oleh

Nyiru Komoditas Andalan Golo Ara Warisan Leluhur

RADARNTT, Borong – Golo Ara, sebuah dusun kecil di desa Compang Wesang, kecamatan Lamba Leda Selatan, kabupaten Manggarai Timur, Flores, NTT. Dusun penghasil Nyiru, bagi warga dusun Golo Ara, Nyiru adalah kehidupan sebagai sumber pendapatan keluarga.

Ketua Dusun Golo Ara, Aleksius Kadur kepada media ini, Minggu (30/5/2021) malam, saat bertandang ke kampung itu menuturkan, dusun Golo Ara terdiri dari tiga rukun tetangga (RT), didiami kurang lebih 70 kepala keluarga (KK). Data per tahun 2019, jumlah masyarakat dusun Golo Ara kurang lebih 235 jiwa. Mayoritas warga dusun Golo Ara berprofesi sebagai pengrajin atau penganyam Nyiru berbahan bambu.

“Masyarakat dusun lebih menekuni pekerjaan menganyam Nyiru untuk menyambung hidup. Dari 70 kepala keluarga, mungkin hanya tiga atau empat saja yang PNS,” terangnya.

Florida Umat, salah seorang pengrajin Nyiru mengaku telah menekuni pekerjaan menganyam Nyiru sejak 10 tahun lalu.

“Kami tidak punya pekerjaan lain selain kerajinan tangan menganyam Nyiru, Keranjang dari bambu, dan tikar. Nyiru merupakan satu-satunya komoditas yang ada di kampung kami. Tanpa Nyiru, kami tidak bisa hidup,” ungkap Florida.

Ia menuturkan, penghasilan dari menjual Nyiru, warga dusun Golo Ara mendirikan kelompok masyarakat penganyam Nyiru berbasis gotong royong. Lebih dalam ia mengatakan bahwa setia tahun hasil jualan Nyiru mampu menyelesaikan persoalan sosial seperti membangun 1 unit rumah anggota kelompok.  Pengumpulan dana Biaya sekolah, dan urusan adat perkawinan bagi anggota kelompok keluarga baru.

“Kami secara gotong royong mengatasi persoalan kehidupan sosial kami di dusun Golo Ara, kami kompak, dan semua itu berkat dari menganyam Nyiru,” ungkap Florida.

Hal itu dibenarkan Fabianus Barut (42), Fabianus mengatakan bahan baku yang dipergunakan untuk keperluan menganyam Nyiru berasal dari kampung itu sendiri.

“Kami juga membeli bambu, tali pengikat dan peralatan untuk membuat Nyiru. Peralatan yang digunakan seperti pisau, gergaji, tang, parang dan penjepit,” jelas Fabianus.

Untuk menghasilkan Nyiru, rata-rara dia bekerja selama dua Minggu. Dalam dua Minggu, dari proses awal, sampai hasilnya, penganyam Nyiru bisa menghasilkan 20 buah Nyiru.

Hal yang sering menjadi kendala dalam proses pengerjaan, kata Fabianus, adalah ketersediaan modal. Ia melanjutkan hingga saat ini belum pernah mendapatkan bantuan pemerintah baik dari pemerintah desa, kecamatan maupun kabupaten.

“Sebenarnya kami membutuhkan bantuan permodalan untuk kami bisa produksi secara besar-besaran. Kami juga terkendala dengan pemasaran. Sehingga untuk memasarkan hasil anyaman kami, anak-anak kami membantu untuk menjual,” terangnya.

Anyam Nyiru, kata Fabianus merupakan tradisi yang telah diwariskan dari nenek moyang mereka untuk menyambung hidup di saat tidak memiliki pekerjaan lain.

“Kami hanya bisa menyambung hidup dari menganyam Nyiru. Hasil dari Nyiru yang kami jual sudah banyak yang sekolah bahkan kuliah. Dan banyak persoalan sosial masyarakat yang kami atasi secara bergotong royong,” tutupnya.

Masyarakat pengrajin Nyiru dusun Golo Ara siap menerima pesanan bagi para peminat dengan harga Rp25.000 per lembar Nyiru. (GN/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan