oleh

Terminal Kembur dan Komitmen Pemda Manggarai Timur Tingkatan Ekonomi Masyarakat

RADARNTT, Borong – Terminal Kembur sebagai salah satu proyek pembangunan di kabupaten Manggarai Timur tahun 2014 silam, di masa kepemimpinan Bupati Yosep Tote dan Wakil Bupati Agas Andreas.

Proyek Terminal Kembur yang pada Januari lalu mendapat sorotan dari pihak Kejaksaan Negeri Ruteng. Diduga terjadi kejanggalan dalam proses pembangunan pada bangunan Terminal yang terletak di Kembur, Kelurahan Satar Peot kecamatan Borong Kabupaten Manggarai timur, Flores, NTT yang hampir Mubasir itu.

Terpantau media ini, Senin, (1/3/2021) terdapat alat berat tengah membereskan beberapa urugkan tanah yang terdapat di dalam lokasi Terminal. Hadir dalam kegiatan itu, Kepala Dinas Perhubungan Manggarai Timur, Gaspar Nanggar, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Yosep Marto, dan Kepala Dinas Koperasi Perdagangan dan Usaha Kecil Menegah (DKPUKM), Fransiskus P. Sinta.

Kepala Dinas Perhubungan, Gaspar Nanggar mengatakan bahwa pada hari Senin (1/3/2021), terminal Kembur mulai dimanfaatkan. Dan pihaknya telah memalui beberapa tahapan-tahapan sosialisasi.

“Hari ini kita telah sosialisasi kepada kendaraan angkutan umum sejak pukul 7.00 hingga pukul 11.00 WITA terdapat 27 kendaraan yang sudah masuk wilayah terminal kembur,” tutur Nanggar.

Nanggar mengaku telah melakukan diskusi dengan dinas PUPR dan DPUKM Matim untuk kolaborasi tentang pasar dan jalur jalur yang akan menghubungkan terminal kembur.

Lanjut ia mengatakan, nantinya semua kendaraan yang akan datang dari arah utara itu akan melalui jalur kampung Warat.

“Mereka nanti tidak lagi ikut kampung kembur, itu disebelah bawahnya rumah pak ketua DPRD, akan ada peningkatan jalan menjadi Hotmix, sudah dibuka, tapi dalam bentuk jalan tanah, itu tembus keterminal,” ungkapnya.

Mantan Camat Borong itu juga menyinggung tentang isu yang beredar terkait penggunaan terminal kembur. Ia mengatakan bahwa perencanaan penggunaan terminal kembur itu sejak tahun 2020 lalu. Kata dia, sejak awal tahun 2020, telah terjadi perbaikan dan pendropingan material bertujuan untuk menggunakan terminal Kembur. Lanjutnya, namun pada bulan Maret lalu, semua itu beralih kepada penanganan covid19, sehingga terjadi mentok.

“Penggunaan terminal Kembur juga bukan disebabkan karena terjadi pemanggilan atau pemeriksaan oleh pihak kejaksaan negeri Ruteng. Itu sudah sejak 2020 lalu,” terangnya.

Sementara itu, untuk menunjang penggunaan terminal Kembur secara optimal, keberadaan infrastruktur jalan yang menghubungkan terminal Kembur degan jalur trayek ke desa-desa, demikian Yosep Marto, Kepala Dinas PUPR.

Dikatakan Marto, seturut perkembangan dan dinamika perkembangan kota Borong itu sangat tinggi. Awalnya kota Borong, kata Marto, hanya terdapat di Kotandora dan Rana loba denga memiliki terminal. Namun, ketika pusat perkantoran ada di Lehong, dan terjadi dinamika uang sangat tinggi, maka, kata Marto, pembangunan infrastruktur itu juga harus mengikuti perkembangan itu.

“Nantinya semua jalur yang menghubungkan terminal kembur kita akan perhatikan. Untuk tahun ini, jalur Waling- Nceang juga ada peningkatan menjadi jalur Hotmix , hal itu sangat menjawab kebutuhan penggunaan terminal Kembur,” tutur Marto.

Marto menambah, untuk mengoptimalkan penggunaan Terminal Kembur, maka, jalur Golo Meleng, Golo Nderu tembus keterminal Kembur, jalur Lambaleda, Waling, tembus ke terminal, dan Jalur Utara dari Mukun juga terus menuju Terminal Kembur.

“Ketika sudah mulai rame, maka ada kehidupan baru, ada pergerakan ekonomi baru didalam lintasan terminal Kembur,” terangnya.

Terminal Kembur juga berdampak pada gerakan ekonomi baru, hal demikian dikatakan Fransiskus P. Sinta, Kepala Dinas DKPUKM.

Menurut Fransiskus, untuk menjadikan situasi terminal Kembur, harus ada kolaborasi dengan kegiatan pasar. Lanju Fransiskus, ketika didalam lokasi terminal kembur berkolaborasi dengan Pasar, maka efek secara ekonomi akan naik.

“Dibagikan Utara ini kita akan bangun pasar, untuk Masyarakat pedagang yang terdapat disekitar Kembur. Masih banyak masyarakat kita disini yang menjual barang dagangannya didepan rumah,di bahu jalan, nah mereka itu nantinya akan dipindahkan ke terminal Kembur,” tutur Fransiskus.

Pedagang yang ada di pasar Borong, tetap berada disana, dan pasar di terminal Kembur. Lanjut ia mengatakan bahwa, pertumbuhan penduduk yang sangat meningkat di sekitaran Perkantoran Lehong, juga tutur mendukung pertumbuhan dan kegiatan ekonomi.

Terkait isu tentang peralihan pasar, menurut Fransiskus isu itu tidak benar. Terminal tetap terminal, suapaya ada kehidupan baru, maka kata Fransiskus harus ada pasar.

“Itu bukan peralihan, tetapi kolaborasi, antara terminal dengan pasar,” tutup Fransiskus. (GN/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan