oleh

Ikut Program Surveilens Sekolah Bebas COVID-19, SLB Negeri Pembina Kupang Persiapkan Belajar Luring

RADARNTT, Kupang – Sebagai salah satu satuan pendidikan yang terpilih untuk mengikuti program Surveilens Sekolah Bebas COVID-19 oleh Laboratorium Biomolekuler Kesehatan Masyarakat (Lab Biokesmas) NTT, Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Pembina Kupang hari ini, Rabu (19/5/2021) menjalani tes swab secara pooled-test terhadap 93 warga sekolahnya. Jumlah ini yang terdiri atas 60 orang guru dan 33 orang muridnya, mengikuti tes tersebut yang bertempat di Gedung aula sekolah yang bersangkutan.

Antusiasme, penasaran dan juga rasa khawatir tampak menyelimuti ruangan aula yang dipenuhi oleh staf, guru, beserta murid yang didampingi oleh orang tuanya. Banyak yang belum pernah mengikuti pemeriksaan swab dan tampak was-was terhadap reaksi penolakan dari anaknya.

“Awalnya saya merasa takut anak saya akan diswab, tetapi saya memberanikan diri untuk mendaftarkan, karena saya tahu kegiatan ini sangat penting demi proses belajar anak saya,” ujar salah satu orang tua murid, Monika Henukh. “Saya berharap dengan pengambilan swab seperti ini, kami pihak orang tua tidak akan khawatir lagi untuk membiarkan anak kami belajar di sekolah secara offline”.

Kegiatan ini dimulai sejak pukul 9 pagi WITA di bawah koordinasi panitia sekolah. Salah seorang guru, Ibu Supriati mengaku deg-degan mengikuti tes swab.”Deg-degan mengikuti swab tapi deg-degan juga mengetahui hasilnya”. “Meskipun demikian, dengan menjalani tes, kami staf pengajar dapat memastikan kondisi kesehatan kami sebelum akan memulai pembelajaran secara luring di sekolah” lanjut beliau.

Kepala SLB Negeri Pembina Kupang, Elisabeth Paledan, S.Pd, MM, yang mengawasi langsung berjalannya kegiatan swab menyampaikan bahwa selama pandemi, telah setahun lebih pembelajaran di SLB Negeri Pembina Kupang dilakukan secara jarak jauh sehingga cenderung kurang efektif dan cukup banyak pengeluhan dari orang tua.

“Inilah alasan utama mengapa sekolah kami memutuskan untuk ikut dalam program ini”. “Kebanyakan orang tua sangat setuju dengan pembelajaran secara offline yang terbatas dan terkontrol ini, sedangkan bagi orang tua murid yang belum setuju, anaknya tetap akan kami layani secara jarak jauh,” lanjutnya.

Beliau juga menambahkan bahwa saat ini sekolah telah mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut pembelajaran secara offline, diantaranya menyediakan tempat untuk mencuci tangan dan pengawasan ketat terhadap pematuhan protokol kesehatan.

“Terima kasih kepada pihak Lab Biokesmas NTT dan Dinas Pendidikan Provinsi NTT yang telah mengikutsertakan sekolah kami dalam program ini, sebagai salah satu bentuk kepedulian terhadap pendidikan khususnya pendidikan untuk sekolah luar biasa,” ujar beliau.

Stormy Vertygo, salah seorang staf laboran Biokesmas NTT yang hadir di lapangan, mengatakan bahwa pengambilan sampel swab hanyalah merupakan salah satu tahap atau bagian dari Surveilens Sekolah Bebas COVID-19, sebuah program pendampingan yang digagas Dr.Fima Inabuy, Ketua Tim Lab Biokesmas, dan mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Provinsi NTT, khususnya Dinas Pendidikan Provinsi NTT.

Tindaklanjut dari tahap ini adalah diadakannya edukasi dan pendampingan terhadap pelaksanaan Protokol Kesehatan (prokes) di area sekolah. “Prokes diharapkan bukan hanya dilihat sebagai sebuah aturan, melainkan kesadaran,” ungkap Stormy.

Warga sekolah mematuhi prokes bukan karena takut tidak akan diperbolehkan memasuki kawasan sekolah, tetapi juga karena telah menyadari betapa pentingnya menjaga keselamatan individu dan juga orang di sekitar mereka dari ancaman virus ini”, inilah salah satu tujuan utama dari program kami yang sebenarnya,” ujarnya.

Selanjutnya beliau juga mengucapkan terima kasih kepada pihak sekolah atas kerja sama yang sangat baik selama proses pengambilan swab berlangsung dan berharap agar pembelajaran luring di sekolah dapat berlangsung secara efektif dan maksimal nantinya.

Ketua Tim Lab Biokesmas, Dr. Fima Inabuy, mengungkapkan bahwa tujuan program ini bukanlah menjamin bahwa setiap warga sekolah tidak akan terkena COVID-19, tetapi menjamin bahwa sekolah tidak akan menjadi cluster penularan COVID-19.

“Pada akhirnya kedisplinan prokes masing-masinglah yang dapat menjamin setiap warga sekolah akan aman dari COVID-19,” ujar Fima.

Lab Biokesmas NTT masih membuka pendaftaran bagi sekolah-sekolah, dan juga kampus, di Kota Kupang untuk mengikuti program Surveilens Bebas COVID-19. (TIM/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan