oleh

Yohanes Bocah Asal Elar Selatan Lumpuh Sejak Lahir Butuh Bantuan

RADARNTT, Borong – Yohanes Devilje Laja (8) bocah asal desa Benteng Pau, kecamatan Elar Selatan, kabupaten Manggarai Timur mengalami lumpuh total sejak lahir pada tahun 2013 silam. Butuh uluran tangan dan bantuan kasih dari pemerintah dan pihak yang peduli.

Putra dari pasangan Suami Istri Vinsensius Jala dan Roswita Nelci Nggoweng menderita lumpuh sejak lahir. Hingga berusia delapan tahun bocah malang itu hanya bisa merangkak.

Vinsensius Jala, sang ayah bocah malang itu mengisahkan, pada saat dilahirkan, tidak ada tanda-tanda kelumpuan pada putera mereka tersebut. Mereka berpikir bahwa Yones akan bertumbuh dan berkembang sama seperti anak-anak lainnya.

“Pada waktu lahir kami mengira bahwa Yones ini dapat bertumbuh dan berkembang dengan baik, tetapi ternyata kami salah. Sampai saat ini dia belum bisa jalan dan berbicara normal,” tutur Vinsensius dengan wajah sedih.

Kenyataan mulai berubah ketika Yones genap menginjak usia dua tahun. Pada usia ini seharusnya Yones sudah bisa berjalan dan berbicara lancar. Orang tuanya mulai gelisah dan memutuskan untuk mencari pengobatan tradisonal agar Yones bisa berjalan dan berbicara. Namunn semua usaha yang dilakukan oleh orang tuanya hanya berakhir sia-sia.Yones tetap tidak bisa berjalan dan berbicara.

“isteri saya mulai gelisah. Ia terus memikirkan nasib dari Yones. Sesekali kami pergi ke dukun untuk mengobati anak ini, tapi tidak berhasil,” kata Vinsensius sambil megusap air mata yang jatuh di pipihnya.

Meskipun semua usaha yang dilakukan gagal, Vinsensius dan Roswita tidak pernah putus asa dalam memperjuangkan nasib anaknya. Pada tahun 2018 yang lalu, Visensius bersama kakaknya, Kuintus Jala pernah mendatangi sebuah tokoh di Kota Ruteng, Kabupaten Manggarai untuk membeli kursi roda. Namun, karena keterbatasan biaya, mereka mengurungkan niat untuk membeli kursi roda yang harganya berkisar Rp1.700.000.

“Waktu itu kebetulan saya memiliki uang yang saya tabung dari hasil jual pasir. Jumlahnya Rp1 juta. Kami coba tawar harga kursi roda, pelayan tokoh mengatakan harga kursi roda sekitar Rp1.700.000, sehingga kami batal untuk membelinya,” kata Kuintus, kakak kandung vinsensius Jala kepada media ini.

Keadaan Ekonomi yang Sangat Memprihatinkan

Yones tinggal bersama orang tuanya di sebuah gubuk kecil berukuran 20 meter persegi yang hanya berdinding bambu dan berlantaikan tanah.Orang tuanya bekerja sebagai petani. Hasil pertanian yang mereka miliki sangat sedikit bahkan tidak bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka.

Ayah Yones, Vinsensius Jala terpaksa harus mejadi tukang gali pasir sungai untuk menambah penghasilan. Hasil dari penjualan pasir itu ia gunakan untuk menafkahi keluarganya.

“Harga satu ret pasir Rp250.000. Untuk mendapat satu ret pasir saya harus bekerja empat sampai lima hari. Sangat sulit untuk menjadi tukang gali pasir, tetapi dengan keadaan seperti ini, suka tidak suka ya harus kerja biar keluarga saya bisa hidup,” ungkap Vinsensius.

Semenjak pendemi Covid-19 melanda Indonesia, membuat sektor pembangunan ikut terganggu.

Hal ini turut berdampak pada keluarga Yones. Pasir yang sudah digali tidak lagi dijual dengan harga seperti biasanya bahkan tingkat penjualan pasir ikut menurun.

“Tidak ramai seperti biasanya. Terkadang satu bulan hanya laku satu ret itupun saya jual dengan harga di bawah standar,” kata Vinsensius dengan nada sedih.

Ibunda Yones,Roswita Nelci Nggoweng tidak bisa membantu suaminya untuk bekerja. Hal ini dikarenakan ia harus menjaga Yones ketika suaminya keluar rumah. Apalagi dalam beberapa bulan terakhir ia tidak bisa melakukan pekerjaan rumah tangga sepenuhnya karena sedang mengandung adik dari Yones. Ia hanya bisa mendukung suaminya dengan doa yang ia panjatkan setiap hari.

“Yones tidak bisa tinggal sendirian di rumah, setiap hari kami bergantian mejaga dia. Beberapa bulan terakhir saya tidak keluar rumah dan fokus menjaga Yones,” tutur Roswita.

Tidak Pernah Mendapat Bantuan

Mirisnya, Yones tidak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah meskipun kondisinya sangat memperihatinkan ditambah lagi ekonomi keluarga yang tidak berkecukupan.

Kepala Desa Benteng Pau, Benyamin Rahing mengatakan, pihaknya pernah mengirimkan data ke kecamatan yang diteruskan ke Dinas Sosial Kabupaten Manggarai Timur.terkait keadaan Yones sekitar beberapa tahun lalu.Namun hingga saat ini belum mendapat jawaban dari Pemda Manggarai Timur.

“Sampai saat ini belum ada jawaban.Kita akan terus berusaha agar Yones benar-benar mendapatkan bantuan sesuai dengan kebutuhannya,” kata Benyamin Rahing, Kamis (5/8/2021).

Keluarga Yones sangat membutuhkan setuhan kasih dari semua pihak yang terpanggil untuk membantunya. (GN/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan