oleh

Tularkan Aura Olahraga, Warga Brazil Sumbang Bola Bagi SKO San Bernardino Lembata

RADARNTT, Lembata – Sekolah Keberbakatan Olahraga (SKO) Swasta San Bernardino Lembata Nusa Tenggara Timur(NTT),kini mendapat perhatian dari warga negara Amazon Brazil, yakni mendapat sumbangan berupa sekarung bola sebagai fasilitas utama dalam cabang permainan bola, hal ini disampaikan oleh Ketua Yayasan Koke Niko beeker Robert Bala saat menerima sumbangan tersebut, di Lewolwba Lembata pekan lalu.

Menurut Bala, sumbangan ini merupakan sebuah perhatian yang patut diapresiasi dan menjadi motifasi bagi pihak lembaga, baik yayasan maupun sekolah untuk memberikan yang terbaik bagi generasi yang mengenyam pendidikan di SKO San Bernardino Lewoleba Lembata, selain itu dirinya juga menyampaikan rasa terima kasih yang setingginya bagi warga Amazon Brazil yang telah memilih SKO San Bernardino Lembata menjadi salah satu sasaran perhatian dan dukungan pendidikan olehraga yang diwujud nyatakan lewat sumbangan sekarung bola.

Bala juga menyampaikan terima kasih yang tak terhingga kepada Pater Yoseph Mapang Pukay, SVD yag telah menyatukan SKO San Bernardino Lembata dengan warga Amazon Brazil, sekaligus mewakili warga Amazon menyerahkan sumbangan tersebut.

Dirinya merincikan jenis sumbangan bola tersebut yakni, 6 unit bola kaki, 5 unit bola volley, 5 unit bola futsal, dan 2 unit basket.

Mewakili warga Amazon Brazil Pastor Yoseph Mapang Pukay, SVD menyampaikan pesan dan harapan warga Amazon Brazil, bahwa semoga semoga dengan sumbangan ini semangat dan aura olahraga negara yang sering memboyong piala dunia ini bisa ditularkan di Indonesia melalui SKO San Bernardino Lembata.

Putera Mulandoro kelahiran 19 Januari 1966 ini ,menceritakan tentang animo olahraga di Brazil, kata dia olahraga sangat berkembang karena adanya prakarsa dari swasta. Pada kondisi apapun, mereka sanggup menyulap sebuah lapangan kecil jadi tempat bermain bola.

Lebih dari itu, Pastor tamatan Seminari Hokeng tahun 1987, juga mengatakan bahwa kemajuan olahraga sangat pesat karena semua pertandingan sangat terencana dengan jadwal yang ketat.

Disisi lain, katanya sportivitas dan strategi menjadi hal lain yang sangat menentukan, di Brazil, ketika ada kekalahan dalam pertandingan, ‘director tecnico’, atau pelatih akan segera diganti, hal itu disebabkan pemikiran, kemenangan dalam olahraga akan ditentukan oleh strategi.

Atas pola pikir itu, pria yang ditahbiskan pada tahun 1995 memuji Yayasan Koker Niko Beeker sebagai penyelenggara yang telah menunjukkan profesionalisme di awal pendirian sekolah keberbakatan ini entah melalui pengurusan legalitas sekolah berupa izin operasional maupun penataan organisasi.

Pada tempat yang sama Ketua PGRI Lembata, Yoakim Nuba Baran, mengaku bahwa bayak yayasan yang managemen pengelolahannya masih tertutup bahkan hanya diberlakukan dalam lingkup keluarga saja, sehingga tidak heran kalau keberhasilannya adem adem saja. Dirinya mendukung penuh dan apresiasi kepada Yayasan Koker Niko Beeker yang telah peduli terhadap bakat dan minat anak bangsa dengan mendirikan SKO San Bernardino, yang satu satunya sekolah keberbakatan swasta di Indonesia.

Sementara  wakasek Kurikulum Marlyn Baok, M.Pd, optimis, bahwa bibit olahraga dapat lahir dari tanah Lembata hal ini sesuai dengan visi sekolah yakni menjadi lembata profesional yang menghasiltkan Atlit, Berpretasi, Cerdas, Dijiwai Enterprenuership (ABCDE).

Kepa Bidang Olahraga Dinas PPO Kabupaten Lembata Wis Nedabang, mengungkapkan bahwa Lembata menjadi tempat lahirnya SKO ke-15 Indonesia sekaligus SKO Swasta pertama di Indonesia, hal ini menjadi kebanggan bagi kabupaten Lembata khususnya.

Di tempat ini, lanjut Nedabang, SKO akan lebih fokus pada pengembangan atletik berupa lari, lompat, dan lempar. Dalam prosesnya, bakat dan minat anak akan lebih dikembangkan lagi entah dalam bola besar (bola kaki, volley, futsal), maupun bola kecil (pimpong, bádminton, takraw), dan juga bela diri (pencak silat, karate, kempo, tinju).

Selain itu, kepala SKO San Bernardino Marsel Lidun Tolok, menegaskan bahwa belajar dari kegagalan dari banyak atlit yang setelah pensiun jatuh miskin, di SKO San Bernardino sangat ditekankan kewirausahaan. Siswa perlu dilatih jadi pelaku olahraga, dapat merancang hidup jadi event organiser. (* RN)

 

Komentar