oleh

Menimba Spirit dari Sisi Rimba

TAHUN 2011 di dusun Kluang, Desa Belabaja, Nagawutun, Lembata. Saya berkesempatan menghabiskan waktu liburan. Kebiasaan balik kampung saya lakukan. Badan masih didera suhu udara sejuk dari Boto (sebutan umum tiga dusun: Boto, Kluang, dan Belabaja). Boto, kampung di lereng gunung Labalekan, terasa seperti berada di Puncak Pass, kawasan Bogor, Jawa Barat.

“Bangun dan siap diri sudah. Orang-orang sudah jalan kaki ke Atawuwur. Misa Paskah dimulai pukul 08.00 WITA. Kita segera ke sana agar ada waktu bisa ganti pakaian mengikuti Misa,” kata Bob, adik bontot saya. Atawuwur dimaksud adalah salah satu stasi di wilayah Paroki St Joseph Boto, Dekanat Lembata, Keuskupan Larantuka.

Atawai (Atawuwur), secara administrasi pemerintahan adalah nama desa gaya baru tempo doeloe di Kecamatan Nagawutun beribukota di dusun Idalolong. Dua dusun ini, termasuk (kalau tak salah) dusun Penikene dan Lamanepa masuk wilayah Pemerintahan Desa Atawai. Warga masyarakat dusun Atawai, Idalolong, Penikene, dan Lamanepa saling mengenal satu sama lain. Bahasa pengantarnya mirip, kecuali Penikenek yang sebagian besar warga penuturnya menggunakan dialek Nusa Tadon dalam rumpun bahasa Lamaholot.

“Kalau urusan pemerintahan dan pelayanan masyarakat di dusun-dusun di atas, saya berjalan kaki. Pengabdian kami total. Saya dibantu pamong atau kepala dusun. Teknologi informasi saat itu tak ada. Kadang jasa kita sebagai pemimpin dihargai dengan partisipasi warga membersihkan kebun. Lebih dari itu tidak ada. Tapi pengabdian kita total demi pelayanan masyarakat dan kemajuan desa,” kata Rofinus Langun Musa, mantan Kepala Desa Atawai saat ngobrol di rumahnya, dusun Idalolong tahun 2018 lalu.

Tahun 1984, tatkala saya masuk SMP Lamaholot Boto, banyak siswa baru datang dari desa-desa sekitarnya. Atawai, dalam ingatan saya, termasuk dusun berbalut rimba di lereng gunung yang mengoleksi banyak calon siswa baru. Saya mencatat baik sejumlah nama teman calon siswa baru tahun ajaran 1984 dari Atawai. Ada Gerardus Bako Labaona Putra Nifak , Sr Ana Margaretha Suster Amaria Ose Labaona SSpS, Dominika Senawer Labaona, Rofina Ose Kuma, Stefanus Kia Labaona, Wilfridus Suban Atawua, Rafael Gawen, Sebastianus Rota Labaona, Ardianus Soni Gawen atau Laurensia Magi Lewar. Sedangkan angkatan sebelum dan sesudah tahun 1984 terbilang banyak. Ada Yohanes Napan Labaona, Yohanes Prasong Jhon Labaona, Thresia Sabu Gawen, Reinildis Lelo, Donatus Lewar, Bonevanturasolo Labaona, Abraham Pati Duan, dan lain-lain. Belum lagi dari dusun Lolong atau Mingar di Desa Pasir Putih di wilayah pantai (Nagawutun) atau Puor, Imulololong maupun Posiwatu di pedalaman lereng Labalekan, Kecamatan Wulandoni. Belum lagi dari dusun Bata, Lamalewar, Liwulagang hingga Uruor.

“Ayah saya meninggal saat saya masih kecil. Saya sempat tertahan tiga tahun setelah tamat SD. Tapi, Pak Viktor Oseama de Ona keluar masuk kebun kami. Beliau mengajak saya agar bisa lanjutkan sekolah di Boto. Saya sempat malu karena selain sudah betah urus Mudika tiga tahuh, saya memilih bertani saja agar bisa membantu ibu. Tuhan sungguh dan selalu baik. Ada dorongan dari dalam hati agar lanjut sekolah. Pak Viktor menyelamatkan nasib hidup saya melalui pendidikan,” kata Jan Napan Labaona, Kepala SMAN 5 Timika, Kabupaten Mimika sesaat saya tiba di Timika dari Jayapura. Jan adalah putera asli Atawai. Ia merantau ke Kalimantan usai menyelesaikan studi pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Flores, Ende. Ia meninggalkan Atawai menuju Kalimantan kemudian bertaruh nasib Timika, di lereng Gunung Nemangkawi, tanah Papua melanjutkan pengabdiannya sebagai guru bagi anak-anak asli.

Atawai adalah kampung bertabur pesona alam pengunungan nan eksotik. Anak-anak asli Atawai adalah tipikal petarung di bidang pendidikan dan aneka profesi lain. Dulu musisi kampungi ini membentuk Band Sisi Rimba. Nama ini barangkali dipilih sekadar menegaskan mereka tinggal di sisi rimba, hutan. Dua, sepotong hutan tua keramat berada di timur Gereja Stasi Atawai. Di bidang pendidikan, desa ini mengoleksi banyak sarjana. Lembata khususnya Atawai mengenal Dr Frans Kia Duan, M Si, dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Nusa Cencana Kupang. Frans adalah ahli biota laut dan doktor lulusan Universitas Diponegoro (Ubdip) Semarang. Frans memahami potensi perut perairan laut mulai dari Teluk Lewoleba hingga Lewopenutung di selatan Nagawutun karena menjadi obyek penelitian merampungkan studi doktoralnya di Undip.

“Saya mohon maaf, kaka. Rencana menghadiri ujian doktoral kaka di Semarang tak bisa saya ikut. Saya baru terima kabar dari Boto. Bapa saya meninggal,” kata saya kepada kaka Frans via pesan singkat telepon. Saya merasa berhutang budi. Sejak masuk Kupang tahun 1990, saya numpang sementara di Labat, kosan kaka Frans.

Di bidang militer, nama Atawai juga dikenal. Paulus Bala Lebaona, adalah putra asli Atawai yang dipercayakan sebagai Komandan Polisi Militer (PM) meliputi wilayah Flores barat hingga timur. Saat menyambangi rumah PM Polus (sebutan familiar bagi orangtua kami di kampung), ia masih energik. Apakah PM Polus Lebaona memiliki latar akademi militer sehingga ia dipercaya menjadi Komandan PM? Tidak. Ia hanya mantan tentara KNIL yang sangat disiplin dan setia menunaikan tugasnya.

“Kala itu tentara-tentara dari Jawa dan Bali kadang tak betah bertugas di Flores. Padahal jenjang kepangkatan mereka memadai. Pimpinan TNI di Bali akhirnya mencari putera-puteri NTT agar ditugaskan sebagai komandan PM. Saya akhirnya diberi mandat sebagai komandan PM. Lamber Emi Mudaj, bapa kecilmu itu tugasnya pikul senjata setiap saya bertugas baik di Flores barat hingga timur,” kata PM Polus Lebaona saat ngobrol di rumahnya yang sederhana di Ende di sela-sela mendampingi Viktor Bungtilu Laislodat-Josef A Nae kampanye Pigub tahun 2018.

Johnny Plate, Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia juga pernah menyambangi Atawai tatkala beliau masih menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Setiba di Boto dari Atawai, sinyal telekom baru terdeteksi. Atawai sungguh terpenjara akses telekom. Sekolah Dasar Katolik Atawai maupun pengurus Gereja Stasi St Rafael Atawai serta warga masyarakat setempat masih terpenjara akses informasi. Dua tahun belakangan, sedikit agak lega. Warga mulai merasakan sinyal telekomunikasi dari Adonara, pulau di beranda Lembata, meski timbul-tenggelam.

“Usai kunjungan Pak Johnny, kami sungguh berharap agar bisa dibantu Wifi di kantor desa atau rumah tinggal pastor di stasi Atawuwur. Apalagi saat ini Pak Johnny sudah dipercaya Bapak Presiden Jokowi sebagai Menteri Kominfo RI. Kami masih punya harapan sembari berdoa agar Wifi bisa kami miliki. Perangkat telekomunikasi itu bisa membantu anak-anak kami di tengah gempuran virus korona agar bisa belajar dari rumah,” kata Okto Labaona, mantan Kepala Desa Atawai.

Hari ini, Atawai merayakan Ulang Tahun ke-25. Kepada Pemerintah dan masyarakat saya ucapkan, “Selamat Ulang Tahun ke-25”. Terima kasih pula kepada para perintis, mantan kepala desa, dan para orangtua yang telah menanamkan semangat, spirit bagi pertumbuhan dan perkembangan Atawai hingga mencapai 25 tahun. Selamat berbahagia kepada Pemerintah Desa, BPD, warga masyarakat. Semoga semangat membangun tetap bersemayam dalam hati agar Atawai semakin maju dan sejahtera. Doa dan salam saya dari rantau. Tuhan berkati kita semua.

 

Jakarta, Maret 2021
Oleh: Ansel Deri

Komentar

Jangan Lewatkan