oleh

Dugaan Pelecehan Ritual Adat Wula Po’du, Puluhan Rato Datangi Mapolres Sumba Barat

RADARNTT, Waikabubak – Puluhan Rato Adat Rua Kadoku, desa Waimangoma, kecamatan Wanokaka, kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur mendatangi Markas Polres Sumba Barat, Selasa (15/11/2022) siang. Melaporkan kasus dugaan pelecehan ritual adat Wula Po’du (bulan suci) yang dilaksanakan sekali dalam setahun setiap bulan November.

Dugaan pelecehan ritual adat Wula Podu dilakukan oleh Agustinus Laiya Kanni (33) warga kampung Prai Wolik dan Irlando Molu (12) yang hadir dalam acara yang sedang dilangsungkan oleh rato adat Kadoku di pantai Rua, pada hari Jumat tanggal 11 November 2022 pekan lalu.

Rato Adat Datu Daku, salah satu rato adat kampung Kadoku saat diwawancarai awak media di Mapolres Sumba Barat mengatakan bahwa, kedatangannya bersama puluhan rato adat lainnya untuk melaporkan Agustinus Laiya Kanni yang diduga melakukan pelecehan terhadap ritual adat wula po’du yang sedang dilaksanakan di pantai Rua, Kecamatan Wanokaka.

Rato Daku membeberkan kronologis kejadian saat ritual adat Wula Po’du berlangsung di Pantai Rua beberapa hari lalu.

“Pada saat acara ritual berlangsung, yaitu ritual adat menangkap ikan di pantai Rua, ada seorang warga yang turut ikut dalam acara ritual tangkap ikan yang melanggar tata cara ritual adat, karena menggunakan baju dan sepatu boning. Pada saat itu, kami para rato sudah dekati yang bersangkutan dan memberitahu untuk melepas baju dan sepatu yang digunakan karena melanggar tata cara ritual adat menangkap ikan, namun yang bersangkutan menolak permintaan dari rato. Bahkan yang bersangkutan naik di atas batu tempat acara ritual dilangsungkan sambil cakar pinggang sembari mengeluarkan kalimat ‘adat model apa yang seperti ini, semuanya dilarang menggunakan baju dan sepatu’. Karena yang bersangkutan menolak dan tidak mau menerima permintaan kami sebagai rato, maka kami pukul yang bersangkutan karena kami merasa terganggu karena melanggar tata ritual adat yang sedang kami jalankan,” beber Datu Daku kepada awak media.

Lebih jauh Datu Daku, karena yang bersangkutan mendapat tindakan kekerasan fisik dari oknum rato, yang bersangkutan pun melaporkan di Polres Sumba Barat, maka puluhan rato adat dari Kadoku mendatangi Polres Sumba Barat untuk membuat laporan dugaan pelecehan ritual adat Wula Po’du yang sedang dilangsungkan beberapa waktu lalu.

“Karena yang bersangkutan melaporkan kami, maka kami para rato adat dari Kadoku mendatangi Polres Sumba Barat untuk membuat laporan dugaan pelecehan ritual adat Wula Po’du yang laksanakan beberapa waktu lalu. Karena yang bersangkutan tidak menghargai acara ritual adat Wula Podu yang sedang kami lakukan pada hari jumat lalu,” tukasnya.

Datu Daku membenarkan bahwa dari pihaknya, salah satu oknum rato melakukan pemukulan terhadap seorang warga yang ikut dalam acara ritual menangkap ikan. Karena oknum rato yang melakukan tindakan kekerasan itu menilai, bahwa seorang warga yang mendapat tindakan kekerasan tersebut dinilai mengganggu jalannya acara ritual adat Wula Po’du di pantai Rua.

Seorang warga yang dimaksud yang mendapat tindakan kekerasan fisik dari oknum rato adalah Agustinus Laiya Kanni (33) warga kampung Prai Wolik, Desa Rua, Kecamatan Wanokaka. Agustinus ikut dalam acara ritual menangkap ikan di pantai Rua, Agustinus bukannya mendapatkan ikan, namun ia mendapatkan tindakan kekerasan dari oknum Rato Adat Kadoku karena Agus dituduh mengganggu jalannya acara ritual adat Wula Po’du oleh pelaku adat (rato adat) saat itu.

Dengan tindakan kekerasan fisik yang dialami Agustinus Laiya Kanni dari oknum rato adat Kadoku beberapa hari lalu di Pantai Rua, Agus pun mendatangi Polres Sumba Barat bersama kuasa hukumnya untuk melaporkan kasus dugaan tindakan kekerasan tersebut, pada hari Selasa (15/11/2022) pagi berdasarkan Laporan Polisi Nomor : LP/B/156/XI/2022/SPKT/POLRES SUMBA BARAT/POLDA NUSA TENGGARA TIMUR, dengan terlapor Hili Poghu salah satu oknum rato adat.

Namun, di hari yang sama pada (15/11/2022) siang, puluhan rato adat Kadoku juga mendatangi Mapolres Sumba Barat untuk melaporkan Agustinus Laiya Kanni. Hili Poghu merupakan warga kampung Paelopari, Desa Hobawawi, Kecamatan Wanokaka yang diduga melakukan tindak pidana kekerasan saat Agustinus Laiya Kanni mengikuti acara ritual adat menangkap ikan di pantai Rua.

Sementara itu kuasa hukum dari Agustinus Laiya Kanni sebagai korban tindak pidana kekerasan, Marten Dedi Muda, SH., yang dihubungi media ini mengatakan bahwa kliennya yakni Agustinus Laiya Kanni dan Insandro Veky Molu menjadi korban kekerasan yang dilakukan oleh seorang rato adat di pantai Rua. Menurut Dedi Muda, di sana ada penganiayaan yang mengakibatkan kliennya Agustinus Laiya Kanni mengalami jari kelingking bagian kiri patah dan juga Insandro Veky Molu lengan bagian kiri memar.

“Klien saya atas nama Agustinus Laiya Kanni dan Insandro Veky Molu menjadi korban kekerasan yang dilakukan oleh seorang rato adat di pantai Rua. Di sana ada penganiayaan yang mengakibatkan klien saya bernama Agustinus Laiya Kanni mengalami jari kelingking bagian kiri patah dan juga Insandro Veky Molu lengan bagian kiri memar,” ungkap Dedi Muda saat dihubungi media ini melalui via WhatsApp, pada Selasa (15/11/2022) malam.

Dedi menuturkan bahwa alasan pemukulan yang dilakukan oknum rato adat itu, menurut Dedi hingga saat ini masih menjadi tanda tanya. Jika memang ada larangan-larangan baku terkait acara ritual adat, seharusnya kata Dedi masyarakat lokal di daerah tersebut perlu mengetahui.

Dedi berharap agar peristiwa yang dialami kliennya menjadi catatan penting bagi pihak keamanan, pelaku budaya bahkan dari masyarakat lokal itu sendiri. Ketiga unsur ini harus sejalan kata Dedi, karena menurut Dedi bahwa budaya memang perlu dilestarikan dan perlu dijunjung tinggi. Namun dibalik pelaksanaannya juga harus memperhatikan kearifan lokal yang ada, pelaku budaya seharusnya memberikan edukasi kepada masyarakat sekitar terkait acara ritual adat.

Lebih lanjut Dedi, jika memang ada warga yang melakukan kesalahan terhadap ritual adat, sebaiknya diberikan edukasi mana yang bisa dilakukan dan mana yang boleh dilakukan pada saat ritual berlangsung. Dedi Muda juga menyampaikan bahwa denda adatnya pun harus dioptimalkan, karena menurut hukum adat ini tidak mempunyai aturan baku melainkan kesepakatan bersama.

“Jika memang ada warga yang melakukan kesalahan terhadap ritual adat, sebaiknya diberikan edukasi mana yang bisa dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan pada saat ritual berlangsung. Kalau memang hukum adat mau dioptimalkan, denda adatnya pun harus dioptimalkan, karena menurut hukum adat ini tidak mempunyai aturan baku melainkan kesepakatan bersama. Jika memang klien saya melakukan kesalahan yang fatal saat berlangsungnya acara ritual adat, seharusnya didenda adat bukan dengan cara kekerasan,” tukasnya.

Kuasa hukum dari Agustinus Laiya Kanni itu menyebutkan bahwa laporan tindak pidana kekerasan bukan ditujukan kepada semua para rato yang ada disana, namun harus perlu digaris bawahi bahwa ada satu oknum yang telah melakukan tindakan kekerasan, dan perbuatan terhadap oknum itu tidak perlu dibiarkan.

“Laporan tindak pidana kekerasan bukan ditujukan kepada semua para rato yang ada disana, namun harus perlu digaris bawahi bahwa ada satu oknum yang telah melakukan tindakan kekerasan, dan perbuatan terhadap oknum itu tidak perlu dibiarkan, jangan sampai kejadian yang terjadi tahun ini akan terulang di tahun-tahun yang akan datang,” pungkasnya.

“Jangan juga bersembunyi di balik budaya, seakan-akan budaya ini dijadikan ajang kekerasan. Budaya ini memang kita harus lestarikan karena budaya ini merupakan kearifan lokal yang harus dijunjung tinggi,” tutupnya. (AG/RN)

Komentar