oleh

SMA Negeri 1 Borong Terapkan Ujian Berbasis Komputer dengan Aplikasi Android, Wujud Digitalisasi Pendidikan

RADARNTT, Borong – Lembaga pendidikan Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Borong di Desa Sita Kecamatan Rana Mese Kabupaten Manggarai Timur menggelar Ujian Sekolah Berbasis Komputer dengan menggunakan Aplikasi Android, Senin, (22/3/2021).

Menggunakan sistem aplikasi Android ini sebenarnya bukan karena kebetulan. Tetapi sudah menjadi program yang telah direncanakan tahunan. Setiap tahun SMAN 1 Borong memiliki target perencanaan. Baik rencana kerja satu tahun berjalan, lima tahun, dan sepuluh tahun.

Demikian disampaikan Kepala SMA Negeri 1 Borong, Ferdinandus Fifardin ,S.Pd kepada media ini di ruang kerjanya setelah memantau pelaksanaan ujian sekolah berbasis komputer menggunakan aplikasi Android, Senin, (22/3/2021) siang.

Fifardin mengatakan, semenjak kehadirannya pada Juli 2015 lalu ia telah melihat situasinya bahwa pada sekolah itu memiliki kekurangan. Yakni, kekurangan gedung. Setahun pertama dengan berbagai upaya,ia berkomunikasi dengan pihak pemerintah pusat untuk menghadirkan gedung. Ia mengaku, hal itu sudah sukses dan pemerintah pusat telah mengalokasikan gedung pada saat itu.

“Setelah memperjuangkan ruang kelas, Saya coba komunikasi lagi untuk menghadirkan ruangan perpustakaan, puji Tuhan pemerintah juga mengabulkan,” tutur Kepala sekolah yang sudah mengabdi 6 tahun itu.

Sesuai dengan target perencanaan tahunan, seiring berjalannya waktu, perubahan perubahan semakin nampak hingga pada tahun ketiga. Lebih lanjut ia mengatakan, masih ada hal yang belum ada dikala itu. Dan harus dihadirkan pada saat itu. Yakni laboratorium komputer.

“Pemerintah juga telah mengalokasikan laboratorium dan ternyata setelah ada lab. Komputer, pemerintah pusat menekan pemerintah Provinsi NTT untuk mengakomodir kebutuhan kami pada saat itu, dan akhirnya kami memiliki Laboratorium Komputer,” terang Fifardin.

Terkait penyelenggaraan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) pada tahun 2017, ia mengaku selain SMK, satu- satunya SMA yang menerapkan itu adalah SMA Negeri 1 Borong, demikian Fifardin.

“Pada saat itu melaksanakan ujian nasional berbasis komputer (UNBK) menggunakan Komputer,” tuturnya.

Seiring berjalannya waktu, perkembangan teknologi maka teknologi komputer ini pun akan ditinggalkan dan menuju perubahan menggunakan sistem aplikasi Android. Kata Fifardin, kita harus bisa mengambil peluang tersebut sebagai suatu hal yang harus dipelajari sesuai dengan tuntutan jaman.

“Pada tahun kemarin (2020) kita coba menerapkan untuk ujian semester anak-anak menggunakan handphone Android. Hal itu sangat mudah untuk anak-anak. Karena anak-anak pada saat ini sangat dekat hubungannya dengan handphone berbasis Android, apa lagi didukung oleh fasilitas yang menunjang berupa Wireless Fidelity (WiFi) gratis ,” tutur Fifardin.

Penggunaan Aplikasi Android, kata dia, lebih mudah dikarenakan medianya adalah HP, dan setiap siswa saat ini hampir semua memiliki HP. Dibandingkan menggunakan komputer, tentu stoknya terbatas. Sehingga dalam penerapannya, USBK, harus sip-sipan atau menggunakan jadwal. Semisal, kata dia, untuk mata pelajaran yang sama, sip-sipan pertama, 50 orang siswa, kemudian kedua 50 orang lagi sesuai dengan kuota komputer, dan hal itu memakan banyak waktu.

“Saya selalu menekankan bahwa pentingnya penggunaan teknologi itu lebih penting pada proses bukan hanya pada sebuah hasil akhir dari proses. Semakin banyak guru yang menggunakan teknologi Android ini, maka itu bagian dari pada sebuah proses pembelajaran dan banyak guru dari SMA Negeri 1 juga melakukan proses pembelajaran terhadap penggunaan aplikasi itu,” terangnya.

“Seperti pada tahun ini guru tidak disibukkan dengan bagaimana memeriksa hasil jawaban dari siswa karena sebelumnya guru telah menginput soal ujian dengan jawabannya dengan sendirinya siswa juga pada saat selesai mengerjakan soal-soal ujian mereka akan tahu berapa nilai yang akan mereka peroleh dari hasil belajar,” tandasnya.

Terkait penerapan USBK dengan menggunakan aplikasi Android, hingga pada pemahaman para guru mengoperasikannya, itu merupakan sebuah pencapaian besar SMA Negeri 1 Borong. Walaupun terletak di Kampung, kata dia, lembaga pendidikan ini sudah menerapkan sistim yang telah diterapkan oleh pendidikan di kota besar.

Terkait pencapaian target tahunan, menurutnya setiap tahunnya akan ada target pencapaian. Walaupun, kata dia, tidak 100 persen penerapannya tidak sesuai dengan perencanaan tetapi minimal harus ada yang dikerjakan dalam setahun berjalan dan itu merupakan lompatan-lompatan menuju perubahan.

“Saya tidak tahu apakah besok- besok ada yang lebih baik dari Android dan hal ini perlu kita belajar. Teringat dengan pernyataan Menteri Pendidikan Nasional yaitu kedepannya arah pendidikan menuju arah digitalisasi pendidikan dan hal itu kita harus taat. Apalagi, Menteri kita adalah orang teknologi. SMA Negeri 1 Borong harus berkomitmen untuk menjadi yang lebih awal menerapkan sistem Digitalisasi itu,” tegasnya.

Dia mengatakan pada saat awal-awal penerapan kurikulum K13 di seluruh Kabupaten Manggarai raya khususnya Manggarai Timur sekolah yang pertama kali menerapkan kurikulum K13 adalah SMA Negeri 1 Borong. Hal itu, kata dia, menjadi orang yang pertama atau lembaga yang pertama menerapkan itu akan menjadi jauh lebih profesional ketika sekolah lain baru belakangan menerapkannya.

Terkait fasilitas yang disediakan oleh lembaga pendidikan Ini, kata dia selain dari gedung ruang kelas, perpustakaan laboratorium komputer yang lengkap, SMA Negeri 1 Borong juga telah menyediakan kantin sekolah bertujuan agar para siswa siswi dalam memenuhi kebutuhannya selama jam sekolah tidak harus keluar kompleks sekolah.

“Selain itu juga fasilitas yang disediakan oleh sekolah adalah menyediakan wifi gratis agar anak-anak dengan secara leluasa mendapatkan pelajaran yang berbasis atau bersumber dari internet,” demikian Fifardin.

Kepada para calon siswa se Kabupaten Manggarai Timur ia berpesan agar apabila ingin mendaftarkan diri di sekolah SMA, sivitas lembaga pendidikan SMA Negeri 1 Borong telah menyediakan fasilitas yang menunjang dan cukup menjawab tuntutan zaman.

“Lembaga pendidikan SMA Negeri 1 Borong dengan penuh kesiapan menjadi tempat yang nyaman untuk bisa memberikan transformasi pendidikan kepada siswa-siswi yang ingin belajar bersama kami sesuai dengan tuntutan zaman,” tutur Fifardin.

Pada kesempatan yang sama kepada media ini, Filipus Paini, salah seorang guru yang bertugas di SMA negeri 1 Borong selaku aplikator yang mempopulerkan aplikasi yang berbasis Android ini mengatakan bahwa penggunaan aplikasi Android ini juga cukup membantu agar kontak langsung dengan para siswa itu tidak terlalu dekat karena medianya adalah menggunakan handphone kemudian selain itu juga cukup membantu penghematan biaya operasional .

Filipus mengatakan, coba bayangkan apabila masih menggunakan paper atau kertas, maka penggunaan dana operasional untuk memfoto copi lembar soal dan jawaban itu sangat besar. Terangnya, berbeda dengan penggunaan aplikasi Android hal itu menurut dia sangat terjadi penghematan secara besar-besaran.

Ia juga mengatakan berkaitan dengan penggunaan aplikasi Android dirinya mengetahui hal itu dengan pengetahuan otodidak.

Filipus mengaku, penerapan ujian berbasis komputer menggunakan aplikasi Android pada saat hujan sekolah untuk siswa kelas 3 yang hendak tamat dari SMA Negeri 1 Borong sedikit mudah dalam penerapannya. Hal itu kata dia, saat ini banyak para guru yang telah memahami penggunaan aplikasi Android ini.

“Sedikit berbeda dengan sebelumnya, kita pernah mencoba pada ujian semester kali lalu, tetapi agak susah. Hal itu karena yang mengendalikannya hanya saya sendiri,” tutur Guru alumni Bali itu.

Menambah hal yang disampaikan dari gurunya, Maria Jessica Juliani (17), salah seorang siswa jurusan IPA kelas XII kepada media ini mengatakan bahwa dirinya sangat merasa bersyukur dan berterima kasih karena civitas lembaga pendidikan SMA Negeri 1 Borong telah memberi ruang kepada siswanya untuk belajar menggunakan sistem Aplikasi Android. Hal itu menurutnya sangat sesuai dengan situasi dan kondisi siswa pada saat ini yakni sangat erat hubungannya dengan penggunaan HP Android.

“Sekolah telah memfasilitasi kami dengan penggunaan sistem aplikasi Android hal itu merupakan hal baru dan tentu dalam penerapannya kami juga telah melakukan simulasi dimana itu merupakan bentuk bagaimana sekolah menyesuaikan kami dengan sistem aplikasi Android yang diterapkan,” kata Juliani.

Penerapan sistem aplikasi Android ini, menurut Juliani cukup bagus. Sejauh ini dirinya mengaku, belum menemukan kendala. Hal itu juga berkat dukungan dari ketersediaan wifi gratis di sekolah SMA Negeri 1 Borong.

Juliani mengatakan untuk memilih lembaga pendidikan sebagai tempat belajar tidak perlu harus mencari sekolah di kota tetapi kata dia harus memilih sekolah yang memiliki fasilitas penunjang yang dapat memberikan kenyamanan bagi siswa-siswi untuk belajar khususnya tuntutan zaman di era digitalisasi.

“Kesuksesan itu ada ketika pertemuan antara kesempatan dan kesiapan kita,” tutup Juliani.

Menambah apa yang disampaikan oleh temannya, Maria Soniati siswi kelas 12 SAMN 1 Borong, mengatakan bahwa menerapkan sistem aplikasi Android merupakan bukan hal yang asing bagi siswa-siswi pada zaman sekarang hal itu disebabkan karena kehidupan pada zaman sekarang sangat erat hubungannya dengan penggunaan Handphone Android.

“Saya cukup prihatin keberadaan beberapa sekolah di luar sana yang dalam melaksanakan ujian berbasis komputer harus mencari tempat di luar sekolah untuk mencari jaringan. Hal itu merupakan salah satu tantangan penerapan ujian berbasis komputer apalagi sistem Android,” tandasnya.

Sonia mengaku, dirinya sangat bersyukur, belajar di lembaga pendidikan yang terletak di Desa Sita itu belum mengalami kendala seperti itu.

” Sejauh ini, kami belum mengalami kendala terkait jaringan. Dan yang tidak kalah penting, sekolah telah menyiapkan fasilitas lab. Komputer, tablet sekolah dan handpone,” tutup Sonia. (GN/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan