oleh

Ritual Pasola Tetap Dijalankan Para Rato Tanpa Atraksi

RADARNTT, Waikabubak – Menjelang pelaksanaan Pasola di tiga kecamatan, yakni kecamatan Wanokaka, Lamboya dan Laboya Barat. Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Sumba Barat menggelar rapat koordinasi penyamaan persepsi bersama para Rato Adat agar atraksi yang melibatkan banyak orang tidak dilakukan pada masa pandemi Covid-19, disepakati acara ritual adat Pasola tetap dijalankan Rato Adat tanpa atraksi yang melibatkan banyak orang.

Rapat penyamaan persepsi ini dipimpin Bupati Sumba Barat Agustinus Niga Dapawole didampingi penjabat Sekda Daniel Pabala, Kapolres Sumba Barat AKBP FX Irwan Arianto dan Dandim 1613 Sumba Barat Letkol Czi Irawan Agung Wibowo, berlangsung di ruang Rapat Bupati, Kamis (14/01/2021).

Rapat dihadiri Para Asisten, Kepala Dinas Kesehatan, Kepala Dinas Pariwisata, Kepala Kesbangpol, Camat Wanokaka, Camat Lamboya, Camat Laboya Barat dan para Rato Adat dari ketiga Kecamatan.

Kapolres Sumba Barat AKBP FX Irwan Arianto pada kesempatan itu mengatakan, pelaksanaan pesta adat Pasola di tiga kecamatan di kabupaten Sumba Barat tahun ini tentunya tidak sama dengan tahun sebelumnya, karena masih dalam masa Pandemi Covid-19 yang melanda dunia dan Indonesia serta Sumba Barat khususnya.

“Untuk pelaksanaan ritual adat yang berkaitan dengan budaya atau adat Pasola tetap dilaksanakan dan atraksinya dilakukan secara simbolik. Sedangkan  kerumunan massa yang menghadirkan orang banyak kami tidak ijinkan, termasuk mobilisasi massa yang datang menonton pasola. Karena kita masih dalam situasi Pandemi Covid-19 yang dirasakan sampai saat ini,” tegas Kapolres.

Kapolres Sumba Barat juga menegaskan, tidak diperbolehkan adanya kerumunan massa atau mobilisasi massa, itu sudah berdasarkan Maklumat Kapolri untuk TIDAK MENYELENGGARAKAN PERTEMUAN/ KEGIATAN YANG MENGUNDANG KERUMUNAN ORANG BANYAK DI TEMPAT UMUM.

“Apabila ada perbuatan yang melanggar Maklumat Kapolri maka setiap anggota Polri wajib melakukan tindakan yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan,” tegas Kapolres.

Untuk itu, ia mengharapkan kerja sama dari semua pihak, dari Pemerintah, TNI -Polri untuk sama-sama menjadi corong dan pemberi informasi kepada masyarakat terkait hasil kesepakatan pertemuan yang kita laksanakan pada hari ini.

“Sehingga kita tetap menjaga keselamatan rakyat dan tetap menjalankan protokol kesehatan dalam melaksanakan aktifitas sehari-hari,” tegas Irwan Arianto.

Menutup pembicaraannya, Kapolres kembali menegaskan, kegiatan yang bersifat mengumpulkan banyak orang tidak diizinkan oleh Polres Sumba Barat.

“Dan kita harus bisa mengetahui mana yang menjadi Adat, kebudayaan dan kebiasaan, sehingga di dalam pelaksanaannya kita sudah bisa memahaminya,” tutup Kapolres.

Dandim 1613 Sumba Barat Letkol Czi Irawan Agung Wibowo juga menyampaiakan hal serupa bahwa, pelaksanaan pasola tahun ini sebenarnya tidak dilaksanakan karena bakal menghadirkan orang banyak atau kerumunan orang, akan tetapi pelaksanaan ritual adat Pasola tetap dilaksanakan.

“Untuk Pelaksanaan atraksi dapat dilakukan secara simbolik dikarenakan kita masih dalam masa Pandemi Covid-19 yang masih terjadi di seluruh Indonesia,” kata Dandim.

TNI -Polri tetap melakukan pengamanan proses ritual adat, lanjutnya, melalui Danramil, Kapolsek, Babinsa dan Bhabinkamtibmas kami akan sampaikan secara berjenjang untuk dapat menyampaikan informasi ini.

“Sehingga kita tetap menjaga keselamatan rakyat dan terbebas dari penyebaran Covid-19 di Kabupaten Sumba Barat,” tutur Agung Wibowo.

Menanggapi hal yang disampaikan oleh Kapolres dan Dandim, maka Rato Adat dari tiga Kecamatan, yakni Laboya Barat, Lamboya dan Wanokaka bersepakat dan mendukung untuk acara ritual adat pasola tetap dijalankan, tetapi antraksi yang melibatkan banyak orang tidak dilaksanakan.

Rato Adat Gaura Ote Daro mengatakan, sebagai rato adat kami bersepakat untuk acara ritual adat pasola dan antraksi secara simbolik tetap dijalan, tetapi antraksi yang melibatkan orang banyak tidak diijinkan.

“Setelah para Rato Adat dari kedua kubu selesai saling melempar lebing sebanyak tiga kali, maka para Rato langsung pulang ke rumah masing-masing untuk menghindari kerumunan massa,” tutur Ote Daro

Rato Adat Hodana Talo Goro (Suku Ana Malangta) sebagai Rato Adat yang merupakan pusat dari semua ritual adat yang ada di Lamboya, Talo Goro mengatakan bahwa secara adat tidak masalah jika antraksi yang melibatkan banyak orang tidak dilakukan, yang terpenting adalah acara ritual adat (sembhayang) yang dilakukan oleh para rato, baik antraksi pasola pantai maupun antraksi pasola di lapangan dilaksanakan secara simbolik.

Beberapa kesepakatan bersama dalam rapat penyamaan persepsi bersama Tokoh Adat (Rato) yang menjadi keputusan akhir, yakni:

Pertama, seluruh tokoh adat (Rato) yang ada bersepakat melakukan pembatasan pelaksanaan Pasola di masa pandemi Covid-19.

Kedua, pelaksanaan Acara Ritual Adat Pasola tetap dilaksanakan oleh para Rato Adat, tetapi antraksi yang melibatkan banyak orang (mobilisasi massa) tidak diperbolehkan di masa pandemi Covid-19.

Ketiga, akan dikeluarkan Surat Penegasan hasil rapat koordinasi ini. (AG/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan