oleh

Kreativitas Lahir dan Tumbuh di Kampung, Spirit Natal Karya Baru Lewoblolon

-Daerah, Flotim-96 Dilihat

RADARNTT, Larantuka – Orang Muda Dusun Lewoblolo, Desa Tuwagoetobi di Pulau Adonara yang tergabung dalam Karang Taruna Karya Baru Lewoblolon sukses menyelenggarakan salah satu program kegiatan kreatif jelang tutup tahun 2021 yakni “Spirit Natal Karya Baru Lewonlolon”.

Acara ini dilaksanakan pada tanggal 29 Desember 2021 di Aula Puri Ratu Dusun Lewoblolo dengan pola Talk Show menghadirkan tiga Anak Tanah Dusun Lewoblolo diantaranya Maksimus Masan Kian (Ketua PGRI Flores Timur), Emanuel Kia Belan (Kapolsek Adonara) dan Wilhelmus Bahy (Kepala Sekolah SD Inpres Riangrindu).

Unsur yang hadir pada kegiatan ini diantaranya Pemerintah Desa, Tokoh Adat, Tokoh Masyarakat, Tokoh Muda dan masyarakat Desa Tuwagoetobi pada umumnya dan Dusun Lewoblolo pada khususnya.

Oktavianus Bali dan Bertaviana Victor tampak kompak memandu acara ini. Desain tempat yang dilakukan Anak Muda yang tergabung dalam Karya Baru, layaknya seperti acara Talk Show di Televisi. Desain panggung mengusung tema lokal.

Diawali dengan Musik Akuistik yang unik dan kemudian Narasumber dipanggil satu persatu naik ke panggung. Masing-masing diberi kesempatan berbagi, membangun motivasi dan inspirasi dengan pertanyaan-pertanyaan yang telah disiapkan.

Narasumber pertama, Ketua PGRI Kabupaten Flores Timur Maksimus Masan Kian, menyampaikan tentang kepemimpinan, memang ada banyak sekali defenisi dan pendapat para ahli yang dapat ditemukan di dalam buku tetapi tidak menjadi jaminan kesuksesan jika mengacu pada isi buku tersebut.

Menjadi pemimpin dikemudian hari, kata Maksi,  proses belajarnya sudah dimulai sejak kecil. Kebiasaan positif sejak kecil menghormati orang yg lebih tua mengikuti perintahnya, sadar atau tidak sadar kita sedang belajar tentang kepemimpinan.

“Dulu waktu masa kecil di dusun ini, saya dikenal sebagai anak yang paling rajin ambil bola, ambil net dan berdiri di pinggir lapangan menjaga bola saat orang dewasa bermain bola volly. Dari jenjang SD, SMP, SMA saya selalu Ketua Kelas dan melayani teman teman lainnya. Saat Perguruan Tinggipun demikian saya terlibat dibanyak organisasi baik intra kampus maupun ekstra kampus. Masa kecil itu telah mengajarkan saya menjadi seorang pemimpin,” tutur Maksi.

Saat ditanya apakah dengan modal sosial yang kuat saat ini ada niat terjun ke dunia politik baik di eksekutif dan legislatif, Mantan Ketua Agupena Flores Timur ini menjawab bahwa dirinya siap jika dipercayakan, namun tidak untuk saat ini, sebab profesinya adalah seorang guru ASN.

“Jika masyarakat berkehendak mengapa tidak. Mereka yang tidak didorong oleh masyarakat saja berani mendorong dirinya sendiri, apalagi kita yang oleh masyarakat menaru harapan. Saya siap untuk terjun ke dunia politik namun tidak saat ini. Ada waktu lain yang lebih tepat tentunya. Berpolitik mesti matang. Tidak bisa tanpa hitungan mesti ada target yang jelas,” tandasnya.

Maksi juga berpesan kepada anak muda untuk belajar menggunakan media sosial secara bijak, positif dan “menghasilkan”. “Adik-adik tentu mempunyai android dan bahkan android terbaik dan termahal. Gunakan itu untuk hal positif dan menghasilkan. Bisa aktif di youtube dengan video video kreatif pada saatnya google bisa bayar. Gunakan media sosial untuk promosi karya. Belajarlah dari akun jual bunga Larantuka, Putri Pak Tani, Donara, Rumah Pot Adonara, Pius Lamapaha, Kopi Leworok, Oktavianus Beda dan lain-lain.

Kapolsek Adonara, Emanuel Kia Belan, pada sesinya sangat bersemangat mensheringkan kiprahnya sebagai Kapolsek Adonara yang bisa mengayomi masyarakat Adonara selama ini.

Ia menjelaskan banyak konflik yang muncul di Adonara terjadi karena perebutan tanah, perkelahian akibat Minuman Keras, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan pengaruh media sosial.

“Persoalan-persoalan itu bisa diatasi dengan komunukasi yang baik, juga kehadiran langsung di lapangan untuk menyelesaikan persoalan,” tuturnya.

Eman Tokan, sapaan akrab Emanuel Kia Belan, membangun motivasi kepada orang muda untuk menjauhi miras sebab miras telah menjadi pemicu terganggunya KAMTIBMAS selama ini.

Guru Kepala Sekolah SDI Riang Rindu dan wirausahawan, Wilhelmus Bahy, yang berhasil memulai sheringnya dengan cerita yang cukup mengharukan. Sebagai yang sulung dalam keluarga, Ia mulai berpikir untuk mencari penghasilan tambahan setelah Ayahnya meninggal. Tidak mudah menjadi tulang punggung keluarga, saat beberapa orang adiknya di bangku perkuliahan.

Namun apa yang teejadi saat ini ada sejumlah usaha yang dikembangkan diantaranya Elektronik yang sudah bergerak dengan aset ratusan juta. Kepada Orang Muda ia berpesan, manfaatkan potensi yang ada di sekitar.

“Saya dulu saat masih Guru Honor berpikir keras untuk mencari tambahan penghasilan dan bambu menjadi salah satu potensi yang saya lirik. Saya berhasil membuat banyak kerajanan dari bambu dan berhasil dijual. Laris manis adik adik sekalian. Intinya kita mulai bergerak dan menghasilkan karya dengan keterampilan dan potensi yang kita miliki. Pasar kita saat ini sangat terbuka, dengan adanya perkembangan teknologi informasi yang pesat hari ini,” katanya.

Salah satu Tokoh Muda Inspiratif di Honihama, Oktavianus Beda mengatakan kegiatan yang dijalankan ini sangat inspiratif dan bermanfaat ke depan akan digagas lebih luas dan menghadirkan lebih banyak lagi audiens. Narasumberpun demikian karena Anak Honihama yang berhasil cukup banyak.

“Kita akan coba memperluas kegiatan ini dengan partisipan yang lebih banyak sehingga pengimbasannya lebih luas,” kata Oktavianus Beda. (TIM/RN)

Komentar