oleh

Menunggu Determinasi, Malaka Bangkit

Sebuah hari yang aneh. Beberapa waktu lalu saya diwawancara, terkait perspektif masa depan Kota Batam. Wawancara itu, akan jadi buku. Terus terang, saya membayangkan Norwegia. Negeri Skandinavia sangat maju ini, beberapa waktu lalu meminta Indonesia mereview draf Voluntary National Review (VNR) mereka (laporan progress SDGs yang disampaikan ke PBB).

Saya membaca dengan penuh minat draf yang beberapa bagian masih dalam bahasa Norway itu, salah satunya tentang kemajuan green shipping dan pelabuhan berkelanjutan mereka (sustainable port). Lalu, tentu juga saya membayangkan Shenzhen. Sebuah kawasan ekonomi khusus yang menjadi cikal bakal kedigdayaan industri China.

Namun Batam ternyata juga siap melangkah jauh, antara lain akan membuat pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) terapung terbesar di dunia. Bila ini terjadi, sungguh luar biasa. Batam akan bisa menjadi wilayah yang listriknya murni dari energi terbarukan. Tentu saja, termasuk juga pelabuhannya. Saya sungguh berharap, ambisi sebagai kawasan industri yang modern, kompetitif di tingkat dunia dan sekaligus berkelanjutan bisa terwujud.

Pagi-pagi memeriksa tulisan wawancara, transkrip yang menjadi artikel. Pagi setelah itu juga, mengisi acara panel dengan Bupati Malaka di Universitas Timor. Seperti kita tahu, NTT merupakan provinsi yang memiliki tingkat kemiskinan tinggi. Kabupaten Malaka adalah kabupaten baru yang belum berusia 10 tahun di NTT. Dari sini saja, sudah terbayang betapa banyaknya tantangan pembangunan.

Sebuah perubahan drastis. Dari membayangkan kota yang modern dan sustainable, lalu tiba-tiba fokus pada daerah yang memiliki tantangan begitu berbeda. Seperti biasa, saya sebelumnya benar-benar pelajari statistik wilayah terkait dan mencoba mendalami pula karakteristik wilayah itu, sambil berkomunikasi dengan pihak terkait. Dari pendalaman itu, saya menjadi begitu optimis.

Potensi Kabupaten Malaka untuk dikembangkan cukup banyak, dari pertanian dan peternakan melalui integrated farming (dan bahkan smart farming, electrifying agriculture dengan sustainable energy maupun pertanian presisi), serta menggunakan teknologi digital untuk membantu, termasuk mensiasati persoalan logistik. Lalu yang luar biasa, juga wisata alamnya.

Kebetulan pagi-pagi mendapat report McKinsey, tentang potensi besar trend revenge tourism yang lebih fokus pada experience, terutama para milenial. Wisata alam yg ekploratif penuh experience, termasuk belajar keunikan budaya masyarakat.

Wah, tentu ini pas banget dengan kondisi Kabupaten Malaka yang indah alamnya, air terjunnya dan pantai-pantainya. Lalu, Bupati Malaka (Simon Nahak) juga bercerita hal yang menarik. Ternyata di Malaka ada hal unik. Untuk mengambil madu, dibacakan mantra lebah-lebah akan pergi. Lalu, madu tinggal diperas tanpa takut disengat lebah. Selain itu, ada juga tempat yang buayanya bisa dipanggil datang oleh seorang nenek/kakek, lalu buayanya menyapa kita. Wow, ini eksotis banget.

Semoga banyak ide-ide konkrit yang didiskusikan di webinar, bisa direalisasikan. Saya agak trauma, beberapa waktu lalu presentasi usulan hal-hal konkret pembangunan di depan hampir seluruh anggota DPRD di salah satu kabupaten di NTT juga. Apresiasi sangat tinggi waktu itu. Lalu, sehabis bicara itu banyak sekali ditanya-tanya untuk eksplorasi. Namun, setelah itu saya pantau tidak ada perubahan.

Tetapi, saya cukup yakin dengan komitmen Bupati Malaka ini. Saya melihat, beliau punya determinasi. Ini adalah kunci perubahan. Semoga ada terobosan signifikan, semoga Kabupaten Malaka bisa menjadi contoh gebrakan inovasi pembangunan. Semoga..

Silakan akses youtube kesini yang berminat mengikuti acara webinar https://bit.ly/3AM2sAe.

 

Oleh: Setyo Budiantoro

Komentar

Jangan Lewatkan