oleh

Umat Muslim dan Protestan Dukung Pembangunan Kapela Santo Yoseph Lawahing-Alor

-Alor, Daerah-14.805 views

RADARNTT, Kalabahi – Pastor Paroki Yesus Gembala Baik, Kalabahi, RD. Marselinus Seludin, Pr sangat mengapresiasi umat muslim dari Mesjid Tinahing dan Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) Buuta, Desa Lawahing, Kecamatan Kabola yang turut berpartisipasi aktif membangun kapela gereja katolik roma di Hadatuwu, lokasi antara Kampung Tinahing dan Buuta di Pegunungan Lawahing, Sabtu (25/7/2020) pagi dalam Acara Peletakan Batu Perdana oleh Pastor Paroki, Romo Marsel.

Kegiatan dimaksud diawali dengan ibadah singkat dan dilanjutkan dengan pencoran tiang-tiang utama, yang dihadiri pula oleh Susteran SSpS Tombang, Tokoh Umat Kristen dan Islam, keterwakilan Kelompok Umat Basis se-Paroki dan Umat Kapela Santo Yoseph Hadatuwu Lawahing.

Dalam homili singkat Romo Marsel berpesan agar selalu menjaga kebersamaan yang pernah juga ditunjukan oleh para leluhur yang diwarisi hingga saat ini.

“Mari Kita Terus Menjaga Kebersamaan,” ajak Romo Marsel.

Sebagaimana umat paroki mengetahui jiwa kerja “Sang Gembala” mereka, maka selesai doa dan pemberkatan serta peletakan batu pertama yang diambil dari bekas batu perdana kapela tempo dahulu guru agama Yoseph Kudja dari Kampung Tongbang Lama, maka wadas itulah yang dijadikan titik awal pendirian kapela dengan lebih luas sesuai kebutuhan belasan Kepala Keluarga.

Acara pembangunan dan peletakan batu pertama diawali dengan proses pembentukan panitia dari Pastor Paroki dengan melibatkan umat protestan dan Islam asal Lawahing di Kalabahi dan Kampung Lawahing dengan tugas swadaya mengumpulkan dana dan material selama kurang lebih sebulan aktif kembali setelah sebelumnya terjadi Pandemi Covid-19.

Selanjutnya, pada H minus 1 atau pada Jumad (24/7/2020) pagi hingga sore ada “tahulu,” – antaran material atau natura dari keluarga katolik dan umat gereja sekitar hingga Desa Otvai, Kecamatan Alor Barat Laut.

Pada sore jelang malam diadakan acara ritual adatiah membangun Rumah Tuhan, yang dalam bahasa setempat disebut LAHATALA dengan simbol ayam jantan merah dari tetua suku.

Malam harinya diadakan lego-lego dan tari-tarian serta pantun yang membangkitkan gairah dan semangat bersatu untuk bekerja yang tidak melebihi larut malam.

Usai ibadah dan di saat bekerja pun gong dan tambur tetap mengiringi langkah kaki beberapa putaran lego-lego yang menyemangati para pekerja secara gotong royong berbaur semua golongan dan agama.

Dengan sukacita semuanya bekerja hingga pilar utama selesai dicor. (Gabby L. Tang/ Seksi Dokumentasi).

Komentar

Jangan Lewatkan