oleh

Erasmus dan Kristianus Bocah Penjual Nyiru Demi Mengejar Cita-Cita

-Daerah, Matim-1.255 views

RADARNTT, Borong – Tampak dari jauh, terlihat dua orang bocah yang tengah duduk di sebuah deker pertigaan, tepatnya di jalan Golo Karot Borong- Peot dan Kampung Bugis kelurahan Rana Loba, kecamatan Borong, kabupaten Manggrai Timur, Flores, NTT.

Kedua bocah adalah Erasmus dan Kristianus, sedang melepas lelah dari perjalanan jauh menjual Tampah atau Nyiru, Sabtu (29/5/2021) pukul 14.30 WITA.

Keduanya tampak lugu dan polos mengarungi kerasnya kehidupan. Tak jauh dari tempat mereka duduk, terdapat tumpukan Nyiru yang tengah mereka jual, mencoba mengais rejeki untuk menyambung hidup.

Diketahui nama lengkapnya adalah Erasmus Vedirman Hebot (15), ia baru selesai menempuh pendidikan di jenjang sekolah dasar.

Eras, begitu ia kerap disapa dengan lugunya menceritakan kisahnya berjalan kaki puluhan kilo meter menjual Nyiru anyaman bapak sama ibunya di rumah.

Kisahnya senja hari Sabtu itu, ia bersama temannya berasal dari kampung Golo Ara desa Compang Wesang, kecamatan Lamba Leda Selatan, kabupaten Manggarai Timur.

“Kami berangkat dari rumah sejak kemarin. Kami tahan mobil dum truck. Dan kami berdua turun di kampung Lerang, desa Golo Loni, mulai dari sana kami berjalan kaki sampai di Borong, menjual Nyiru demi mengejar cita-cita,” ungkap Eras.

Dari Golo Ara, Eras dan kawannya membawa Nyiru sebanyak 20 Lembar dengan harga Rp 35.000/Lembar. Disampaikannya, terkadang 20 lembar Nyiru yang dipikulnya dan kawannya laku terjual selama dua hari.

“Terkadang tidak laku. Kami tetap semangat untuk menjualnya. Bila belum terjual, kami nginap di rumah keluarga hingga pagi melanjutkan jual Nyiru sampai habis. Setelah laku, baru kami pulang kampung,” akunya.

Nyiru yang dijualnya adalah hasil anyaman bapak dan ibundanya, lantaran menganyam Nyiru menjadi pekerjaan yang cukup menjanjikan, terangnya. Lebih lanjut ia menuturkan untuk menghasilkan 20 lembar Nyiru, orang tua Eras menghabiskan waktu satu sampai dua minggu.

Putra dari pasangan Mama Trensia Ermilinda Daiman dan Bapak Fransiskus Jehabut itu telah tamat dari bangku sekolah dasar.

“Ingin sekali lanjut sekolah di SMP. Agar saya bisa sekolah, saya harus membantu mama dan papa menjual Nyiru anyaman mereka. Cita-cita saya ingin menjadi Guru,” terangnya.

Di tempat yang sama, Kristianus Wanda, teman Eras yang dijumpai media ini saat menjajaki barang dagangannya di kota Borong.

Kiting, sapaannya, bocah berusia 14 tahun asal Golo Ara itu juga menjual Nyiru hasil anyaman orang tuanya. Ia mengaku bahwa telah memikul Nyiru jualannya semenjak Jumat, (28/5/2021).

“Kami selalu jalan bersama-sama, kami membantu orang tua untuk mengais rejeki dan menyambung hidup dan membiayai sekolah kami,” tutur Kiting nan polos.

Dikatakannya bahwa keduanya sering menjual Nyiru dengan berjalan kaki. Demi mendapatkan selembar rupiah untuk ongkos sekolah.

Panas terik matahari dan hujan tidak membuatnya patah semangat, pasalnya rupiah yang ia dapatkan untuk mengejar cita-cita. Untuk diketahui, Kiting adalah putra dari pasangan Bapak Yosep Baji dan Mama Maria Goreti Banul.

“Bapak sama mama yang menganyam Nyiru yang kami jual. Bapak, pekerjaannya buruh bangunan, sedangkan Mama adalah ibu rumah tangga. Mereka menganyam Nyiru di saat tidak mendapatkan pekerjaan,” terangnya.

“Saya bercita-cita menjadi seorang Polisi,” tuturnya sembari menebarkan senyum optimis.

Keduanya sering dijumpai dengan berjalan kaki sambil memikul Nyiru untuk dijual. Ia baru menyelesaikan pendidikan di salah satu sekolah dasar di kampungnya, Golo Ara. (GN/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan