di Sekolah Alam Manusak dan akan bekerja sama dengan pihak Yayasan untuk menjadikan Sekolah Alam Manusak sebagai tempat belajar bagi masyarakat.

“Dari pihak desa kedepannya bersama pak Yahya, kami harapkan tempat ini menjadi tempat belajar bagi masyarakat di Kabupaten Kupang. Tentunya jika ada kegiatan lainnya, kami akan selalu mensupport, bila perlu untuk melibatkan pemerintah daerah atau kepala daerah,” tegasnya.

Ximenes juga menegaskan untuk pembelajaran dan pelatihan di Sekolah Alam Manusak ini selalu dalam protokol kesehatan. “Kami yakin tempat ini akan menjadi tempat bermain, berwisata dan belajar yang aman untuk dikunjungi oleh siapapun,” harapnya. (YN/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan