oleh

Nabìt-Ngabut dan Asa di Tanah Congkasae

DI sebuah sudut rumah makan di belakang Gedung Makamah Konstitusi Republik Indonesia beberapa tahun lalu, saya mengenal Herybertus G. L. Nabit. Saya mengenal Hery dari kraeng tua Matias Mboi, seorang profesional muda asal Manggarai. Kraeng Matias ini ponakan Alm. Bapak Brigjen TNI Purn dr Benedictus Mboi, MPA. Ben Mboi pernah menjabat Gubernur Nusa Tenggara Timur. Bersama sang isteri, mantan Menteri KesehatanRI dr Nafsiah Mboi MPA, Ben Mboi tergolong Gubernur yang getol bicara masalah kesehatan masyarakat di kampung-kampung selama ia memimpin NTT.

“Kita makan sama-sama dengan kraeng Hery Nabit. Pas lagi istirahat jadi kita bergeser sebentar untuk makan siang,” kata kraeng Matias Mboi kepada saya di depan Gedung Makamah Konstitusi Republik Indonesia, Jalan Medan Merdeka, Jakarta.

Kraeng Herybertus G. L. Nabit tak pernah bersua langsung. Namanya familiar di kalangan rekan-rekan asal NTT, terutama dari Flores. Ia juga akrab di media sosial. Seorang tokoh muda terbilang sukses dari bumi Congkasae, Manggarai. Duduk sederet kursi di rumah makan di belakang gedung MK RI, ia ngobrol lepas seolah kami sudah lama bertemu. Gagasan tentang pembangunan lokal sangat bernas. Barangkali dilatari sebagian besar waktunya sebagai pengusaha lokal dengan jam terbang tinggi. Konon, ia rela menanggalkan posisinya sebagai aparatur sipil negara (ASN) dan melanjutkan profesinya sebagai pengusaha kemudian terjun dalam dunia politik.

“Saya sering mengikuti tulisan kraeng baik di DIAN, Flores Pos, Pos Kupang, Victory News, HIDUP dan beberapa media lain. Asyik membaca tulisan kraeng,” kata kraeng Hery Nabit. “Kraeng ini lama jadi loper koran eceran selama kuliah. Lalu mengakrabi dunia tulis-menulis,” kata kraeng Matias menimpali. Saya senyum-senyum saja. “Penulis asal Manggarai malah banyak dan hebat-hebat. Saya selalu belajar dari mereka untuk mengasah ketrampilan menulis,” ujar saya.

Nama Hery tak hanya familiar di telinga saya. Di kalangan warga asal Manggarai, nama ini sudah akrab. Pun di kalangan Gereja lokal di Keuskupan Ruteng maupun para pekerja sosial. Ketua Yayasan Santo Damian Cancar Sr Franselin SSpS dan rekan-rekan suster serta para penghuni Panti Rehabilitasi Sosial Cancar juga mengenal baik sosok Hery Nabit.

“Kalau tak salah, ayah Pak Hery Nabit pernah menjadi camat di wilayah kami. Orangtuanya sangat peduli dengan orang kecil terutama para penyandang masalah sosial,” kata Suster Franselin, yang selama puluhan tahun mengabdi di Panti Rehabilitasi Cancar. Biarawati asal Adonara berdarah Boto, Kecamatan Nagawutun, Kabupaten Lembata ini pernah mengabdi di Bima, Nusa Tenggara Barat dan Juba, kota negara Sudan Selatan sebelum kembali Indonesia dan dipercaya sebagai Ketua Yayasan Santo Damian Cancar yang mengelola Panti Rehabilitasi Sosial Cancar di Kabupaten Manggarai dan Panti Rehabilitasi Binongko di Labuan Bajo, Manggarai Barat dan di Pulau Sumba.

Jumat, 26 Februari 2021, Gubernur Nusa Tenggara Timur Viktor Bungtilu Laiskodat melantik Hery Nabit, SE, MA, dan wakilnya Heribertus Ngabut, SH sebagai Bupati dan Wakil Bupati Manggarai masa tugas 2021-2026. Duo Hery tentu bukanlah orang baru di Manggarai. Berbekal pengalaman selama ini, tentu keduanya diharapkan memaksimalkan sumber daya dan sumber dana, menggunakan tenaga dan pikiran mereka bersama masyarakat Manggarai memajukan tanah Congkasae lebih sejahtera, aman, dan damai. Bekerja sama dengan aparatur sipil negara dan semua elemen, entah Gereja, Masjid, dan lain-lain adalah mutlàk.

Manggarai dengan potensi kekayaan alam melimpah akan berdaya guna dan bermanfaat bagi kemajuan daerah di tangan pemimpin baru ini. Perhatian Presiden Joko Widodo kepada NTT selama ini adalah peluang duo Hery bersinergi dengan Pemerintah Provinsi NTT di bawah kendali Gubernur Viktor Laiskodat dan pemerintah pusat memajukan daerah menuju NTT yang sejahtera, aman, dan damai.

Selamat bertugas, kraeng Hery Nabit dan kraeng Hery Nabut. Mori sembeng.

 

Jakarta, 26 Februari 2021
Oleh: Ansel Deri

Komentar

Jangan Lewatkan