oleh

Hidup Sebatang Kara, Kakek Penderita Stroke Damianus Nembot Butuh Bantuan

RADARNTT, Borong – Menderita penyakit stroke semenjak Maret 2020 lalu, Damianus Nembot (60), warga Dusun Tolok, Desa Lenang, Kecamatan Lamba Leda Selatan, Kabupaten Manggarai Timur, hidup sendiri tak berdaya di dalam rumah.

Informasi yang diperolen media ini, Sabtu (13/3/2021), dikabarkan kaki kanan dan tangan kiri kakek Damianus tidak bisa bergerak akibat stroke.

Hal tersebut membuat ia tidak bisa berdiri. Kakek Damianus mengisi hari-harinya dengan duduk dan tidur di tanah beralaskan tikar usang. Bantal tidurnya juga terbuat dari karung bekas berisi kapuk.

Informasi yang diperoleh media ini, lantaran tak bisa jalan, kakek Damianus juga membuang air kecil dan besar di tikar tidurnya.

Sejak menderita stroke, kondisi kakek Damianus tidak terurus. Ia tidak punya siapa-siapa.

Isteri tercinta telah lama meninggal dunia. Sementara tiga anak perempuan telah bersuami. Mereka semua tinggal jauh.

Malam hari, ia dan seisi rumah diterangi lampu solar cell pemberian tetangga. Keberadaan ekonomi kurang mampu, membuat Ia tidak bisa membiayai pemasangan meteran listrik.

Angga Epat, saudara kakek Damianus, melalui sambungan telepon selular membenarkan kondisi dari kakaknya, Dameanus. lanjut ia menuturkan, sang kakak hidup mulai menderita stroke pada Maret 2020 lalu.

Sejak mulai sakit hingga sekarang, kakek Damianus belum pernah diantar ke rumah sakit.

“Kami semua keluarga ekonomi pas-pas. Semua petani. Mau antar kakak ini ke rumah sakit uang tidak ada. BPJS juga dia tidak punya. Makanya sampe sekarang diam begini saja. Kami tidak bisa berbuat apa-apa,” tutur Angga kepada media ini melalui sambungan telepon, Sabtu (13/3/2021).

Angga mengaku, saat ini, ia bersama keluarga tidak bisa berbuat banyak untuk kesembuhan kakak Damianus. Yang mereka bisa bantu sekarang adalah memberinya makan dan minum. Itu pun kalau tidak sibuk.

“Kalau kami pergi kerja, berarti dia tunggu tetangga yang baik hati untuk bisa makan. Kalau tidak, biasanya tahan lapar,” ungkap Angga.

Lebih menyedihkan lagi, kata Angga, karena tak bisa berjalan, sang kakak membuang air besar dan kecil langsung di tikar yang ia tidur.

Kadang keluarga membersihkan. Kadang juga kotoran itu dibiarkan.

“Sedih memang untuk diceritakan. Tapi ini sudah kenyataan hidup. Mau bilang apa. Kami menunggu keajaiban Tuan untuk sembuhkan dia,” kata Angga.

Angga mengungkapkan, sejak dulu hingga keluarga Damianus belum mendapatkan bantuan sosial (Bansos) dari pemerintah. Baik itu bantuan program keluarga harapan (PKH) maupun Sembako. Padahal sebelumnya keluarga Damianus memiliki kartu penjamin sosial (KPS) seperti penerima PKH lainnya.

Beruntungnya, di tengah Pandemi Covid-19, Damianus masuk dalam penerima BLT Dana Desa. Dana itu sedikitnya bisa membantu keberlangsungan hidup Damianus.

Angga pun berharap, ke depan, Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur melalui dinas terkait agar memasukkan Damianus dalam daftar program PKH dan Sembako.

“Saat ini yang sangat dibutuhkan kakak Damianus adalah kursi roda, tongkat. Kalau ada kursi roda dia bisa keluar dari rumah dan ke toilet. Kasihan sekali setiap hari duduk dan tidur terus di tikar,” ungkap Anggga.

“Semoga saja ada orang-orang baik yang peduli dengan kakak Damianus,” sambungnya.

Angga menambahkan, dulunya sang kakak sering keluar kampung untuk membantu orang-orang sakit. Berkat kemampuannya, banyak yang sudah ia sembuhkan di Manggarai Timur dan juga daerah lainnya.

“Yang kami tahu banyak orang yang datang cari dia dan sembuh dari sakit. Banyak juga pejabat dan orang-orang besar lain yang ia sembuhkan,” tambahnya. (GN/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan