oleh

Tradisi ‘Tena’, Rajut Toleransi di Bibir Pantai Cepi Watu Borong

RADARNTT, Borong – Tradisi Tena warisan leluhur masih dihidupi hingga kini oleh masyarakat suku Ende yang tinggal menetap di pesisir pantai Cepi Watu, desa Nanga Labang, kecamatan Borong, Manggarai Timur, NTT sejak sekitar tahun 1960-an.

Ahmad Husein (45) salah satu nelayan di tempat itu, kepada media ini menceritakan bahwa hubungan suku Ende yang menetap dengan masyarakat lokal dalam berinteraksi sangat baik dan nyaman. Berada di tengah masyarakat sebagai minoritas, lanjut Ahmad, masyarakat suku lain sangat menghargai suku Ende, begitu pun sebaliknya.

“Rata-rata kami disini berkeyakinan muslim, dalam menjalankan ibadah kami juga sangat nyaman dan dihargai oleh orang lain yang merupakan masyarakat asli di Nanga Labang ini,” tutur Ahmad, saat ditemuai media ini di Pantai Cepi Watu, Selasa pagi (17/11/2020).

Dikisahkannya, bila hari raya agama tiba, baik lebaran atau pun hari raya natal juga keluarga saling kunjung mengunjung dan mengucapkan salam dan saling menjunjung tinggi nilai toleransi.

Masyarakat suku Ende di Cepi Watu mayoritas bermatapencaharian sebagai nelayan. Mereka mewarisi tradisi para leluhur dalam merajut toleransi. Ahmad mengatakan, Tena adalah kegiatan bergotong royong yang sering dijumpai dan dilakukan di sepanjang pantai Cepi Watu desa Nanga Labang.

Ahmad menceritakan, setiap subuh sekitar pukul 03.00 para nelayan melaut dan sekitar pukul 09.00 pagi pulang membawa hasil tangkapan. Saat itu, panorama bibir pantai selatan yang eksotis itu semakin lengkap dengan suasana kekeluargaan tergambar dari kehadiran para kerabat dan keluarga menanti untuk membantu.

Mereka beramai-ramai, bahu membahu tanpa pandang suku, ras dan agama mengangkat sampan (perahu) milik nelayan dari bibir pantai menuju tempat parkir, sehingga pribahasa “berat sama dipikul, ringan sama dijinjing menjadi aktual disini.

Di sela waktu menunggu para nelayan pulang, Oskar Samuel Mahulete, warga Kampung Golo, desa Nanga labang, kepada media ini mengatakan, membina hubungan kekeluargaan dengan masyarakat suku Ende itu sudah berlangsung lama bahkan sejak jaman nenek moyang dulu.

“Tak hanya dari kampung saya, dari kampung Jati, Jawang, Toka dan sekitarnya juga turut ikut gotong royong atau TeIna ini. Setelah kita membantu mereka angkat sampan, mereka mengapresiasi kita dengan memberi kita ikan,” ucap pria yang kerap disapa Samuel.

Terkadang mereka tidak mendapatkan hasil, tentu kita tidak bisa menonton, karena ini bagian dari tradisi leluhur. Lanjut Samuel, kita juga tetap saling membantu walaupun tidak mendapat hasil tangkapan.

“Hubungan yang sudah lama dibina antara suku dan masyarakat asli dan suku Ende ini sangat dijaga dan saling menghormati tanpa pandang suku ras dan agama,” ungkap Samuel.

Tak jarang para nelayan tidak mendapat hasil tangkapan, hal itu disebabkan oleh peralatan yang masih sederhana.

Terpantau media ini, saat mengunjungi tempat dimana Tena itu berlangsung, terdapat puluhan orang dan para nelayan sedang bahu membahu mendaratkan belasan sampan tanpa mesin diparkir di pinggir pantai.

Bermodalkan peralatan sederhana, para nelayan bersama masyarakat bergotong royong dan merajut toleransi.

Daeng Husen (47) Ketua RT 08 Cepi watu mengatakan bahwa hal itu sangat membuatnya bangga dan merasa senang sebagai warga minoritas di tengah masyarakat lain.

“Saya sangat bangga dan senang berada di keluarga besar Nanga Labang yang selalu menjunjung nilai kerukunan dan toleransi,” ujar Daeng.

Dikatakannya, warga suku Ende di Cepi Watu RT 08 ada kurang lebih 40 kepala keluarga dan jumlah warga kurang lebih 180 orang, selain itu ada juga warga suku asli Manggarai.

“Selain sebagai tempat mencari nafkah, Pantai Cepi Watu juga mengajarkan kami merajut kebersamaan melalui Tena,” lanjutnya.

Ia mengatakan, warga suku Ende bekerja sebagai nelayan, namun masih menggunakan peralatan seadanya. Agar hasil tangkapan banyak, para nelayan membutuhkan bantuan berupa mesin penggerak sampan dan alat penangkap ikan yang memadai. (GN/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan