oleh

Rumah Perempuan Kota Kupang dan UPTD SD Inpres Naimata Sosialisasi Perlindungan Anak

RADARNTT, Kupang – Semakin tingginya pengaruh perubahan dan kemajuan dunia dan teknologi dewasa ini tentunya akan berdampak pada karakteristik anak sejak usia dini, tidak janrang pula terjadinya kekerasan terhadap anak dengan berbagai sumber penyebab yang bervariasi.

Menyadari hal tersebut Rumah Perempuan Kota Kupang Nusa Tenggara Timur (NTT) bekerjasama dengan Unit Pelayanan Teknis Terpadu (UPTD) Sekolah Dasar (SD) Inpres Naimata mengadakan Sosialisasi terkait perlindungan anak, kegiatan tersebut dilaksanakan di Aula SD Inpres Naimata, Jumat, (9/9/2022) pagi.

Kepala UPTD SDI Naimata Yovita Lakteu, melalui Wakil Kepala Sekolah Olesamp D Nara menyampaikan rasa terima kasih tak tersingga kepada Rumah Perempuan yang telah memilih SD Inpres Naimata jadi salah satu target implementasi program yang dicanangkan oleh Rumah Perempuan Kota Kupang , sehingg kegiatan hari ini bisa terlaksana.

Samp Nara juga menambahkan semoga dengan terlaksananya kegiatan tersebut bisa membawa dampak positif terutama dalam proses tumbuh kembang karakter anak kearah yang lebih baik serta mampu membedakan apa yang menjadi hak, kewajiban dan peran anak dalam kehidupan baik di lingkungan rumah, sekolah dan masyarakat, dengan demikian secara kelembagaan kami serakan siswa kami untuk dibimbingi dan diarahkan sesuai dengan harapan dan tujuan kegiatan hari ini.

“Kami serahkan sepenuhnya anak-anak kami kepada Rumah Perempuan untuk diarahkan dan diberi pemahaman terkait tujuan kegiatan hari ini,” tutup Samp Nara, sambil membuka kegiatan sosialisasi Perlindungan Anak.

Sementara Ketua Divisi Publikasi dan Informasi Rumah Perempuan Kota Kupang, Theresia Siti, menyampaikan terima kasih kepada pimpinan UPTD SD Inpres Naimata beserta jajarannya yang telah menerima LSM Rumah Perempuan, dan bersedia kerja sama untuk memberikan perhatian terhadap perlindungan anak dari sudut peran, hak dan kewajiban anak.

Ketua Divisi Publikasi dan Informasi Rumah Perempuan Kota Kupang Theres Siti

Tujuan kegiatan sosialisasi hari ini, kata mantan Komisioner KPU Provinsi Nusa Tenggara Timur itu, sebagai bentuk kepedulian serta menjadi rambu-rambu yang perlu diketahui oleh anak itu sendiri soal peran, hak dan kewajibannya sebagai anak dalam rumah, di sekolah dan di masyarakat.

Dalam materi yang dipaparkan, Theres Siti menjelaskan kepada puluhan siswa yang mengikuti kegiatan itu, soal perlindungan anak, yakni segala kegiatan yang diarahkan untuk menjamin dan melindungi anak serta hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi, secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.

Siti juga menambahkan, anak itu seseorang yang belum berusia 18 tahun termasuk anak yang masih dalam kandungan, selain beberapa pengelompokan hak anak yang perlu diketaui pribadi anak itu sendiri, yakni hak kelangsungan hidup, ini berarti tidak ada seorang pun yang dapat menghilangkan nyawa orang lain dengan alasan apapun.

Hak Tumbuh Kembang, seperti pengetahuan, keterampilan dan kepribadian  baik. Berkembang  jasmani, mental, dan  spiritual. Hak Perlindungan, dilindungi dari segala bentuk diskriminasi, perlakuan salah dan penelantaran. Hak Partisipasi, menyatakan pendapat (di rumah, di sekolah dan di lingkungan)

Selain hak anak, kewajiban anak baik di rumah maupun di sekolah dan di lingkungan juga menjadi perhatian yang perlu diketahui anak, seperti melakukan salaman dan cium tangan orang tua ketika hendak berangkat sekolah, menerima pelajaran yang diberikan oleh bapak dan ibu guru dan masih banyak lagi.

Lebih lanjut Theres Siti juga menjelaskan, setiap perbuatan terhadap anak yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, psikis, seksual dan penelantaran termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum, itu merupakan kekerasan  terhadap anak.

Penyebab terjadinya kekerasan terhadap anak kata Theres Siti, konstruksi sosial yang melanggengkan kekerasan (Kebiasaan), kurangnya perhatian dari orang tua terhadap anak sehingga anak bebas melakukan apa saja. Kurangnya informasi pendidikan seks terhadap anak, pengaruh buruk dari lingkungan sekitar anak, mudahnya anak mengakses media pornografi relasi kuasa (anak menjadi hak milik orang tua)

Sementara dampak dari perlakuakuan tersebut akan berakibat Anak menjadi pendiam, stres dan depresi. Anak akan menarik diri dari pergaulan dengan teman-teman. Kesehatan reproduksi anak terganggu. Terkena IMS, bahkan HIV dan AIDS, tidak melanjutkan sekolah karena malu hamil sebelum waktunya, menjadi orang tua di usia anak, bahkan melakukan hal nekat seperti bunuh diri. Tempat terjadinya kekerasan terhadap anak yakni, rumah, lingkungan tempat bermain, sekolah, jalan umum, tempat ibadah, hutan dll.

Ketua Divisi Publikasi dan informasi Rumah Perempuan Kota Kupang itu, mengimbau kepada siswa UPTD SD Inpres Naimata agar terjadi kekerasan apa yang bisa dilakukan, Laporkan atau memberikan informasi kepada orang tua, Guru, teman, keluarga atau orang terdekat anak.

Ia juga memberikan tips agar terhindar dari segala perlakukan kekerasan, Anak harus mengenal nama bagian tubuh sendiri serta fungsinya masing-masing. Anak tidak mudah menerima pemberian orang yang tidak dikenal. Anak laki-laki dan anak perempuan tidur pada kamar yang berbada. Anak tidak boleh jalan sendiri di tempat yang sepi, jangan diam ketika mengalami kekerasan harus memberitahukan kepada orang-orang terdekat

“Prinsip dasar perlindungan anak, yakni non diskriminasi kepentingan terbaik yang bagi anak hak untuk hidup, kelangsungan hidup dan perkembangan,  demokrasi, transparansi, keadilan gender dan kebersamaan,” tutup Theresia Siti. (Tim/RN)

Komentar