oleh

Pro Kontra Pabrik Semen di Manggarai Timur

RADARNTT, Borong – Rencana pembangunan pabrik semen di desa Satar Punda, kecamatan Lamba Leda, kabupaten Manggarai Timur menuai pro dan kontra, sebagaian warga menolak kehadiran pabrik semen karena trauma pengalaman buruk dari perusahaan tambang mangan yang sebelumnya pernah beroperasi selama belasan tahun.

Bupati Manggari Timur, Agas Andreas mengaku sudah mengeluarkan ijin lokasi pabrik di Luwuk berdasarkan rekomendasi badan Pertanahan, sedangkan ijin tambang di Lingko Lolok belum dikeluarkan. Menurut Agas, ijin tersebut hanya untuk lokasi pabrik bukan ijin tambang karena ijin untuk penambangan bukan kewenangan bupati.

Meski sudah mendapat lampu hijau dari bupati kehadiran dua pabrik semen didesa satar punda ini masih pro dan kontra. Alasan warga menerima dan menolakpun sangat bervariasi. Seperti yang diungkapkan Barnabas Raba, dia menerima pabrik di kampungnya karena sejak awal pihak perusahaan melakukan pendekatan adat budaya kepada warga setempat.

Masyarakat yang menolak dengan rencana pembangunan pabrik semen ini, lantaran mereka tak mau direlokasi demi kepentingan pembangunan pabrik semen tersebut. Tak cuma itu, bahan baku gamping untuk semen juga akan diambil dari lahan di wilayah Kampung Lingko Lolok. Dalam rencana pembangunan, warga Kampung Lingko Lolok akan direlokasi oleh perusahan, sementara warga di Torong Luwuk, tidak terkena relokasi.

Warga Torong Luwuk, Maksi Rambung, yang ditemui wartawan di kediamanya, Kamis (7/5/2020) mengatakan menolak rencana pabrik semen di wilayah itu. Alasanya karena lahan masyarakat disana terbatas, dan disitu menjadi tumpuan hidup masyarakat. Selain itu, tanah yang ada itu warisan nenek moyang. Masyarakat belum tahu apa nanti keuntunganya bagi masyarakat setempat.

“Kalau saya lihat, di Torong Luwuk ini tidak hanya untuk lokasi  pabrik, tapi juga tambang untuk bahan baku semen itu sendiri. Karena disini juga ada potensi mangan dan batu gamping. Karena perusahan sudah lakukan eksplorasi,” tutur Maksi.

Sementara warga yang kontra di Lingko Lolok, Isfridus Sota, juga senada dengan Maksi. Isfridus tidak mau tanah warisan leluhur dijual dan dirusaki. Dia juga menjaga keselamatan kampung Lingko Lolok, karena di dalamnya ada rumah adat, tempat mesbah, dan gereja.

“Dasar saya tolak, ini tanah warisan nenek moyang. Ada kecemasan dan sedih, kalau tanah ini dijual ke perusahan semen, bagaimana dengan anak cucu nanti. Saya juga berpikir soal dampak sosial dan lingkungan untuk kampung sekitar kalau perusahan beroperasi,” ungkapnya.

Sedangkan warga yang pro dengan rencana pembangunan pabrik semen ini beralasan ada banyak keuntungan bagi warga dan wilayah itu pasti maju atau bekembang. Terkait dampak, warga tahu dan perusahan sendiri sudah siap untuk bisa mengatasi dampak itu.

“Alasan warga menerima rencana pembangunan pabrik semen karena sebelumnya pihak perusahaan melakukan survei lokasi kegiatan yang diawali dengan ritus adat sesuai permintaan warga Luwuk,” kata Barnabas ketika dikonfirmasi Tagar, Kamis, 11 Juni 2020.

Ia menjelaskan sebelum survei, pihak perusahaan meminta izin ke tetua adat, dengan begitu setelah melakukan survei pihak perusahaan juga melaporkan hasilnya ke masyarakat secara adat sesuai permintaan masyarakat luwuk.

Menurut pihak perusahaan, setelah melakukan survei, kampung Luwuk tidak di relokasi melainkan rumah penduduk yang direnovasi. Hasil kesepakatan antara warga pihak perusahaan biaya renovasi rumah warga luwuk sebesar Rp50 juta per kepala keluarga dan biaya ini tidak termasuk harga tanah dan tanaman.

“Dari 70 kepala keluarga, 63 orang menerima pabrik semen sedangkan 7 kepala keluarga yang menolak kehadiran pabrik semen,” ujar Barnabas.

Dikatakannya, warga yang menerima pabrik semen sudah menerima uang renovasi. Tahap pertama Rp10 juta, tahap kedua Rp10 juta dan minggu depan tahap yang ketiga akan memerima Rp30 juta, sehingga totalnya Rp50 juta.

Sedangkan warga yang pro dari Kampung Lingko Lolok, Klemens Saldin dan Benediktus Uni, mengatakan mereka mendukung kehadiran pabrik semen di wilayah itu. Atas dukungan itu, mereka rela direlokasi ke pemukiman yang baru. Tidak hanya itu, mereka juga rela semua lahan miliknya dijual ke pihak perusahan dengan kesepakatan yang ada.

“Kalau untuk tambang mangan, kami tidak dukung. Tapi karena ini untuk investasi pabrik semen, kami mendukung. Penghasilan kami disini hanya dengan jual kayu api dan hasil jambu mete. Itu pun jambu mete panen setahun sekali. itupun kalau tidak terserang penyakit. Tanahnya tidak bisa menghasilkan apa-apa, sehingga hidup kami tetap miskin,” ungkap Klemens.

Klemens sendiri mengaku, warga sudah menghitung, keuntungan ekonomi jika pabrik itu dibangun. Tentu bisa membawa perubahan. Salah satunya, mereka bisa sekolahkan anak ke jenjang yang lebih tinggi. Warga lain juga bisa dipekerjakan di perusahan pabrik semen. Klemens juga mengaku, dia menerima bukan karena dipaksa.

Sementara di Kampung Torong Luwuk, terdapat 74 KK, dan yang menolak pabrik semen ada sebanyak 7 KK. Sehingga total yang menolak atau kontra dari dua kampung itu, ada 9 KK. Pemerintah desa sangat menghormati semua keputusan masyarakat. Karena kepentingan untuk pabrik semen itu ada di atas lahan milik masyarakat.

“Kami dari pemerintah desa tidak pernah mengintervensi. Kehadiran pabrik semen ini, kami dari pemerintah desa pasti mendukung. Karena menciptakan lapangan kerja dan juga memberi pekerjaan bagi pengangguran di desa Satar Punda. Lihat persentasi dari masyarakat, kami juga pasti dukung. Tapi intinya tetap pada keputusan masyarakat,” pungkas Fransiskus. (Hendra Budianto Barus)

Komentar

Jangan Lewatkan