oleh

Manajer Dana BOS ‘Banting Mikrofon’ Dihadapan Guru SD Inpres Liliba

 

Manajer Dana BOS (tengah) Saat Rapat di SD Inpres Liliba

RADARNTT, Kupang — Rapat para guru SD Inpres Liliba diwarnai aksi Robby Ndun Kepala Bidang Pendidikan Dasar (Dikdas) Kota Kupang sekaligus Manajer Dana BOS membanting mikrofon, saat merasa kesal mendengar permintaan seorang guru yang meminta surat perintah tertulis guna merevisi Dana BOS(Selasa, 24/07/2018).

Dalam petikan dialog yang didapat tim redaksi sebagai berikut :

Dalam rapat tersebut bermula ketika Robby Ndun mengatakan, “Mau pakai RKAS yang lama tidak berdampak hukum, pakai RKAS revisi juga tidak berdampak hukum. Karena yang direvisi hanya triwulan dua saja, kita revisi berdasarkan kebutuhan kebutuhan, selama disepakati bersama maka revisi RKAS tidak ada dampak hukum.

“Saya yang menyampaikan ini selaku manajer yang sudah beberapa tahun ini dari Tahun 2010, dan Pak Jhon Fora sebagai sekretaris manajemen BOS yang selalu mengurus administrasi, kemudian saya selaku Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan Dasar bagaimana kita sepakati bersama untuk revisi RKAS dihari Kamis atau Jumat, mana yang disesuaikan, mana yang tetap dan mana yang dikurangi supaya pendampingan berkelanjutan mengikuti irama yang ada karena nanti juga ada uji petik, sambung Robby.

Kemudian Kabid Pembinaan Pendidikan Dasar menjelaskan, Nanti hari Jumat depan saya pandu karena masalah BOS di SD Oepoi juga begini saja, sampai ada yang mau berkelahi, padahal nanti baku liat juga, karena mereka kan disekolah yang sama dan tidak kemana-mana, akhirnya berdamai satu dengan yang lainnya, namun demi dinamika demi demokratis maka segala sesuatu harus dibuka demi perbaikan ke depan karena kalau tidak kita akan berjalan di tempat dan tidak berubah, menyangkut ranah hukum jangan takut selama masih dalam koridor, kalau misalnya keseleo administrasi dan bisa dipertanggungjawabkan itu tidak masalah, kalau ada yang ganjil laporkan ke kami tim manajemen BOS kota jangan keluar ke Inspektorat yang diluar sana, karena mereka tidak ikuti perkembangan Juknis yang terbaru, dari kami selalu memberi saran siapa yang benar ya benar, siapa yang salah ya salah, kalau memang tidak ada perbaikan ya kita buat laporan ke Walikota dan Wakil Walikota tembusan ke Inspektorat bila ada indikasi maka diperiksa, tetapi kalau indikasinya bersifat administratif dan hanya perbaikan internal maka kita selesaikan secara internal apalagi kita dalam ruang lingkup pendidikan harus bangun komunikasi dan bekerjasama dengan baik tanpa itu akan timbul hal hal yang tidak kita inginkan.

“Saya masih demokratis karena selaku manajer dana BOS tetapi kalau saya menggunakan wewenang sebagai kepala bidang maka saya instruksikan harus revisi, jadi saya punya dua posisi dalam rangka pembinaan, revisi itu sebagai penyesuaian dan sebagai peta jawaban Triwulan 2 karena belum lapor kami, akhirnya kuitansi dan pembayaran pembayarannya masih berlangsung jadi masih bisa revisi untuk Triwulan II, revisi bisa 4 kali jadi masih saat ini masih bisa jadi seperti itu, ujar Robby.

Ia menegaskan, “Maksud revisi ini bukan revisi semuanya tetapi bagian bagian tertentu yang memang perlu direvisi, jadi nanti saat pemaparan hari jumat nanti nanti kami bagikan hardcopy bagian mana yang perlu direvisi tetapi itu dari guru guru sendiri dan bukan kami yang memaksa jadi pihak kami mencatat.”

Kemudian saat diberi kesempatan memberikan pendapat, mantan bendahara BOS sebelumnya Aprilia Bardama Tombi saat itu mengatakan, Saya minta maaf Karena sudah masalah begini makanya kami was was, kami tahu bapak punya maksud, cuma karena situasinya begini maka kami mengambil langkah begini, takut karena bisa menjebak kami sendiri, jadi karena ini perintah dari bapa, apakah tidak bisa kalau ada perintah tertulis yang menyatakan kita harus merevisi ini karena mengikuti perintah dari bapa.

Selanjutnya Robby Ndun menanggapi, Perintah itu ada dua perintah tertulis dan perintah lisan, saya hadir ini apa perlu perintah tertulis lagi, apakah perlu lagi, kalau begitu saya tidak hadir dan saya beri perintah tertulis, kalau bapa ibu kasih laporan ke atas saya coret semua, saya hadir ini sama dengan tertulis, tertulis itu sama dengan terlihat kan, menurut ibu ada masalah atau tidak ada masalah, yang mengatakan masalah kan evaluasi dari luar, saya mau tanya siapa yang melapor kalau ini masalah, kalau bukan bapak ibu jangan omong kalau ini masalah, kalau dari dalam yang lapor ada masalah maka buktikan.
Inikan tidak masalah sebenarnya, ini masalah administrasi yang harus disesuaikan, nanti kan uji petik lalu mana yang disebut masalah yang lama atau yang baru, sekarang saya tanya Ibu Aprilia masalah yang lama atau yang baru kalau yang lama ada pernyataan disini dan laporan ke kami sudah lengkap kalau yang salah disitu kalau saya otak miring sebagai manajer bos kota maka saya lapor ibu berdua (mantan ibu bendahara dan kepsek) karena sudah tuntas, hanya item ekskul yang belum kita bahas, jadi masalahnya apa? imbuhnya.

Kabid Pembinaan Dikdas menyatakan, Jadi kalau bapak/ibu tidak mengindahkan yang saya sampaikan secara santun ini maka saya pakai instruksi, itu bisa lisan atau tertulis dan kalau hari jumat jam 10 rapat bapa/ibu tidak ada ya tidak apa apa tetap jalan, daftar hadir tetap jalan sebagai pembinaan tim manajemen BOS Kota dan sebagai Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan Dasar.

“Kalau bapak/ibu mau untuk revisi dengan semangat MBS untuk perbaikan, namun kalau tetap tidak mau juga tidak jadi soal mau sepakat RKAS lama tidak soal, tinggal suruh bayar kembali, tetapi dana BOS ini fleksibel karena bisa revisi 4 kali, jadi kami sebagai pembina menyampaikan ini dalam rangka untuk revisi, bapak/ibu kok ketakutan sekali, masak jadi bendahara satu dua bulan ketakutan, masak jadi kepala sekolah satu dua tahun ketakutan, kami bertahun tahun tidak ada apa apa yang penting dalam posisi yang pas, masak kami pemimpin di depan bapak/ibu tidak diindahkan (brakkkk…….tiba tiba Robby Ndun membanting mikrofon dihadapan para guru) …masih mempertanyakan soal surat tertulis lagi, wibawa kami dimana apalagi saya mewakili kadis untuk mengurus dana BOS, saya malu sekali padahal saya anggap saudari tapi kok seperti ini caranya malah mempertanyakan, itu bagaimana, saya nanti hadir sendiri dalam revisi itu, pengawas sekolah juga hadir, komite sekolah juga hadir untuk tahu bagian mana yang direvisi sambil kami melakukan uji petik, ungkap Robby dengan nada kesal.

Kemudian ia menyahut, “Bagaimana Pak Jhon dan Ibu Kepsek kita kembali ke RKAS yang lama supaya tidak menimbulkan masalah seperti ini dan termin berikut saya bawa laporan lengkap dan rekomendasi kadis kalau tidak, bapa ibu tidak akan dilayani.”

“Silakan lapor kemanapun untuk diproses silakan. Saya marah karena ada yang minta surat perintah tertulis,” pungkasnya.

Seperti yang sudah diketahui bahwasanya pengelolaan Dana BOS oleh Kepala Sekolah SD Inpres Liliba disebut sebut sejumlah pihak terlilit sejumlah persoalan serius dan secara berulang diberitakan melalui media ini.

Dari pantauan wartawan dilapangan sejumlah pejabat dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang akhir akhir ini gencar melakukan manuver untuk menutup tudingan miring yang sedang menimpa SD Inpres Liliba. Tekanan demi tekanan pihak tertentu dilancarkan terutama yang ditujukan kepada RK Bendahara Dana BOS yang secara kasat mata terlihat jelas, dari rumah pribadinya yang dilempari hingga paksaan dari oknum eselon II yang meminta dirinya mengundurkan diri dari posisi bendahara beberapa hari yang lalu. (TIM REDAKSI)

Komentar