oleh

Warga Ekoroka kesal Pemdes tagih iuran air minum di tengah pandemi

RADARNTT, Bajawa – Warga Desa Ekoroka, Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada, NTT menyesalkan sikap pemerintah desa (Pemdes) yang masih saja menagih iuran air minum desa ke warga di tengah suasana pandemi virus Corona.

Nilai penarikan beban dan pemakaian air minum dalam bentuk biaya dibebankan kepada setiap keluarga sebesar Rp 5.000 per meter kubik dan ditambah biaya beban Rp 3.000. Jadi, total per keluarga sebesar Rp 8.000. Biaya tersebut berbeda dengan warga luar desa Ekoroka yang menetap di wilayah perbatasan namun menggunakan air di Desa Ekoroka dikenakan biaya sebesar Rp 1.500.000.

Kepada media ini via seluler, Jumat, (24/4/2020), Anggelina Mogi salah satu warga Ekoroka mengatakan aturan iuran air minum per kubik Rp 5.000 dan biaya beban dan administrasi Rp 8.000. Sehingga warga gunakan air atau tidak tetap membayar sebesar Rp 8.000.

“Berdasarkan informasi sebelumnya yang sempat kami dengar katanya meteran air hitungan kubik itu diuji coba selama tiga bulan. Namun, kenyataannya berjalan baru dua minggu, pemerintah desa sudah turun dari rumah ke rumah untuk tagih,” ungkap Anggelina.

Ia menambahkan, ada salah satu warga yang bangun rumah permanen. Namun, belum tinggal karena rumah tersebut belum dipasang pintu. “Anehnya, iuran air minum tersebut ditagih sebesar Rp 118.000 karena hitungan hampir 18 kubik,” kata Anggelina.

Anggelina berharap dengan adanya penagihan tarif iuran air minum saat ini, pemerintah desa bisa mengerti dengan situasi masyarakat sedang sulit untuk mendapatkan uang bahkan makan saja sulit, karena wabah corona saat ini benar benar mematikan ekonomi masyarakat.

Sementara itu, Kepala Desa Ekoroka Petrus Dopo ketika dihubungi mengatakan bahwa beberapa hari lalu, ada masyarakat yang dipimpin oleh ibu Anggelina menghadap ke kantor.

“Sebenarnya, kami tidak melayani kehadiran sejumlah masyarakat karena jelas melanggar maklumat Kapolri dan aturan pemerintah terkait wabah Covid-19. Namun, karena atas kesepakatan bersama kami tetap melayani,” kata Kades.

Dijelaskannya bahwa Kedatangan masyarakat terkait tidak puas terhadap tarif iuran air minum desa. “Terkait pungutan per kubik Rp 5.000 itu, dan Rp 1.500.000 untuk warga luar desa atas kesepatan bersama masyarakat sebelumnya,” ungkap Petrus Dopo.

Atas polemik tersebut, Camat Golewa Kanisius Logo mengatakan bahwa pihaknya sudah memanggil Kepala Desa untuk dimintai penjelasan duduk masalahnya.

“Saya sudah panggil kepala Desa Ekoroka, saya sudah sampaikan terkait biaya iuran tersebut untuk saat ini jangan dulu lakukan pungutan dari rumah ke rumah. Karena wabah virus corona sudah melemahkan ekonomi masyakat,” tutur Camat Golewa.

Camat menyarankan agar setelah wabah virus berakhir, Kepala Desa menghadirkan seluruh masyarakat dan membahas secara terperinci terkait iuran air minum dan mengambil kesepakatan bersama. Sehingga tidak terjadi lagi hal seperti ini. (FX/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan