oleh

Pemda Matim Klaim Aset TPU Ragok: Pemangku Adat Gendang Kantar: Itu Pekuburan Umum Milik Masyarakat

RADARNTT, Borong – Belum lama ini, Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19, Kabupaten Manggarai Timur, Bonifasius Sai mengatakan bahwa pasien Covid-19 yang meninggal akan dikuburkan di tempat pemakaman umum Ragok.

Dikatakannya melalui pesan WhatsApp bahwa Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Manggarai Timur (Matim) telah membeli tempat pekuburan umum Ragok sebagai aset Pemda.

“Aset pemda di Ragok diperuntukkan pekuburan umum dan penguburan pasien covid yang meninggal. Aset tanah di Ragok dibeli oleh pemerintah daerah tahun 2017,” tulisnya.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa sekarang pemerintah daerah melalui dinas pertanahan masih memproses sertifikat dengan badan pertanahan Manggarai Timur.

Pengakuan Juru Bicara Gugus Tugas Boni Sai berbeda dengan pengakuan Staf Ahli Bupati Bidang Kemasyarakatan dan SDM.

Sementara itu, Hila Jonta selaku Staf ahli Bupati Bidang Kemsyarakatan dan SDM mengaku bahwa aset Pemda itu dibeli sejak 2015 silam. Melalui pengadaan Dinas Sosial. Ketika ditanya soal dokumentasi Jual Beli, kata Hila, “Silakan tanyakan pada dinas terkait,” tegasnya.

“Pemerintah tetap komitmen untuk mengurus sertifikat tanah itu,” tegas Hila.

Sementara itu, saat ditemui media ini, Selasa (11/5/2021) di Rumah Gendang Kantar beralamat di Desa Compang Kantar Kecamatan Rana Mese, Fransiskus Akal selaku Ketua pemangku adat Tua Golo Gendang Kantar, mengatakan bahwa Ragok dahulunya adalah kampung. Kampung Ragok, lanjut kata Fransiskus bagian dari kekuasaan ulayat adat Gendang Kantar.

“Gendang Kantar, Poco’n le, tacik’n lau. Diatas ulayat Kantar, terdapat gendang Ledas di Toka desa Nanga Labang, sebagai anak Wina dari suku Sita. Karena gendang Kantar adalah salah satu suku Sita panga Alo (suku Sita cabang Delapan), Nenek moyang suku Kantar adalah Dara sulung dari delapan cabang suku sita. Disaat acara ritual adat pengukuhan dengan kerbau putih di gendang Ledas Toka, Gendang Niang Sita Memberi kuasa kepada selaku kuasa Adat, Nenek Lagur, Atau yang dikenal Popo Ku selaku Kepala Kantar,” ungkap Fransiskus tegas.

Selain gendang Ledas Toka, kata Fransiskus, ada juga Gendang Watang Jawang yang merupakan gendang pemberian dari Suku Kantar.

Diceritakan Fransiskus, yang menjadi Tua Golo Gendang Kantar sebelumnya dijabat oleh Nenek Aka dan Empo Ragang. Lanjutnya lagi, Setelah itu, dilanjutkan oleh Kakek Petrus Sempaga, Paulus Nanggur, dan Kanisius Kaal, selaku tua Golo atau Pemangku Adat Suku Kantar. Kakek Paulus Nanggur sebagai Tua teno. Selanjutnya mereka memilih saya untuk mendiami Rumah Adat Kantar hingga Saat ini.

Lebih lanjut ia bersejarah, dahulu Ragok terjadi kejadian dahsyat yakni dilanda Wabah dan banyak meninggal dunia. Hal tersebutlah yang membuat masyarakat yang tinggal di kampung Ragok pindah dan menyebar di beberapa kampung yakni Kampung Jengok, Lodos, Longko, Mondo, Golo Kantar, dan bahkan ada yang tinggal dia desa Nanga Labang.

Berangkat dari situ, setelah masyarakat berpindah kampung, Ragok dijadikan tempat pekuburan umum masyarakat dari empat anak kampung.

Terkait pengakuan ada empat Tua Golo yang lain, dengan tegas Fransiskus Akal mengatakan kalau benar demikian, dimana Gendang One dan Lingko Peang yang mereka miliki.

Tanah Pekuburan umum Ragok adalah tempat penguburan umum masyarakat.

Fransiskus menuturkan sebagai Tua Golo Gendang Kantar, kami belum tahu tanah itu dijual. Lebih tegas ia mengatakan bahwa, tanah Ragok tidak akan dijual.

“Kami tidak akan menjual tanah pekuburan umum itu, karena tanah itu bersejarah dan tempat penguburan nenek moyang kami dan masyarakat empat anak kampung sejak jaman nenek moyang, kurang lebih didalamnya terdapat 500 lebih kubur,” tegas Fransiskus.

Terkait pengakuan Pemda Matim mengklaim telah membeli tanah pekuburan yang sudah dipenuhi dengan kuburan masyarakat, kata Fransiskus, “Hal itu sangat bodoh dan tidak masuk akal,” tandasnya.

“Kok Bisa, pemerintah dalam pengadaan aset Pemda Matim membeli tanah yang tidak bersertifikat, lebih anehnya beli dari oknum yang mengaku sebagai tua golo, sedangkan di kampung Jengok, Lodos, Longko dan Mondo tidak punya Rumah Gendang,” tegasnya.

Dikatakannya kepada media ini siang itu, Tanah Ragok tidak pernah dijual, dan Itu Tanah Kuburan Masyarakat umum empat anak kampung. Lagi- lagi, ungkap Fransiskus, kami tidak menjual Tanah Kuburan Nenek moyang Kami.

Untuk diketahui, saat melakukan penelusuran pada Selasa, (11/5/2021) sore, Pekuburan Ragok telah dipenuhi oleh kuburan masyarakat.

Untuk memastikan bukti legalitas aset Pemda tanah pekuburan Ragok, Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah, Yustinus M Nana mengatakan hingga saat ini, bagian Arsip daerah belum memegang bukti berupa sertifikat tanah pekuburan umum.

Aset Pemda Matim pengadaan sejak tahun 2020, aku Yustinus, masih dalam penelusuran aset Pemda di setiap OPD yang melakukan kegiatan itu.

“Sejak tahun 2020 hingga saat ini kami sedang melakukan penelusuran disetiap Dinas yang melakukan itu sebagai aset Pemda,” terang Yustinus.

Sementara itu, saat ditemui Media Ini di ruang kerjanya, pada Senin (10/5/2021) Hila Jonta, Staf Ahli Bupati Bidang Kemsyarakatan dan SDM dalam konteks penyelesaian tanah, sebagai Ketua Tim penyelesaian konflik tanah Matim mengatakan bahwa Pemda Matim membeli tanah tersebut sejak 2015 silam.

“Pemda telah membeli tanah itu untuk penguburan korban Covid-19 dan tempat pemakaman pahlawan sejak pada tahun 2015 silam. Dan Kami akan terus melanjutkan urus sertifikat tanah itu,” terangnya.

Hingga berita ini diterbitkan, awak media telah berupaya untuk menghubungi dinas sosial selaku dinas terkait pengadaan aset tanah Pemda Matim, namun belum berhasil. (GN/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan