oleh

23 Meninggal, 18 Hilang Akibat Banjir Bandang, Tanah Longsor dan Angin Kencang Menerjang Alor

-Alor, Daerah-1.138 views

RADARNTT, Kalabahi – Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Alor, Kristina Beli, kepada media ini menuturkan bahwa angin kencang, banjir, tanah longsor, angin kencang dan gelombang tinggi yang terjadi di kabupaten Alor selama hampir satu minggu lalu mengakibatkan 23 orang meninggal dunia dan 18 orang hilang.

Korban meninggal dan hilang tersebar di 7 desa pada 6 kecamatan, yaitu: desa Langkuru Utara kecamatan Pureman ditemukan 1 meninggal, desa Welai Selatan kecamatan Alor Tengah Utara ditemukan 2 meninggal, 2 hilang; desa Malaipea kecamatan Alor Selatan ditemukan 7 meninggal; dan beberapa desa di kecamatan Pantar Timur, seperti: desa Nulle ditemukan 3 meninggal; desa Bunga Bali.ditemukan 3 meninggal; desa Tamakh kecamatan Pantar Tengah ditemukan 5 meninggal, 1 hilang serta desa Lippang kecamatan Alor Timur Laut ditemukan  2 meninggal, 15 hilang.

Demikian kepada media ini, Kamis (8/4/2021) pagi, Beli menerangkan, korban terdampak bencana sudah dievakuasi dari lokasi bencana ke tempat aman yang sudah didirikan posko oleh warga dan pemerintah daerah. Secara umum kondisi di posko pengungsian semakin baik karena cuaca tidak hujan dan berangsur panas sejak Senin hingga hari ini.

Namun, warga di posko membutuhkan tambahan pasokan bahan pangan, obat-obatan dan pakaian layak pakai. Oleh karena itu, dukungan dan uluran tangan dari berbagai pihak sangat diharapkan.

Sebelumnya, Asisten I Setda Alor, Ferdy Lahal menuturkan angin kencang, banjir, tanah longsor dan gelombang tinggi yang terjadi di Alor yang berlangsung selama kurang lebih satu minggu mengakibatkan kerugian materil dan korban jiwa, jaringan komunikasi terputus, petani gagal panen, jalan dan jembatan di beberapa kecamatan putus atau rusak berat.

“Bencana alam berdampak pada kerugian-kerugian masyarakat baik secara material maupun jiwa. Angin kecang, banjir, longsor, dan gelombang tinggi yang terjadi di Alor berlangsung sudah kurang lebih sudah satu minggu. Hari ini sudah agak cerah, dan kami akan bergerak ke lokasi bencana,” katanya kepada awak media melalui seluler, Senin (5/4/2021)

“Angin kecang, banjir, tanah longsor, dan gelombang tinggi) yang terjadi di Alor hampir kurang lebih sudah satu minggu,” katanya.

Ia menjelaskan, bencana alam tersebut merugikan masyarakat Alor. Kerugian materil diperkirakan mencapai triliunan rupiah dan korban jiwa.

“Bencana alam berdampak pada kerugian-kerugian masyarakat baik secara materil, finansial maupun korban jiwa,” kata Lahal.

Sampai saat ini, korban jiwa yang meninggal dunia, hilang (belum ditemukan), tertimbun tanah longsor dan juga terbawa oleh banjir sedang dilakukan proses evakuasi

“Korban jiwa itu terhempas banjir, meninggal dunia, sejumlah masyarakat hilang hingga belum ditemukan, kemungkinan tertimbun longsor dan terbawa banjir sedang dilakukan evakuasi,” ucap Ferdy

Ferdy menjelaskan, bukan hanya korban jiwa saja tetapi infrakstruktur listrik, jembatan dan jalan raya rusak parah

“Pohon-pohon tumbang menghantam rumah masyarakat hingga mengakibat kerugian mencapai miliaran rupiah, laut atau gelombang berkisar 5 sampai 6 meter, Jalan disegala tempat rusak total seperti di Kecamatan Abad, ATU, Alsel, Pantar, dan sebagainya serta jembatan benlelang dan Taramanan putus,” paparnya

Ia menjelaskan bahwa, saat ini pemerintah Alor telah bekerja sama dengan TNI/Polri, Basarnas Alor untuk melakukan proses evakuasi dan membuka posko.

“Seluruh organ pemerintah setempat, TNI/Polri, Basarnas dan organ-organ lain sedang bekerja sama untuk menangani persoalan ini. Kami juga berharap agar masyarakat Alor yang di luar Alor segera ikut mendukungnya,” jelasnya.

Mengenai bencana banjir dan longsor Kecamatan Alor Tengah Utara, Sabdi Makanlehi selaku Camat Alor Tengah Utara membenarkan bahwa, angin kencang, tanah  longsor dan banjir merengguk nyawa manusia, infrakstruktur dan komunikasi menjadi terputus.

“Korban di Welai Selatan, kecamatan ATU terhitung 4 orang, yakni 2 orang meninggal dunia dan 2 orang belum ditemukan; Infrakstruktur berupa jalan raya menjadi rusak parah, rumah-rumah rata tanah, jembatan dibeberapa titik putus dan listrik ataupun jaringan komunikasi menjadi hilang,” kata Sabdi Makanlehi.

Informasi lain dari berbagai sumber terpercaya yang dihimpun oleh Markus Kari selaku Ketua Pelaksana Pemuda Gerak Alor yang bergerak dilapangan menuturkan, korban jiwa mencapai puluhan orang.

“Belasan orang dilaporkan hilang dan meninggal dunia, yakni di Desa Tamakh, Kecamatan Pantar Tengah, (5) 3 orang meninggal dunia dan 2 orang belum ditemukan. Desa Nule, Kecamatan Pantar Timur, (5) 1 orang ditemukan meninggal dunia dan 4 orang belum ditemukan. Desa Bungabali, Kecamatan Pantar Timur, (3) 1 orang meninggal dunia dan 2 orang belum ditemukan. Desa Welai Selatan, Kecamatan Alor Tengah Utara, (4) 2 orang meninggal dunia dan 2 belum ditemukan. Desa Lippang, Kecamatan Alor Timur Laut (17) 1 orang ditemukan selamat dan 16 orang belum ditemukan. Desa Malaipea, Kecamatan Alor Tengah Utara, (6) 1 orang meninggal dan 5 orang belum ditemukan,” kata Markus.

Lebih lanjut, ini deretan pernyataan kepala desa di Alor, “Informasi yang saya dapat itu ada tiga orang hilang. Tapi satu ditemukan tidak bernyawa dan dua lainnya masih dalam proses pencarian oleh warga. Ada belasan rumah warga yang rusak total,” tutur Kepala Desa Bungabali, Rehabeam Klaping.

Sama halnya dialami warga di Desa Nulle, Muhajirin Omy mengungkapkan warga Desa Nulle mengalami Bencana tanah longsor dan hujan deras yang mengakibatkan banjir melanda pemukiman warga.

“Kami kesusahan ambil data, karena situasi sekarang hancur. Korban belum diperkirakan, karena masih dalam pencarian,” ujar Omy.

Sementara itu kondisi di Desa Kaleb, Kecamatan Pantar Timur, Kabupaten Alor juga terjadi demikian. Namun tidak ada warga yang hilang ataupun meninggal dunia.

“Kondisi yang terjadi itu sekitar jam 2 dini hari, angin ribut, hujan badai selalu ada. Tiba-tiba bunyi gemuruh. Ada belasan buah rumah yang ambruk total dan terbawa banjir ke laut,” ungkap Kepala Desa Kaleb. (TIM/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan