oleh

SMAN 5 Kupang Siap Hadapi Perbedaan Penerapan KBM di Masa Tatanan Normal Baru

RADARNTT, Kupang,– Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Timur Benyamin Lola ungkapkan perbedaan penerapan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di masa tatanan normal baru sesuai situasi Covid-19.

Benyamin Lola kepada media ini usai membuka kegiatan In House Training di SMAN 5 Kupang, Senin, (13/7/2020), mengatakan, proses pendidikan dalam masa tatanan normal baru ada perbedaan perlakuan untuk wilayah yang masuk dalam zona hijau, kuning, oranye dan merah.

“Untuk zona hijau, itu bisa dilakukan tatap muka, tetapi secara terbatas yang mana ada aturan-aturannya. Kemudian untuk zona kuning, oranye dan merah itu tidak diperkenankan pelaksanaan proses pembelajaran tatap muka,” ujarnya.

Benyamin menjelaskan bahwa pembelajaran tatap muka yang dimaksudkan pada zona hijau itu juga ada pembatasan, yang mana pembatasannya maksimal 50 persen jumlah kelas yang hadir.

“Hal ini sebagai upaya agar kita bisa menerapkan protokol kesehatan. Baik itu jarak fisik maupun jarak sosial yang memungkinkan untuk tidak terjadinya proses penularan. Kalau seandainya ada warga belajar atau warga sekolah yang mungkin terinfeksi tetapi masuk kategori orang tanpa gejala. Maka bisa dihindari atau diputus mata rantainya dalam proses penularan Covid-19,” jelasnya.

Sedangkan untuk zona kuning, oranye dan merah, lanjutnya, akan diperlakukan sama dimana proses pembelajaran tetap dilakukan secara dalam jaringan (daring) atau diluar jaringan tergantung kesiapan sekolah dalam hal ini kondisi guru serta siswa.

“Jadi kalau guru dan siswa pembelajarannya memungkinkan untuk daring maka prosesnya dilakukan secara daring. Tapi kita tidak paksakan untuk semua siswa itu harus daring kalau kondisinya tidak memungkinkan untuk daring,” ungkapnya

Kepala SMAN 5 Kupang, Veronika Wawo, kepada media ini mengatakan bahwa untuk SMAN 5 sudah sangat siap menghadapi perbedaan penerapan KBM di masa tatanan normal baru ini.

“SMAN 5 sendiri dari bulan maret 2020 sejak pandemi covid-19 ini melanda, proses pembelajaran yang dipakai adalah dalam jaringan (daring). Sistem pembelajaran untuk SMA 5 menggunakan aplikasi WA google forms dan itu sudah dilakukan,” ungkapnya.

Menurut Veronika, banyak aplikasi yang ditawarkan kepada sekolah. Akan tetapi untuk aplikasi masih harus dipelajari lagi agar bapak ibu guru mengerti lebih dahulu. Tujuannya agar dalam menggunakan aplikasi tidak terjadi tumpang tindih antara berbagai aplikasi yang ada sekarang ini.

Lebih lanjut, Veronika mengatakan, di SMAN 5 juga metode yang digunakan dalam proses pembelajaran adalah berbentuk video. Yang mana pemanfaatannya untuk pembelajaran bagi peserta didik.

“Bapak ibu guru harus membuat video sesuai dengan proses KBM dan proses pembelajaran yang diberikan lalu guru mengirimkan video pembelajaran kepada peserta didik agar pembelajaran berjalan efektif,” jelasnya.

Kendala yang muncul sejak dijalankan sistem pembelajaran daring, ungkapnya, masih soal kuota internet untuk siswa karena banyak yang tinggal dengan penampung atau keluarga.

“Ujian akhir semester kemarin untuk kelas XI san XII kita bagikan kuota pulsa internet Rp 100.000 dengan menggunakan dana BOS. Ujian dilakukan selama satu minggu dan siswa menggunakan google forms dan hasilnya baik,” ungkapnya. (DN/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan