oleh

Ansy Lema: Pariwisata Super Premium Labuan Bajo Harus Ditopang Sektor Nelayan, Tani, Ternak

RADARNTT, Ruteng – Labuan Bajo sebagai pariwisata super premium harus ditopang oleh sektor Nelayan, Tani, Ternak, itulah NTT. Agar kebutuhan mendasar seperti ikan, daging, sayur dan buah-buahan tidak didatangkan dari luar. Sehingga pariwisata memberikan benefit bagi sektor pertanian dan perdesaan.

“Di Labuhan Bajo, pembangunan hanya mulai dari pesisir dan dari kota saja. Sementara sentra pertanian dan peternakan belum mulai dibangun, saya kira Labuhan Bajo menjadi kesempatan dan peluang bagi kita untuk mendapatkan benefit,” demikian disampaikan Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan Yohanis Fransiskus Lema (Ansy Lema) saat mengunjungi kerabat alumni angkatan 88, Seminari Pius XII Kisol (Sanpio) di kediaman Heribertus P. N. Baben di jalan Renya Rosari, No. 3 Kampung Maumere, Ruteng Manggrai, Flores, NTT, Minggu (30/5/2021).

Dalam kesempatan itu, Ansy Lema menceritakan pengalamannya menempuh pendidikan SMP dan SMA di seminari Pius Kisol. Menurut Ansy, mental spriritual yang terbentuk di sana yang menghantarkannya ke kursi DPR RI.

“Tentu juga atas kemurahan Tuhan, saya juga menjadi dan dipilih rakyat untuk menjadi DPR.  Saya menjadi anggota dewan memiliki nilai spirit dan nilai yang harus diperjuangkan,” ungkap Ansy.

Sebagai anggota DPR, kata Ansy, dirinya melakukan eksperimen dalam berpolitik. Selain itu katanya, dia juga melakukan eksperimen seperti merubah cara berpikir masyarakat tentang kehadiran DPR di kursi parlemen. Semisal, terkadang masyarakat kerap kali menilai DPR hadir hanya untuk datang, duduk, diam, duit, saya coba merubah hal itu.

“Ketika menggelar rapat, saya sering membuat vidio dan posting, sehingga masyarakat tahu setiap Minggu itu saya buat apa dan itu bagian dari transparansi,” tuturnya.

Mungkin ini pengaruh dari latar belakang dari pernah belajar di Kisol, pernah menjadi presenter, dan pernah menjadi dosen dan aktivis. Hal demikian kata dia, harus bisa buktikan, dijalankan dan bisa dilakukan.

NTT itu adalah raksasa yang tidur, semua potensi ada di NTT. Tergantung pemimpinnya. Lanjutnya, siapa bilang NTT itu miskin? NTT itu kaya. Mungkin hari ini NTT itu miskin dari fisik.

“Itu makanya saya tidak pernah minder membicarakan NTT di level nasional. Saya selalu ingin dikenal sebagai anak muda yang terus menyuarakan NTT,” ungkap Ansy.

Berbicara data, angka kemiskinan NTT berada di 20 persen. Lanjutnya, kemiskinan NTT ada di pedesaan. Lebih dalam ia menuturkan, apa profesi mereka yang di pedesaan?, yakni Petani. Dalam 10- 15 tahun NTT tidak pernah lepas dari angka kemiskinan berkisar disitu. Kalau di pesisir, mereka adalah Nelayan kecil tradisional, atau peternak.

“Kita buka 20 persen itu, itu adalah gambaran NTT. NTT hari ini tidak jauh lebih baik dari Papua dan Papua Barat, dan itu sedih. Nomor 3 termiskin di Indonesia. Nomor 4 adalah Maluku, tetapi Maluku berada di 16 persen. Saya punya satu keyakinan, bahwa terjadi perubahan atau transformasi itu tergantung pemimpin,” tandasnya.

Dulu, waktu masuk pertama di DPR, sering orang pleset NTT dengan sebutan yang buruk, degan posisi bercanda mereka sebut Nasib Tidak Tentu, Nanti Tuhan Tolong.

“Saya langsung sebut, NTT, Nelayan, Tani, Ternak. Tiga sektor ini sangat berpotensial yang harus dikembangkan. Terkait Tani , Nelayan dan Ternak, saya bilang, coba kasih mereka eksavator, kasih alat pasca panen, pra panen, pendampingan yang bagus, ada integrasi yang knowledge, teknologi, bohong kalau pertanian NTT tidak maju,” tegasnya.

Dikatakannya hal itulah yang membuat dirinya mengangkat tema politik salah satunya memahalkan nilai jual NTT di tingkat Nasional, ia mengaku tak pernah malu menjadi orang NTT. Nelayan, Tani, Ternak itulah NTT.

Kedatangan Ansy Lema disambut secara adat Manggarai, Ansy dikalungkan dengan selendang dan topi songke Manggarai. Suasana gembira para sahabat saat menerima Ansy memecah keheningan kota yang super dingin itu.

Temu akrab yang diisi dengan bincang ria siang itu memberi makna tersendiri bagi para hadirin. Sontak, lagu selamat ulang tahun dinyanyikan secara bersamaan memberi kesan ulang tahun dari ketiga sahabat Alumni Sanpio itu. Para sahabat yang ulang tahun yakni Heribertus P N Baben, Yani Rewos dan Hendrik Dao.

Rohaniwan Katolik dari Keuskupan Ruteng Dr. Maksimus Regus menyampaikan selamat datang kepada Ansy Lema. Menurut Romo Max, kehadiran alumni Sanpio XII 88 yang kini di kursi Parlemen DPR RI sangat membawa warna baru. Selain terlibat juga ada keberpihakan pada Masyarakat NTT yang diwakilinya, tentu sangat membanggakan.

“Sebagai saudara, kami sangat mendukung langkah politik dalam memperjuangkan kesejahteraan rakyat melalui parlemen,” tutur Romo Max.

Dari tempat yang sama, Heribertus P.N. Baben salah seorang alumni Seminari Satu Pius XII Kisol mengatakan, dirinya sangat berterimakasih kepada Ansy yang telah bergabung dalam temu akrab dengan teman alumni Sanpio.

“Memang Pak Ansy sering datang ke Manggarai, namun baru saat ini beliau bisa hadir di tengah teman-teman alumni Sanpio,” ungkap Hery.

“Teman-teman alumni juga ingin menunjukkan dukungan kepada beliau atas apa yang telah diperjuangkan oleh Pak Ansy melalui Kursi DPR RI untuk kemakmuran rakyat,” tambahnya. (GN/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan