oleh

FPK Minta Pemerintah Dukung Mutu Kopi Matim Menjadi Sentra Kopi Di NTT

Radarntt.com, Kupang-Menyikapi presetasi kopi asal perkebunan kopi Maggarai Timur (Matim), Nusa Tenggara Timur (NTT) pada konteks uji rasa kopi arabica dan rebusta yang digelar secara nasional di Kabupaten Bayuwangi, Jawa Timur, Senin 09/10/2015 lalu. mendapat respon positif dari Forum Peduli Kopi (FPK) asal Manggarai Raya untuk mendorong kwalitas kopi Manggarai agar terus menembus pasar ekspor ditingkat internasional. FPK Kota Kupang menggelar diskusi terbuka membahas berbagai permasalahan kopi yang sangat luas dan kompleks yang dihadapi petani kopi di NTT khususnya petani kopi asal Manggarai Raya, di Aula Kampus STIE OEMATONIS Kupang, Sabtu (06/11/2015).

Dalam diskusi terbuka tersebut FPK Kota Kupang membahas permasalahan kopi yang sangat luas dan komoleks dari produksi kopi, proses pengelolahan kopi, pemasaran kopi, membahasa kesejatraan petani hingga peran pemerintah dalam memperjuangkan kopi Manggarai Raya agar tetap menembus pasar ekspor secara internasional.

Anggota FPK Kota Kupang Yukunda Huwa, dalam diskusi tersebut mengungkapkan kopi Manggarai butuh dukungan dari pemerintah, sebab, hingga saat ini pemerintah belum memberikan dukungan sepenuhnya terhadap petani kopi Manggarai. Dengan demikian pemerintah segera mengeluarkan sertifikat. “Pemerintah harus beri dukungan berupa sertifikat indikasi geografis dari direktorat jenderal hak kekayaan intelektual kementerian Hukum dan HAM”, katanya.

Sementara itu, anggota FPK lainnya Frans Sarong mengungkapkan sisi sejarah budidaya kopi arabica di NTT berawal dari Manggarai Raya. Hal itu, ungkap Frans ditandai dengan pengahargaan dari pemerintahan Hindia Belanda berupa selembar bendera tiga warna kepada seorang petani berprestasi asla Colol, Kabupaten Manggarai Timur, NTT, tahun 1937.

Dalam diskusi tersebut diketahui bahwa tanaman kopi saat ini di Matim lepas dari perawatan semestinya. Sehingga proses pemetikan tidak selektif dan pengelolahan hasil panem masih secara tradisonal. Akibatnya hasil panen dan mutu kopi merosot. Hingga Kondisi seperti ini menyulitkan petani menikmati harga kopi kualitaa ekspor.

Olehnya FPK Kota Kupang asal Manggarai ini bersepakat agar memperjuangkan kopi Manggarai agar tetap mutu pada kualitas ekspor. FPK  juga meminta agar pemerintah harus berusaha dengan menghadirkan petugas pendampingan untuk membenahi pengelolaan hasil panen sekaligus budidaya kopi khususnya proses pengelolahannya harus dan tidak terkontaminasi dengan pupuk kimia. FPK  berharap agar kopi Manggarai tetap menjadi sentara bahkan induk budidaya kopi di NTT bahkan Indinesia.(*men/rn)

Komentar