oleh

Terkait Pengrusakan Fasilitas RSUD Waikabubak, Ini Penjelasan Kapolres dan Direktur RSUD

RADARNTT, Waikabubak – Pengrusakan fasilitas umum di RSUD Waikabubak, yang dilakukan oleh keluarga pasien yang meninggal dunia pada hari Sabtu, 17 April 2021 di ruang isolasi pasien Covid-19, karena terjadi miskomunikasi antara keluarga korban dengan pihak RSUD Waikabubak.

Kapolres Sumba Barat, AKBP FX Irwan Arianto, yang ditemui media ini di ruang Loby Pasola di Mapolres Sumba Barat, Senin (19/4/2021), menjelaskan bahwa terkait pengrusakan fasilitas umum di RSUD Waikabubak, yang dilakukan keluarga pasien meninggal di ruang isolasi pasien Covid-19. Menurut Kapolres Irwan Arianto, karena amarah keluarga pasien tersebut tak terbendung ketika melihat pakaian pasien meninggal (MWA), sejak masuk RSUD Waikabubak pada 29 Maret 2021 hingga meninggal 17 April 2021, pakaian yang digunakan oleh korban masih sama (tetap).

Sementara menurut keluarga, kata Kapolres, pakaian selalu bawa setiap saat. Sehingga, ketika melihat kondisi dari korban, keluarga korban serobot masuk ke dalam ruangan isolasi tempat korban menghembuskan napas terakhir, yang mengakibatkan kaca pintu masuk ke ruang isolasi yang pecah.

“Kemarin saya sudah datang ke RSUD Waikabubak untuk lakukan identifikasi, fasilitas umum yang rusak, hanya kaca pintu masuk ke ruang isolasi yang pecah, selain itu tidak ada yang rusak. Pengrusakan fasilitas itu terjadi, menurut Kapolres, karena adanya miskomunikasi antara keluarga korban dengan pihak RSUD Waikabubak. Keluarga korban itu tidak pernah dikasi informasi tentang kondisi kesehatan dari si korban selama masih dirawat, sehingga ketika pihak RSUD kasi informasi, tiba-tiba korban sudah meninggal. Begitu mereka sampai, pakaian yang dipakai oleh korban sejak masuk sampai meninggal, sama (tetap). Keluarga korban beranggapan, selama korban diisolasi tidak terurus (adanya pembiaran) sampai meninggal. Karena pakaian yang digunakan korban sejak masuk sampai meninggal dunia masih sama (tetap),” kata Kapolres.

“Kemarin waktu saya identifikasi, pakaian korban memang ada tumpuk di lemari saat anggota saya masuk ke ruang isolasi tersebut. Kalau masalah penguburan secara Covid-19 mengikuti anjuran pemerintah, keluarga sudah siap menerima dan mengikuti. Yang disesalkan oleh keluarga korban, seakan-akan korban tidak terurus (adanya pembiaran) karena pakaiannya sama sejak masuk hingga meninggal dunia,” tutur Kapolres.

Yang namanya pengrusakan fasilitas umum, menurut Kapolres, tetap saya panggil keluarga korban untuk minta keterangan. Kemarin keluarga korban sudah minta maaf. “Ya namanya orang berduka, suasananya campur aduk, karena begitu lihat orang tua mereka, pakaian yang digunakan korban masih sama sejak masuk, mereka beranggapan adanya pembiaran (tidak terurus) sampai meninggal,” tutup Kapolres.

Menurut Direktur RSUD Waikabubak, Pavliando Saragih, yang ditemui media ini secara terpisah, Senin (19/4/2021) sore. Pavliando Saragih menjelaskan bahwa saat MWA masuk 20 hari yang lalu itu, MWA memang kondisinya tidak stabil, tapi dalam perjalanan kondisinya semakin membaik dan MWA salah satu pasien yang tidak banyak mengeluh (komplain). Bahkan MWA pernah mengatakan, “Apabila saya keluar nanti, saya akan bersaksi tentang apa yang saya alami,” kisahnya.

Namun beberapa hari terakhir, menurut proteksi dokter yang menangani, kata Pavliando Saragih, mulai menurun, sehingga dilarang ke toilet dan MWA hanya menggunakan pampers.

“Memang bajunya tetap, perawat menggantikan pampers saja, karena MWA tersebut sudah pakai masker yang sungkuk yang harus melekat. Petugas selalu mengganti pampers, lab badannya dan juga disuapin makan. Petugas juga sering memberitahu kepada keluarga korban tentang kondisi kesehatannya. Bahkan selama MWA dirawat masih sering video call (VC) dengan keluarganya,” kata Pavliando.

Semua pasien Covid-19 yang kita rawat, katanya, kalau masih stabil kita tetap ganti pakaiannya, “Tetapi MWA kondisinya tidak stabil dan kondisinya sangat berat, sehingga MWA hanya tidur terus dan juga masker sungkuk melekat yang kita kasih pakai, karena kondisinya sudah sangat berat,” imbuh Pavliando.

Direktur RSUD Waikabubak, juga menerangkan bahwa saat kejadian, korban MWA baru diresusitasi (penanganan gawat darurat). Ketika saat proses penanganan gawat darurat, posisi pasien dalam kondisi tergeletak. Setelah kita konfirmasi di keluarga bahwa pasien sudah meninggal, belum sempat kita rapihkan, tiba-tiba keluarga langsung masuk dengan kondisi pemahaman yang kurang, emosi yang berlebihan dan komunikasi yang kurang pas, akhirnya keluarga korban melakukan tindakan diluar kewajaran.

“Sudah banyak kami menerangkan kepada keluarga yang sering datang saat MWA masih dirawat tentang kondisi dari korban. Saat kejadian itu, yang serobot masuk yang melakukan tindakan diluar kewajaran, bukan keluarga yang sering datang yang selalu kita kasi pemahaman dan juga kondisi korban,” jelas Pavliando.

Ia mengatakan, mungkin keluarga yang sering kita beri pemahaman dan juga kondisi kesehatan saat MWA masih dirawat, kurang memberikan informasi yang sesuai kepada keluarga yang lain, sehingga pada saat mendengar kabar meninggal, keluarga MWA yang lain yang tidak pernah datang selama MWA masih dirawat, dengan pemahaman yang kurang, mereka langsung serobot masuk dengan melakukan tindakan di luar kewajaran.

“Dokter dan tenaga medis lainnya yang bertugas di ruang isolasi, mereka sudah kerja sangat maksimal. Siapapun Dokter dan Perawat yang merawat atau tangani pasien, pasti menginginkan agar pasien bisa selamat atau sembuh,” terang Pavliando. (AG/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan