oleh

Biadab, Anak di Bawah Umur Diperkosa Hingga Mengandung

RADARNTT, Borong – Perbuatan bejat dan keji lagi lagi terjadi, yang mana anak usia di bawah umur diperkosa berulang-ulang hingga mengandung tujuh bulan.

Melati (bukan nama sebenarnya) merupakan korban pelampiasan hawa nafsu bejat dari Pelaku berinisial SP (43) yang adalah sudah berusia kepala tiga dan tinggal sekampung dengan korban di Elar Selatan, kabupaten Manggarai Timur.

Masa depan dan cinta cita Melati yang masih usia pendidikan Sekolah Dasar tersebut kini kandas pada moral yang tidak beradab, usia yang seharusnya mengenyam pendidikan dan ilmu pengetahuan, terhempas oleh naas yang membuat dirinya tidak bisa mengelak dari kenyataan.

Tidak bisa dibayangkan hamil pada usia dini, akibat perbuatan biadab dan sengaja dilakukan oleh SP, mau tidak mau nasib baik nasib buruk hanya Tuhan yang tahu.

Kepada awak media saat ditemui di ruang tunggu Mapolres Manggarai Timur pada Jumat, 30 Januari 2021, Melati menjelaskan kronologi awal sampai terjadi tindakan yang menghancurkan masa depannya.

“Dia (Pelaku) warga satu kampung dengan saya. Kejadian pertama pada Tanggal 1 Pebruari 2019, saya pulang sekolah ganti baju di rumah, kemudian ikut Oma ke kebun. Dalam perjalanan, ternyata dia sudah tunggu saya di jalan yang sepi,” tutur Melati dengan polos.

Melati mengaku, pada saat itu pelaku memeluk dirinya dari belakang. Sambil memberikan kue secara paksa, dan memaksa dirinya makan kue sebelum melakukan tindak pemerkosaan.

“Dia peluk saya dari belakang sambil menutup mulut saya. Dia bawa pisau, parang, permen dan kue. Sebelum perkosa saya, dia paksa saya makan kue. Setelah saya makan itu kue, saya seperti hilang ingatan sehingga saya tidak bisa berusaha untuk meminta pertolongan. Setelah perkosa, dia juga foto saya dalam kondisi telanjang,” tuturnya.

Melati juga mengatakan, setelah kejadian yang merenggut seluruh masa depannya pelaku selalu memonitor kegiatan kesehariannya.

“Hampir setiap hari dia mengikuti saya. Bahkan saya diperkosa lagi oleh pelaku. Dan lagi, setelah diperkosa saya seperti lupa ingatan sehingga tidak cerita hal tetsebut ke oma. Orangtua saya tinggal di Bajawa,” katanya.

Lebih lanjut dijelaskannya, terakhir kali dirinya dipaksa melakukan hal yang sama pada tanggal 1 Juni 2020 silam. Hasil perbuatan pelaku tersebut, kini Melati mengandung dengan usia kandungan tujuh bulan empat hari.

“Terakhir kali dia perkosa saya pada tanggal 1 Juni 2020. Kini saya tengah mengandung dan usia kandungan saya sudah 7 bulan,” jelasnya.

Sementara itu, AID (ibu korban) mengaku bahwa dirinya mengetahui kejadian itu waktu ibundanya (oma dari korban) lagi sakit berat.

Ibu kandung korban tinggal di Kabupaten Ngada bersama suami. Putrinya bersekolah di kampung Ibundanya, AID mengetahui anaknya dalam keadaan hamil setelah memaksa bertanya pada putrinya.

“Mama saya lagi sekarat pada saat itu, dari mukanya, saya tahu anak saya sedang terjadi sesuatu. Dan akhirnya saya memaksa bertanya. Dia (korban) mengaku kalau dirinya telah diperkosa berulang kali dan sudah hamil empat bulan berdasarkan tes kehamilan,” ucapnya.

Setelah mengetahui kejadian itu, ada beberapa upaya yang dilakukan AID supaya pelaku bisa dihukum setimpal perbuatannya, karena Pelaku (SP) telah merusak masa depan anaknya dan memohon pertolong pihak Kepolisian tangkap dan penjarakan pelaku dengan hukuman seberat-beratnya.

“Pasca kematian mama, saya pernah mengadu ke Polres Ngada di bagian PPA. Setelah itu, saya ke Bidang Pemberdayaan dan Perlindungan Anak dan Perempuan (P3A) Kabupaten Ngada,” kata AID.

Saat ini, Melati bersama ibundanya didampingi oleh Kepala Bidang Pemberdayaan dan Perlindungan Anak dan Perempuan (P3A) Kabupaten Manggarai Timur Mikael Hamid Dohu, SH guna melaporkan peristiwa naas tersebut ke Polres Manggarai Timur.

Mikael Hamid, selaku pendamping korban mengaku, dirinya mengetahui kejadian tersebut ketika memperoleh informasi dari Kabid P3A Kabupaten Ngada.

“Kami memperoleh informasi dari Kabid P3A Kabupaten Ngada. Langkah selanjutnya, kami datang ke Polres Matim untuk mendampingi korban bersama Ibunya guna membuat Laporan Polisi (LP) agar pelaku bisa diproses hukum,” paparnya.

Dikatakan Hamid, kejadian menimpa Melati (bukan nama sebenarnya) adalah kejadian yang sangat keji dan tidak terpuji, apa lagi menurut Hamid, korbannya masih di bawah umur.

“Kami akan kawal kasus ini hingga selesai dan pelaku harus dihukum seberat beratnya. Biar tidak terulang lagi. Apa lagi kalau korbannya adalah anak di bawah umur,” tandasnya.

Dikatakannya, usia Melati adalah usia dimana anak anak mendapat perhatian dan pengetahuan di sekolah. Anak anak seperti dia (Melati), wajib dilindungi dan tidak boleh diganggu apalagi dengan tindakan yang sangat merusak masa depan generasi penerus bangsa.

Selain pendampingan, kata Hamid, Pemerintah tetap melakukan upaya-upaya untuk menekan angka kejadian asusila yang merenggut masa depan anak bangsa.

“Langkah-langkah untuk mengantisipasi tentu kita upayakan, seperti sosialisasi,” tutup Hamid.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak Polres Manggarai Timur. (GN/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan