oleh

Padi Menguning Sawah Mengering

-Alor, Daerah-376 views

RADARNTT, Kalabahi – Puluhan hektar padi sawah di hamparan Pakilai yang mencakup tiga desa (Waisika, Nailang dan Kamot) di kecamatan Alor Timur Laut, kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur mulai menguning dan mengering sebelum bunting dan keluar malai.

Pilu dan pedih terasa menyayat hati. Kehidupan ribuan warga di tiga desa tersebut terancam. Sumber penghidupan mereka perlahan ambruk akibat dampak banjir bandang yang melanda daerah itu pada awal April lalu.

Banjir menghanyutkan bendungan di Bukapiting desa Waisika, yang menjadi satu-satunya sumber air irigasi untuk mengairi puluhan hektar sawah yang diusahakan petani selama ini.

Puing-puing Bendungan yang ambruk diterjang banjir bandang (Foto: El Asamau)

Tanah sawah mulai kering dan pecah karena tidak ada air, menyebabkan seluruh tanaman padi, palawija dan hortikultura yang diusahakan petani sebagai sumber pangan dan ekonomi masyarakat terancam rusak.

Rusaknya sumber penghidupan ini bakal berlanjut dalam waktu lama, jika tidak segera ditangani. Masyarakat setempat sangat mengharapkan dukungan pemerintah dan berbagai pihak agar air irigasi segera mengaliri saluran dan mengisi kembali pori-pori tanah sawah yang mulai pecah menganga sebelum musim kemarau tiba dan semakin memperparah kondisi.

“Kasihan masyarakat petani mulai mengalami kesulitan air untuk sekedar menyiram sayuran, apalagi untuk mengisi petak-petak sawah. Padi mulai menguning dan kering sebelum keluar malai,” tutur Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Waisika, Minggu (9/5/2021).

Jika kondisi ini terus berlanjut tanpa ada penanganan serius oleh pemerintah dan kepedulian berbagai pihak maka bencana kelaparan mengancam masyarakat di tiga desa yang berada di pusat kecamatan Alor Timur Laut, yang berada kurang lebih 30 kilometer dari Kalabahi kota Kabupaten Alor.

Sawah yang dilanda banjir bandang (Foto: PPL Desa Waisika)

Bendungan yang ambruk diterjang banjir bandang pada 4 April 2021 lalu harus segera dibangun kembali, jika ingin kehidupan ini masih terus berlanjut.

“Kita mesti mengupayakan agar puluhan hektar sawah ini kembali terisi air sebagai sumber kehidupan,” imbuhnya.

Diketahui bahwa pembangunan bendungan menjadi kewenangan pemerintah pusat melalui Balai Wilayah Sungai (BWS), sehingga pemerintah daerah melalui instansi teknis terkait perlu melaporkan kerusakan akibat bencana kepada pihak terkait untuk segera ditangani. (TIM/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan