oleh

Asosiasi Kopi Arabika Gelar Festival Kopi Rakyat di Golo Nderu

-Kuliner, Matim-1.177 views

 

Istri Gubernur NTT Julie Sutrisno Laiskodat (baju hitam) hadir dalam Festival Kopi Rakyat di Golo Nderu, Kabupaten Manggarai Timur

RADARNTT, Borong — Asosiasi Kopi Arabika Manggarai Timur menggelar Festival Kopi Rakyat, di Kampung Lamba, Desa Golo Nderu, Kecamatan Pocoranaka, Kabupaten Manggarai Timur (NTT), Minggu 14 Oktober 2014.

Festival ini bertujuan ingin mempromosikan biji kopi khususnya kopi Arabika asal Desa Golo Nderu Kabupaten Manggarai Timur agar kembali menjadi salah satu andalan kopi Indonesia.

Tim Leader Coffe intervensi Kopi AIP-PRISMA NTT, Dedy Saputra mengatakan festival tersebut sengaja digelar di Golo Nderu karena dianggap memiliki cita rasa yang enak dan potensi yang bagus.

“Sejak 2017 kita telah melirik potensi kopi di Golo Nderu ini. Kita menyampaikan edukasi kepada petani agar bisa kembali membangkitkan semangat budidaya para petani,” kata Dedy.

Kepala unit pemasaran Asosiasi Kopi Arabika Gaspar Hasan mengatakan, selama ini Golo Nderu merupakan salah satu penghasil biji kopi arabika terbaik. Namun, pengetahuan para petani pascapanen cenderung minim.

“Tujuannya untuk membangkitkan semangat budidaya para petani. Kami akan berbagi dengan petani mulai dari pembibitan, budidaya, hingga pengolahan pascapanen. Sehingga nantinya ketika petani mengikuti cara pengelolaan cita rasa seperti pada festival ini maka kemudian mempengaruhi harga bagus,” ujar Gaspar yang juga sebagai Kepala Desa Golo Nderu itu.

Selain itu, kata Gaspar jika petani memperoduksi Kopi Arabika sesuai Standar Oprasional yang telah ditetapkan oleh eksportir maka pihaknya akan mengajak investor berkerjasama dengan para petani.

“Kita mengajak eksportir kerjasama dengan patani jika pengelolahannya kopi sesuai SOP pasar”, tuturnya.

Salah satu petani kopi Damasius Don kepada media ini mengatakan walaupun penghasilan Kopi di Golo Nderu cukup tinggi, namun di sisi lain, dari sektor hulu, kalangan petani kopi sendiri tampaknya masih harus berjuang melawan sistem perdagangan yang kurang menguntungkan bagi petani.

“Menjadi permasalahan bagi petani kopi di Desa ini adalah maraknya sisitem ijon oleh pemilik modal. Dengan sistem ijon ini, para pemilik modal menawarkan pinjaman uang pada bulan pecekelik, dengan imbalan, kopinya digadaikan sampai panen dengan harga yang ditentukan dan perkiraan produksi panen/pohon yang hanya dikira-kira saja,” katanya.

Oleh karena itu, kata Don, perlu adanya upaya penyelamatan petani kopi dari lilitan sistem ijon ini. Sebab seharusnya di suatu daerah harus ada sistem dana talang bagi masyarakat atau petani pada saat musim peceklik.

Pantauan media ini rangkaian kegiatan festival kopi tersebut diantaranya Uji Cita Rasa Kopi, pelatihan pasca panen, minum kopi bareng serta pegelaran seni dan budaya. Hadir dalam festival itu Istri Gubernur NTT Julia Sutrisno Laiskodat, Calon DPD RI David Sutarto, Para Investor dan tokoh masyarakat. (MH/SET/RN)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru