oleh

Wisata Pantai Rako: Antara Mengais Rupiah dan Embusan Eksotis

Embusan eksotisme Pantai Rako menggema, tidak saja di dalam negeri tetapi dunia internasional walau belum seberapa. Gema yang belum terdengar pada semua pencinta kemolekan bahari karena faktor pengeloalaan. Ini tentu pula soal kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) pengelola obyek wisata pantai di Desa – Hewa, Wulanggitang-Flores Timur. Kelompok Sadar Wisata (Pokdaris), sebuah kelompok kecil dengan segala keterbatasan, sudah saatnya mendapatkan asupan pengetahuan melalui pelatihan-pelatihan pun kegiatan magang dari pemerintah kabupaten Flores Timur melalui dinas terkait. Dengan banyak hal yang diperoleh, sekurang-kurangnya pola pikir tetang pengelolaan kepariwisataaan akan menjadi bekal dasar untuk mengeksplor pariwisata Pantai Rako.

Pantai Rako termasuk salah satu pantai yang dari Sabang sampai Marauke yang patut dikemas. Soal keindahan atau bahkan hempasan gelombang bergulung-gulung yang menjadi arena peselancar. Bukan tidak mungkin kesan para peselancar, atau bahkan bagi wisatawan yang pernah bertandang ke sana telah menorehkannya. Keindahan alam pantai, ketenangan batin yang direguk kalam hembusan angin pantai membuai hingga hati terpikat, kesahajaan warga desa yang meyambutnya dengan tarian di antaranya yang telah menggugah. Atau mungkin pula karena sajian pangan lokal yang tak terlupakan setelah dinikmati wisatawan mancangera. Kemolekan gadis-gadis desa dalam tarian daerah saat penyambutan tentu memberi kesan mendalam.

Beberapa kesan ini, menjadi modal dasar. Ibarat berinvestasi, maka modal dasar ini menjadi hal yang sangat penting. Lebih dari itu, pasir putih bak salju dengan air lautnya yang jernih membuat pantai di wilayah selatan Pulau Flores yang berbatasan langsung dengan kabupaten Sikka ini menjadi daya tarik tersendiri tak terbanding.

Membedah Pengelolaan

Walaupun alam warisan leluhur telah memesona, namun sayangnya pengelolaan pantai di negara tercinta ini berbeda satu daerah ke daerah lainnya di Indonesia. Hal ini dipengaruhi beberapa faktor antara lain kebijakan pada tataran daerah, baik tingkat provinsi maupun kabupaten/kota, berbeda satu dengan lainnya, ketersediaan anggaran, sumber daya manusia serta sarana dan prasarana pendukung yang belum memadai.

Kunjungan perdana Wisatawan Mancanegara (Wisman) pada Agustus 2019 lalu telah memberikan angin segar bagi pengelola pariwisata Pantai Rako. Kunjungan perdana Wisman dari Italia dan Amerika setidaknya telah memberi dampak bagi warga di Desa yang berbatasan langsung dengan kabupaten Sikka ini. Ketua Pokdarwis Pantai Rako, Kristoforus Uran turut menilai soal dampak kunjungan wisatawan itu. Dari aspek ekonomi, warga yang berjualan cukup meraup keuntungan walau belum semua. Dalam beberapa kunjungan, ia selalu berkoordinasi dengan Dinas Pariwista dan Kebudayaan Flores Timur, pemerintah Desa Hewa dan pengusaha yang berkecimpung di bidang kepariwisataan. Namun demikian, niat baik saja tentu bukan satu-satunya cara mengembangkan Pariwisata Pantai Rako.
Karena itu butuh komitmen yang kuat baik pemerintah maupun masyarakat sehingga pengelolaan Pantai Rako benar-benar optimal. Belajar mengolah pantai sebenarnya tidak terlalu susah. Selain komitmen dan kemauan tentunya juga perlu belajar ke daerah-daerah yang sukses dalam pengelolaan obyek wisata pantai.

Belajar dari Bali

Untuk Indonesia, provinsi Bali sudah pasti menjadi rujukan utama. Provinsi yang memiliki jumlah penduduk 4,2 juta jiwa tersebut mengandalkan sektor pariwisata sebagai tulang punggung utama dalam mendongkrak ekonomi daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Laporan Badan Pusat Statistik provinsi Bali per Desember 2018 menengarai kunjungan Wisman ke provinsi Bali tercatat mencapai 498.819 kunjungan, dengan Wisman yang datang melalui bandara sebanyak 495.641 kunjungan, dan yang melalui pelabuhan laut sebesar 3.178 kunjungan. General Manager PT Angkasa Pura I (Persero) Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Yanus Suprayogi menjelaskan jumlah kunjungan wisatawan ke Bali tercatat 6.127.437 turis asing mengunjungi Bali selama periode pencatatan Januari sampai Desember 2018.

Menurutnya, data tersebut meningkat 10, 61 persen dari tahun sebelumnya dimana pada tahun 2017 kunjungan Wisman mencapai 5.539.791 wisatawan. Data ini sebenarnya mau mengatakan betapa dahsyatnya minat wisatawan untuk mengunjungi Bali. Dan data ini tentu tidak statis, tetapi pasti akan terus meningkat searah dengan semakin meningkatnya minat wisatawan untuk mengunjungi Bali.

Membandingkan jumlah kunjungan ke Bali dengan Pantai Rako akan terlihat jarak, bak langit dan bumi. Tapi menjadi perhatian yakni bagaimana mengelola Pantai Rako yang oleh Wage Adit dari PSOI (Persatuan Selancar Ombak Indonesia) sebagai Kuta-nya Pulau Flores. Hal lain yang juga menjadi titik sentuh, yakni bukan soal pantai berpasir putih dengan gelombang laut yang sangat tepat untuk berselnacar, tetapi soal kelolanya yang boleh dikata benar-benar profesional dan memenuhi standar internasional.

Beberapa hal yang perlu ditiru untuk meningkatkan kunjungan wisatawan, jika kita coba menatap pengelolaannya. Secara administrasi, Pantai Kuta berada di kabupaten Badung. Dalam pengelolaannya, pemerintah setempat menyerahkan kepada masyarakat adat atau masyarakat setempat yaitu banjar (desa adat) Kuta. Namun sejumlah fasilitas pokok didalammnya dibangun pemerintah daerah. Semua fasilitas di Pantai Kuta dibangun pemerintah daerah, hanya saja penggunaan dan pemeliharaannya diserahkan kepada masyarakat lokal.

Bagaimana dengan Pantai Rako? Ketua Pokdaris, Kristoforus Uran, hari-hari ini telah menggalakan kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Flores Timur telah merintis pembangunan Homestay, sedangkan kelompok sadar wisata yang dipimpinnya telah melakukan pongeboran air. Dan pada tahun 2020, demikian Rus, biasa disapa, Pemerrintah Kabupaten Flores Timur akan membangun jalan berhotmix sepanjang 1-2 kilometer dari Desa Hewa menuju Pantai Rako.

Sehubungan dengan fasilitas , banyak hal pula yang semestinya dipersiapkan. Hal pertama adalah kantor informasi. Dengan mempertimbangkan ketersediaan lahan, dapat pula dibangun wahana bermain, kamar mandi dan WC atau MCK (Mandi Cuci Kakus), areal parkir, serta sejumlah fasilitas lainnya yang memanjakan pengunjung. Dan untuk hal-hal itu, membutuhkan perencanaan yang komprehensif, agar tidak terjadi kesenjangan dalam berbagai aspek, juga antara pemangku kepentingan. Hal-ini harus dipikirkan secara matang agar pembangunan kepariwistaan di Pantai Rako sangat menjadi milik bersama seluruh warga di Desa Hewa, selanjutnya semua merasa memiliki Pantai Rako sebagai wisata andalan.

Dalam hal ketersediaan jaringan telekomuniskasi, demikian Rus Uran, hal tersebut telah dikomunikasikan dengan pemerintah Kabupaten Flores Timur. Akan dibangun sarana Wifi/internet di Pantai Rako. Hal ini untuk mempermudah para wisatawan dalam berkomunikasi.

Beberapa kali kunjungan wisatawan mancanegara dan juga kunjungan warga di Kabupwaten Flores Timur dan juga lainnnya pada hari minggu dan pada hari libur telah menyiratkan persoalan baru soal sampah. Belum diperhatikannya tentang kebersihan daerah pantai agar tetap memaparkan keindahan. Keberadaan sampah ini juga mempengaruhi keindahan obyek wisata menarik di, Pantai Rako agar terhindar dari ulah segelintir orang sangat dibutuhkan kemampuan dalam pengelolaannya. Bahwa kemudian akan dipikirkan tentang petugas sampah, maka itu pula yang perlu dipikir bersama entah dalam kelompok kecil atau melalui pemerintah desa dan pemerintah kabupaten melalui dinas terkait. Atau dapat pula tugas menjaga kebersihan menjadi tanggung jawab bagi para penjual yang mengais rejeki di sepanjang pantai Rako. Hal ini pun menjadi catatan lain dalam pengelolaan sampah di tempat wisata Pantai Rako.

Faktor keamanan dan kenyamanan wisatawan menjadi salah satu poin penting dalam pengelolaan obyek wisata pantai. Sehubungan dengan kegiatan berselancar pada pantai dengan gelombang yang cukup besar, maka petugas keamanan menjadi bagian lain yang harus dipikirkan. Petugas-petugas ini selalu siaga dan mengawasi aktivitas pengunjung untuk meminimalisir kecelakaan saat berenang atau surfing (selancar) di sepanjang Pantai Rako. Pada musim ombak juga dipasang rambu-rambu tertentu sebagai peringatan bagi wisatawan. Rambu-rambu itu dipasang di bibir pantai.

Mendandani (mempersiapkan,red) Pantai Rako menjadi tempat yang seidentik dengan Pantai Kuta di Pulau Bali atau Pantai Nemberala di Pulau Rote, tentu membutuhkan waktu yang lama. Namun demikian, gagasan-gagasan untuk mempercantik Pantai Rako menjadi pantai wisata harus dibumikan. dibicarakan dalam diskusi-dikusi, entah di tingkat RT, kelurahan dan desa atau pada ruang-ruang publik lainnya. Semua pemangku kepentingan khususnya di desa Hewa harus memulainya, karena perjalanan seribu langkah dimulai langkah pertama.

Oleh: Y. Joni Liwu, S.Pd

Komentar

Jangan Lewatkan