oleh

Panen Raya Padi Sawah, Petani: Terima Kasih Bapak Presiden Telah Hadirkan Irigasi di Bangka Kantar

-Daerah, Matim-7.565 views

RADARNTT, Borong – Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai Timur melalui Dinas Pertanian menghadiri panen raya padi sawah di Desa Bangka Kantar, Kecamatan Borong, Rabu, 10 Maret 2021. Masyarakat sangat berterima kasih kepada Presiden Joko Widodo yang telah membangun irigasi persawahan itu dengan dana APBN.

Panen raya padi kali ini merupakan demplot uji coba aplikasi pupuk hayati Ni di salah satu sawah petani berlokasi di persawahan kampung Lodos, Desa Bangka Kantar Kecamatan Borong Kabupaten Manggarai Timur.

Kepala Dinas Pertanian melalui Sekertaris Dinas Yohanes Dalung, dalam kesempatan usai panen simbolis mengatakan bahwa sebagai pemerintah memiliki tugas banyak untuk mengatur dan mengayomi masyarakat. Dari berbagai instansi sesuai tupoksinya, untuk mengatur dan mengayomi masyarakat. Dinas pertanian, kata dia, memperhatikan masyarakat dengan memperhatikan kesejahteraan pangan dan apa yang dia makan.

Dikatakan Dalung, pemerintah daerah dalam hal ini dinas pertanian mengatur berbagai program bertujuan untuk kesejahteraan dan peningkatan ekonomi masyarakat khususnya para petani. Namun, kata dia, hal itu akan terjadi jika ada kerja sama.

“Bukan hanya pemerogram saja yang tikam kepala yang bekerja, tetapi juga penerima program, juga harus menerimanya dengan baik. Sehingga ada kerja sama, dan akhirnya menghasilkan sesuatu yang berguna bagi penerima program, pemerintah dan tentu juga berimbas kepada masyarakat lain,” tutur Dalung.

Menurut Dalung, kegiatan panen raya ini memiliki peran penting atas kerja sama. Ia mengatakan, misalnya, hasil panen pada hari ini akan dijual kepada masyarakat yang tidak memiliki sawah, masyarakat lain akan merasakan. Hal itu menurutnya merupakan pentingnya kerja sama, baik secara vertikal maupun horisontal.

Dalung juga mengatakan sangat berterima kasih kepada inisiatif pihak pemerhati petani yang dengan caranya sendiri mendorong para petani dalam upaya meningkatkan produksi pertanian.

“Mendengar pengakuan petani pemilik sawah, pada musim ini terjadi peningkatan hasil panen, ketimbang musim sebelumnya itu sangat bersyukur. Hal itu kalau memang baik baik seperti itu, kita dukung dan akan mengembangkannya dibeberapa wilayah yang lain sesuai dengan potensi wilayah kita masing masing,” tandasnya.

Dalung menilai, dari teknis yang diamatinya, proseduralnya belum bisa dijadikan rekomendasi. Hal itu menurutnya, karena tidak melalui prosedur kajian yang sesuai dengan aturan. Kata dia, secara kasat mata berdasarkan informasi pemilik lahan bahwa ada perbedaan hasil dengan musim panen sebelumnya.

“Hari ini kita datang melihat dan menimba ilmu dari pak Feri (distributor) dan pak Minggus (teknisi) sebagai pelaksana di lokasi ini. Untuk kita praktekan ini di wilayah kerja kita masing masing,” tutur Dalung.

Ia juga berterima kasih kepada anggota kelompok tani di desa itu yang telah berinisiasi untuk hadir mengikuti acara panen simbolis yang digelar di siang itu.

Sementara itu, Fery Nggaro, selaku distributor pupuk hayati biokonversi mengatakan bahwa produk biokoversi merupakan jenis pupuk organik yang berdampak positif terhadap kesuburan tanah dan tanaman.

Nggaro mengatakan bahwa trend teknologi pertanian pada saat ini adalah pengembangan pupuk organik. Menurut dia penggunaan pupuk organik juga berdampak positif terhadap kesehatan konsumen untuk mengurangi kadar kimia yang dikonsumsi oleh tumbuhan yang dijadikan makanan.

“Biokonversi merupakan pupuk organik yang perusahaan olahan dari bahan sampah organik dan memiliki kandungan nutrisi dan suplemen yang membatu meningkatkan produktivitas atau hasil pertanian,” jelas Nggaro.

Menurut Nggaro, pada saat ini pemerintah telah bekerja keras menuntaskan persoalan sunting. Lanjutnya, sunting juga merupakan dampak dari penggunaan pupuk dan obat obatan kimia secara berlebihan.

Menamba hal yang disampaikan Nggaro, Dominggus Malung mengatakan secara teknis pengelolaan sawah secara benar. Menurut Dominggus, setelah dibajak, hendaknya para petani diamkan sawah selama sepuluh hari. Hal itu menurutnya guna untuk mengurangi dan menghilangkan keasaman tanah.

Dikatakan Dominggus, terjadinya kekerdilan pada tanaman padi para petani disebabkan oleh keasaman tanah yang disebabkan oleh masa tanam yang begitu cepat.

“Kalau menanam padi dilakukan langsung setelah bajak, itu ibarat memberikan bayi makanan yang keras. Tingkat kehumusan tanah belum stabil, sebaiknya, setelah dibajak didiamkan selama sepuluh hari, agar tanahnya humus dan lembut,” tutur Dominggus.

Disampaikannya bahwa kehadiran pupuk hayati biokonversi juga hadir untuk mengurangi kadar kimia pada beras yang di makan para petani dari hasil panen. Dengan memiliki berbagai kandungan suplemen, pupuk organik yang diaplikasikan itu telah mendapatkan legalitas dari kementerian pertanian dan pengakuan dari control union certified.

“Artinya telah melakukan dengan berbagai riset secara ilmiah pupuk ini telah mendapat pengakuan dunia tentang kualitas yang juga akan mendorong peningkatan produksi,” tutur Dominggus.

Dalam sesi tanya jawab, menceritakan pengalamannya sebagai petani, Darius Agung, pemilik lahan sawah menyampaikan kecintaanya atas profesi petani.

Dihadapan para anggota kelompok tani dan para hadirin yang turut berpartisipasi dalam prosesi panen simbolis ia mengatakan bahwa berprofesi sebagai petani harus didasari oleh rasa cinta.

“Jangan menganggap profesi petani adalah posisi yang paling rendah dalam hidup ini. Kita sebagai petani harus menyadari bahwa petani adalah profesi yang paling tinggi,” tutur Darius.

Mendorong para petani yang masih bertahan pada profesi yang tinggi itu Darius berpesan untuk menjadi petani itu harus memiliki rasa. Menurutnya rasa yang dimaksudkan itu adalah mencintai tanaman yang dipelihara.

Dalam kesempatan itu Darius mengatakan bahwa kerap ia menilai tanaman yang ia pelihara di kebunnya adalah istri yang kerap ia bagikan cintanya.

Darius juga mengutarakan tentang perbedaan pencapaian atau peningkatan produktifitas selama ia bertani. Lebih dalam ia mengatakan bahwa selama ia berkebun di sawah yang berlokasi di kampung Lodos yang menjadi demplot contoh aplikasi pupuk Biokonversi terjadi peningkatan hasil produksi.

“Pada panen kali ini, dari hamparan satu hektar, saya mendapat hasil 7,40 tonase per hektare. Hal ini tentu sangat memuaskan. Walaupun belum maksimal melalui teknik yang direkomendasikan,” terangnya.

Dikisahkannya bahwa ia telah mengerjakan sawah miliknya di desa Bangka Kantar itu selama 4 musim berturut turut, hal itu menurutnya berkat air irigasi baru yang dibangun oleh pemerintah pusat melalui program Presiden Jokowi.

“Terima kasih bapak presiden, telah membantu kami masyarakat menghadirkan air irigasi untuk bisa jadikan lahan tidur kami menjadi sawah. Hal itu sangat luar biasa. Sekali lagi, Terima kasih bapak presiden,” tutupnya.

Terpisah, mendengar kabar diselenggarakannya panen Simbolis, melalui telepon selulernya, Silvester Mediator Rawan selaku Desa Bangka Kantar mengatakan terima kasih dan apresiasi terhadap pemerhati pertanian dan dinas pertanian yang telah hadir. Dikatakannya dengan hal demikian, warga masyarakat desa Bangka Kantar akan termotivasi untuk belajar menjadi petani.

Rawan mengatakan bahwa kehadiran persawahan di desanya merupakan potensi baru yang sangat luar biasa yang merupakan bentuk perhatian dari pemerintah pusat. Denga hadirnya air irigasi, kata Rawan, sangat meningkat nilai ekonomi masyarakat desa.

“Saya berharap dengan adanya irigasi yang dibangun Bapak presiden Jokowi, masyarakyat kita harus semangat dan segera memanfaatkan peluang ini untuk mulai memanfaatkan lahan tidur untuk dicetak menjadi sawah. Terimakasih Bapak Presiden, Kini kami punya sawah didekat rumah,” tutupnya. (GN/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan