oleh

Debit Produksi Air Minum Kota Borong Masih Minim

RADARNTT, Borong – Standar kebutuhan air minimal 100 liter per orang per hari, dari kebutuhan harian tersebut dibandingkan dengan jumlah penduduk di kota Borong, maka kita membutuhkan produksi sekitar 70 liter per detik. Namun, yang tersedia saat ini baru 25 liter per detik masih kurang 45 liter per detik.

Demikian dikatakan Kepala Bagian Keuangan dan Umum BLUD SPAM Kabupaten Manggarai Timur, Fransiskus Y Aga saat ditemui media ini di ruangan kerjanya, Jumat, (28/5/2021).

“Untuk kebutuhan kota Borong, air minum bersih masih mengalami kekurangan dari sepuluh tempat, yang paling mengalami kekurangan adalah jaringan kota Borong,” terangnya.

Dari kebutuhan standar minimum 70 liter per detik, kebutuhan air minum untuk kota Borong hanya bisa mencapai 25 liter per detik. Hal itu menurut Fransiskus karena fasilitas untuk pengambilan air baku masih berkapasitas kecil.

Dikatakannya, penyaluran air minum kota Borong, mencakup 7 desa/kelurahan, yaitu desa Gurung Liwut, kelurahan Satar Peot, kelurahan Rana Loba, kelurahan Kota Ndora, desa Nanga Labang, desa Golo Kantar dan desa Bangka Kantar.

Menurut Fransiskus, hingga saat ini untuk memenuhi kebutuhan air kota Borong bersumber dari dua reservoir, yakni reservoir Kampas yang terletak di desa Golo Kantar memiliki debit 5 liter per detik, dan dari reservoir Golo Nderu yang terletak di desa Compang Kantar berdebit 20 liter per detik.

“Sangat bersyukur sekali kita di kabupaten Manggarai Timur ini Tuhan memberikan berkat tersendiri bahwa kita punya debit air baku yang bersumber dari mata air yang sangat berlimpah untuk 40 tahun ke depan dan berada di posisi ketinggian,” jelasnya.

Namun, lanjutnya, hal itu belum digunakan semua untuk dialirkan ke reservoir produksi. “Debit produksi kita yang dialiri ke setiap jaringan masih kecil sekali. Dari dua reservoir hanya 25 liter per detik. Sementara kebutuhan kita standarnya 70 liter per detik,” terangnya.

Menurutnya, sumber air ada di beberapa tempat. Ada di Rana Mese berkapasitas 250 liter per detik, di Wae Racang yang terletak di desa Golo Leda, ada Wae Dangi di desa Sita, dan Wae Mao di desa Golo Loni. Sampai saat ini, ada dua yang dimanfaatkan yakni Wae Mao dan Rana Mese.

“Sumber air bersih dari Rana Mese dari 250 liter per detik, bisa terproduksi hanya 24 liter per detik. Sampai di Golo Nderu dengan tingkat kehilangan air mencapai 20 persen maka mencapai 20 liter per detik,” kata Fransiskus.

Disampaikannya bahwa penggunaan 24 liter per detik Di Rana Mese sudah maksimum. Hal itu disebabkan Rana Mese sebagai kawasan hutan lindung.

“Kalau dari Wae Mao itu mencapai 5 liter per detik dan itu masuk di reservoir produksi di Kampas. Hal itu masih minim. Sehingga kita masih mengatur air itu secara jadwal atau bergilir,” tukasnya.

Dikatakannya, Wae Mao hanya 5 liter per detik sampai di Kampas. Hal tersebut dikarenakan Wae Mao dialirkan sampai reservoir produksi di Kampas melalui desa Compang Kempo, desa Sita, Watu Mori, dan Compang Ndejing.

“Mereka juga punya hak yang sama untuk menikmati pembangunan Manggarai Timur. Mereka juga merupakan warga Manggarai Timur yang membutuhkan air minum sebagai kebutuhan mendasar,” ucap Fransiskus.

Disampaikannya, untuk saat ini air yang mengalir di kota Borong hanya mencapai 25 liter per detik. Sementara masih membutuhkan 45 liter per detik untuk memenuhi kebutuhan minimum 70 liter per detik.

“Debit yang kami maksud adalah debit air yang terdapat di reservoir produksi. Bukan Debit air baku di sumber mata air. Persoalan kita saat ini adalah bagaimana supaya debit air baku ini bisa dibawa ke debit produksi di reservoir,” terangnya.

Ia mengatakan, kita membutuhkan pipa yang besar untuk bisa mengantar air dari sumber mata air ke reservoir produksi.

Dari ketersediaan debit produksi 25 liter per detik, belum bisa mencakup kebutuhan masyarakat kota Borong dari 7 desa/kelurahan dengan data statistik 23.046 jiwa dengan sekitar 2000 lebih rumah terpasang belum bisa terjawab. Hal demikian yang membuat pembagian air bersih terjadwal seminggu dua kali.

Secara kelembagaan, kantor BLUD SPAM merupakan operator yang hanya mengoperasi jaringan yang sudah dimanfaatkan dan perawatan. Sementara yang membuat jaringan baru atau sebagai regulator adalah Dinas Pekerjaan Umum melalui Bidang Cipta karya.

“Terkait proyek jaringan baru itu kewenangan dari Dinas. Terkait komplain atau keluhan pembagian air, itu di kami, tetapi kewalahannya adalah ketersediaan pipa yang menghantar air dari debit baku di sumber mata air menuju reservoir produksi itu terlalu sedikit dan belum bisa mengakomodir seluruh kepentingan air bersih wilayah Borong. Sebenarnya itu adalah prioritas,” tegasnya.

Terkait pengaduan masyarakat, ia mengaku bahwa sepanjang tahun 2021, angka pengaduan masyarakat sudah semakin menurun. Partisipasi masyarakat tentu sudah naik. Proses pelayanan BLUD SPAM, sesuai dengan tupoksinya, Fransiskus mengakui pelayanan sudah agak membaik, namun kendati demikian, ia mengaku masih menerima pengaduan masyarakat.

“Para pelanggan yang mengadu atau komplain, terhadap pelayanan kami yang sesuai dengan tupoksi itu sebenarnya baik dan selaku pemerintah, kami tidak bisa alergi degan masukan berupa pengaduan,” tegasnya.

“Kami telah menyediakan layanan call center, berkaitan pengaduan masyarakat pelanggan. Kontak saja ke nomor layanan BLUD SPAM 081337476966. Akan kami layani sepenuh hati,” ungkap Fransiskus.

“Bagi masyarakat yang melakukan pembayaran, kata dia, pihaknya telah melakukan kerja sama dengan Bank Pembangunan Daerah NTT dengan mengakses aplikasi NTT Pay. Layanan online tersebut melalui NTT Pay dan teller Bank NTT cukup membantu masyarakat yang tidak sempat ke kantor,” kata Fransiskus.

Ia berharap, dalam mengakomodir keperluan air minum bersih untuk kota Borong, diperlukan komitmen bersama untuk berpartisipasi mencapai target kebutuhan masyarakat Borong khususnya, dan Manggarai Timur pada umumnya. (TIM/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan