oleh

Tak Sekadar Dalam Ruang Kelas

JUMAT, 22 Januari 2021. Pukul 12.00 WIB lebih. Umat Islam di Jakarta tengah khusuk dalam ibadah sholat Jumat dengan tetap berpatok pada protokol kesehatan di tengah deraan virus korona yang mengglobal (pandemik). Saya percaya, doa saudaraku sekalian umat Islam juga memohon agar virus korona segera hilang dari muka bumi.

Tak hanya warga masyarakat di perkotaan dibikin kelimpungan menyusul virus berbahaya itu yang muasalnya dari kandang binatang di Wuhan itu. Kemudian melanglang buana menyasar hampir separuh permukaan bumi dan melumpuhkan tak hanya manusia namun juga geliat ekonomi. Virus juga membuat para pemimpin negara-negara dunia seolah tak berdaya. Jutaan manusia meregang nyawa. Sebagian besar beralamat di bangsal-bangsal rumah sakit dan dalam pengawasan para petugas medis. Negara-negara berlomba-lomba memproduksi vaksin anti virus agar meredam laju pergerakan virus dalam tubuh manusia.

Dari Boto, kampung halaman saya, cerita virus berbahaya itu juga melahirkan kewaspadaan tingkat tinggi. Gerak warga masyarakat baik Desa Labalimut dan Belabaja (Boto) nyaris dalam tata aturan protokol kesehatan (prokes). Dunia pendidikan pun “terpapar” aturan prokes korona demi menjaga para guru, anak didik, orangtua murid, dan warga kampung tetap sehat.

“Proses belajar mengajar kami sepakati bersama. Setiap guru mengunjungi satu rombongan belajar 4 sampai 5 orang. Anak-anak diberi tugas lalu hasilnya diambil kembali gurunya. Saya menunggu hasil kerja siswa di sekolah. Mau belajar online, tak mungkin karena nyaris semua murid tak punya handphone. Lagi pula jaringan internet sekolah belum ada. Seteleh beres, saya ambil parang lalu menuju kebun di Grobetalak. Mengharapkan gaji di tengah pandemi covid-19 bisa menyulitkan kami,” kata Frans Pati de Ona, Kepala SD Inpres Labalimut (Boto), Kecamatan Nagawutun, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur.

Ada dua hal menggembirakan saya. Pertama, guru Frans menyebut Grobetalak. Grobetalak nama yang familiar. Sebuah wilayah pertanian potensial warga kampung kami antara Boto dan Loang, ibu kota Kecamatan Nagawutun setelah lama pìndah dari dusun Boto (Labalimut). Bergerak dari Boto arah Loang mata kita akan disuguhi pemandangan alam nan indah. Kebutuhan makan minum orang-orang kampung mayoritas bersandar di area pertanian antara Boto-Loang.

Kedua, seĺain tentu daerah pertanian di lereng Labalekan, gunung tertinggi di Lembata di wilayah selatan Lembata. Lereng gunung itu setiap musim akan sangat memanjakan orang-orang kampung saya. “Tongkat, kayu dan batu jadi tanaman”, potongan syair Koes Plus boleh jadi semacam pembenar. Bahwa Tuhan senantiasa sangat sayang alam di wilayah kami dengan kemurahan & kemudahan rejeki bagi kehidupan manusianya.

Kata bapa saya semasih kami kanak-kanak, pikul saja batang ubi kayu, anakan pisang, batang ubi jalar (petatas), lalu lepas (tanam) di lahan di lereng Labalekan, maka berkat Tuhan melimpah. “Bosan makan nasi beras merah atau hitam, bakar saja ubi kayu, keladi, pisang atau ubi jalar. Lalu bìasakan bersyukur kepada Tuhan sebagai pemilik semua berkah alam bagi manusia,” kata Peter Samong Mudaj, ayahanda terkasih tatkala masih hidup.

Ada yang menarik bagi saya hingga saat ini. Slogan: “kerja, kerja, dan kerja” Presiden Joko Widodo untuk memompa etos kerja rakyat, jauh-jauh sudah ditanamkan orantua di kampung halaman. “Kalau pulang libur dari Kupang, silahkan pikul sendiri padi di Semener. Supaya kamu juga tahu bagaimana jeri payah kami berbulan-bulan mulai memotong kayu dan rumput, menanam benih padi, membersihkan rumput dan memetik hasilnya lalu simpan di lumbung di tengah kebun,” kata bapa saya saat saya duduk di semester VII Universitas Nusa Cendana Kupang, Timor.

Semener adalah salah satu kawasan pertanian potensial antara Boto dan Loang melewati juga Grobetalak, kebun guru Frans Pati de Ona. Jayaknya kurang lebih 7 kilo meter. Saya terbiasa memikul padi melewati rute itu selama libur. Kadang pula meminjam kuda magun Wilhelmus Pati Mudaj sekadar meringankan tenaga kami. Kalau bukan di Semener, saya juga akan dengan mudah mengambil padi si Tapbaran, kawasan pertanian bapa saya. Di sini (Tapbaran) ada macam-macam tanaman pertanian warisan orangtua. Lahan pertanian ini yang menjadi penopang utama saya dan dua adik saat kuliah dan sekolah di Kupang.

Beberapa kiriman foto guru Frans Pati de Ona (lihat foto-foto di bawah ini) mengingatkan saya betapa alam dan lahan pertanian masih sangat memanjakan orang-orang di lereng Labalekan, kampung halaman kami. Lahan pertanian guru Frans yang sangat hijau menjanjikan kami semua bahwa urusan lapar bakal menjauh. Tinggal memacu etos kerja dan berpegang pada slogan Jokowi: “kerja, kerja, dan kerja” maka ancaman kelaparan di tengah pandemi Covid-19 menjauh. Guru Frans menunjukkan kisah inspiratif bagi saya. Ia tak sekadar berada di ruang kelas, namun juga bergeser ke Grobetalak. Tentang ketahanan pangan, guru ini sudah melangkah jauh: dalam cara pandang. Terima kasih, kaka guru Frans. Doa dan salam saya untuk para petani dan orang-orang kampung. Salam sehat dan tetap dalam 3M.

Tanaman Jagung dan Padi Menghijau di Ladang
Rumah Pondok di Ladang

 

Jakarta, 23 Januari 2021
Oleh: Ansel Deri

Komentar

Jangan Lewatkan