oleh

Yatim Sejak SMP, Kini Bertarung di Pilkada Sumba Timur

RADARNTT, Waingapu – Pria berkumis tebal terlihat duduk di teras rumah berdinding kayu. Di hadapannya duduk seorang perempuan tua berambut putih yang mengenakan sarung biru dan baju putih. Keduanya duduk di atas tikar yang ujungnya sedikit tergulung.

Jemari tangan kiri Khristofel Praing, pria berkumis tebal itu, tampak memegang lengan kanan perempuan tua di depannya. Dia juga menepuk-nepuk bahu perempuan yang tak lain adalah ibunya, Rambu Hoy Mila Meha.

Khristofel adalah Calon Bupati Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang turut bertarung pada perhelatan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Sumba Timur 2020. Dia berpasangan dengan David Melo Wadu sebagai calon Wakil Bupati. Mereka mengusung tagline SEHATI.

Pasangan dengan nomor urut 1 ini diusung dan didukung oleh 10 partai politik. Tujuh partai diantaranya merupakan partai yang memiliki kursi di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumba Timur, yakni PDI Perjuangan, NasDem, PAN, Hanura, Demokrat, Gerindra dan PKPI. Sementara tiga parpol lainnya tidak memiliki wakil di DPRD, yakni PPP, PKS dan Partai Beringin Karya (Berkarya).

Yatim Sejak Remaja

Perjalanan hidup Khristofel untuk menjadi seperti sekarang ini tidak mudah. Anak keempat dari delapan bersaudara ini sudah menjadi anak yatim sejak remaja, tepatnya sejak masih berusia 14 tahun. Ketika itu sang ayah, Umbu Jabu Anggung Praing meninggal dunia. Khristofel yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP) itu pun harus menghadapi masa-masa sulit.

“Ayah meninggalkan kami ketika saya masih duduk di bangku SMP umur 14 tahun. Saat itu kami mengalami masa-masa sulit,” kata dia kepada Tagar, Minggu 18 Oktober 2020.

Semenjak sang ayah menghadap sang khalik, ibunya, Rambu Hoy Mila Meha berperan ganda sebagai ibu dan sebagai ayah. Tentu saja itu bukan hal yang mudah. Namun kesabaran, kesederhanaan, dan kerja keras sang ibu mampu mengantar Khristofel bersaudara meraih gelar sarjana.

“Dari delapan bersaudara, S2 ada lima orang, S1 ada dua orang dan D3 ada satu orang,” ujar mantan Kepala Dina’s Kependudukan dan Catatan Sipil Sumba Timur itu.

Khristofel menyadari, segala yang diraihnya hingga saat ini merupakan hasil kerja keras dan doa sang ibu. Ibunya begitu tegar sekalipun dia lelah, meski di hadapan anak-anaknya sang ibu tidak pernah mengeluh atau menunjukkan bahwa dia lelah.

Semua karena kuasa Tuhan. Tuhan maha adil, ketika ayah meninggal dunia. Tuhan berikan kami seorang ibu yang sederhana dan pekerja keras.

Setelah sang ayah meninggal. Khristofel tetap melanjutkan sekolahnya di di SMP Kristen Payeti dan lulus pada tahun 1982. Setelah itu dia melanjutkan sekolah di SMAN 1 Waingapu dan tamat pada tahun 1985.

Kris, sapaan akrabnya, kemudian melanjutkan pendidikan D-3 Pemerintahan di APDN Kupang (1989), kemudian mendapat gelar Sarjana (S-1) di IIP Jakarta (1995) dan meraih gelar Master (S-2) di Universitas Padjajaran Bandung (1999).

Pria kelahiran Sumba Timur, 16 November 1965 itu menikah dengan Merliaty dan dikarunia empat anak, yaitu dr. Grace Eka Putri Rambu Hoy Anggung Praing, S.Ked; dr Umbu Yabu Anggung Praing, S.Ked; Rambu Konda Anggung Praing, yang merupakan anggota komisi IV DPRD Provinsi NTT periode 2019-2024 dari PAN; dan Umbu Yiwa Hukapati Alboin Anggung Praing.

Keluar dari Zona Nyaman

Sebelum mencalonkan diri sebagai bupati, Kris adalah seorang aparatur sipil negara (ASN) dengan jabatan terakhir Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Sumba Timur. Dia baru akan memasuki masa pensiunnya lima tahun mendatang.

Namun Kris dengan yakin meninggalkan zona nyaman sebagai kepala dinas tersebut. Dia mengundurkan diri dari posisinya sebagai pegawai negeri sipil (PNS). Salah satu alasannya adalah dia menyelesaikan pendidikan dengan biaya dari negara. Maka dia harus berbuat sesuatu untuk negaranya, termasuk untuk warga Kabupaten Sumba Timur.

“Saya menyelesaikan pendidikan dibiayai oleh negara. Maka ketika dalam refleksi saya ada pertanyaan Khristofel apa yang kau buat untuk rakyat Sumba Timur,” ujar dia.

Dikatakannya, niat menjadi bupati sudah terpatri sejak Khris menjabat sebagai lurah. Niatnya disampaikan dalam doa dengan penuh iman, harapan dan kasih. Semua doa itu terjawab dan terbukti dalam perjalan karirnya hingga saat ini.

“Sejak jadi lurah saya selalu berdoa agar menjadi pemimpin, dan saya juga berdoa agar bisa menjadi wakil atau Bupati Sumba Timur,” kata dia.

Ia mengaku pernah menjadi Calon Wakil Bupati Sumba Timur, namun gagal. Belajar dari kegagalannya Khris tidak mau lagi menjadi calon wakil bupati tetapi menjadi bupati.

“Ada yang tawar saya agar menjadi wakil, namun saya tolak. Lebih baik saya tidak mencalonkan diri kalau hanya jadi wakil bupati. Saya harus jadi calon bupati,” ucapnya tegas.

Saat menjadi PNS, Kris pernah menjabat sebagai Lurah Prailiu (1991), Kasubag Tata Pemerintahan Umum pada bagian Tata Pemerintahan Setda Kabupaten Sumba Timur (1996), Camat Pandawai (2001), Kepala Bagian Organisasi Setda Kabupaten Sumba Timur (2002). Kepala Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Sumba Timur (2009), Staf Ahli Bupati Bidang Pemerintahan Kabupaten Sumba Timur (2011) dan Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (2013-2020 dan sudah mengundurkan diri dari PNS).

Perjuangannya untuk masyarakat Sumba Timur sebenarnya sudah terlihat sejak dirinya masih menjabat sebagai Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil. Saat itu Kris menjadi saksi di Mahkamah Konstitusi untuk memperjuangkan hak masyarakat Merapu agar mendapat status keagamaan yang jelas pada Kartu Tanda Penduduk mereka.

Dia mengumpulkan semua masyarakat Marapu Pada tanggal 19 Desember 2013 dan mengadvokasi mereka. Selanjutnya pada tahun 2016 MK mengabulkannya sehingga sampai saat ini dalam KTP masyarakat Merapu khususnya di kolom agama tertulis Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Dia menegaskan, hal yang berkaitan dengan identitas dan jatidiri masyarakat dia perjuangkan sampai tuntas. Maka jika terpilih menjadi Bupati Sumba Timur, semua program kerja akan dituntaskan demi kesejahteraan masyarakat Sumba Timur

Sebagai warga asli Sumba Timur dan PNS yang pernah menjabat sebagai lurah hingga kepala dinas, pemahaman Kris tentang masalah yang dihadapi oleh mayoritas warga tidak diragukan, termasuk solusi yang harus diberikan.

Berpasangan dengan David Melowadu, membuat Kris yakin SEHATI akan mewujudukan perubahan di Sumba Timur.

Khristofel juga mengatakan, pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Sumba Timur hanya sedikit alias minim. Untuk dapat memanfaatkan anggaran yang minim tersebut, diperlukan tertib perencanaan.

Terlebih untuk membangun infrastruktur di Sumba Timur dibutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Pasangan SEHATI yang didukung oleh partai politik pendukung Presidden RI, Joko Widodo (Jokowi), disebutnya akan lebih mudah membangun relasi dan komunikasi dalam membangun Sumba Timur.

“SEHATI harus menang agar program dan kegiatan yang kita rancang begitu bagus mulai dari musrenbang desa, musrenbang kecamatan dan musrenbang kabupaten bisa terwujud,” tegas Kris. (TIM/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan