oleh

Hari Pramuka Di Wolomeze Diisi Kegiatan Kelas Inspirasi Menganyam

Foto : Sejumlah Siswa Sedang Mengikuti Latihan Mengayam Dari Bahan Bambu

RADARNTT, Bajawa – Mengisi HUT Pramuka ke 58, Rabu (14/08/2019) lebih dari 60 siswa di Kecamatan Wolomeze, Kabupaten Ngada ikut kelas inspirasi kerajinan menganyam. Kegiatan ini diikuti siswa SMPN Satap Kurubhoko, SMPN Natarandang dan siswa SMPN Satap 3 Wolomeze.

Kelas inspirasi dilaksanakan atas kerja sama Kwarran Pramuka Kecamatan Wolomeze, Rumah Literasi Cermat (RLC) dan Yayasan Puge Figo. Tujuannya dapat menanamkan nilai sikap, ketrampilan dan pengetahuan kepada para siswa melalui kegiatan yang bermanfaat sehingga perayaan hari penting tidak sekedar rutinitas. Melalui kegiatan ini secara eksplisit mempertegas isu ekonomi kreatif, isu gender dan isu lingkungan hidup.

Selama sejam siswa dilatih menganyam berbagai jenis produk kerajinan anyaman dari bahan bambu. Para siswa dibagi dalam kelompok dengan masing-masing satu tutor yang adalah pengrajin anyaman untuk memberi petunjuk praktis membentuk anyaman yang dinginkan. Sebelum dilatih, kepada para siswa diperkenalkan bernagai produk anyaman seperti tas anyaman bambu, dompet, dan produk anyaman lainnya.

Narasumber dari Rumah Literasi Cermat Emanuel Djomba menginspirasi siswa, bagaimana menghasilkan produk anyaman yang bisa dijual dengan harga RP 150 ribu sampai Rp 300 ribu rupiah.

Produk anyaman dengan harga sekian, dibuat dari bahan bambu jenis aur yang tumbuh liar di hutan. Allah telah memberi (mencipta) alam yang kaya. Manusia tinggal mengambil tanpa menanam dan merawat.

Melalui kerja trampil para pengrajin, bambu liar yang ada di hutan menjadi produk yang mahal harganya. Saat ini ditengah masalah kerusakan lingkungan dan diwarnai dengan penggunaan ptoduk plastik melebihi ambang batas banyak orang dengan sadar mulai kembali memggunakan bahan yang ramah lingkungan.

Usai kegiatan, Emanuel mengatakan, terkait dengan isu ekologi, kita dituntut untuk manjaga alam, jangan dirusak, dibakar agar hutan (bambu) tetap lestari demi kehidupan. Terpeliharanya lingkungan akan terus memberi pasokan bahan baku untuk menghasilkan produk anyaman yang mahal harganya. Demikian secara ekonomi menjanjikan.

Dikatakan, kerajinan anyaman akrap dikerjakan kaum perempuan. Dengan ketrampilan yang dimiliki dapat mendorong meningkatnya produktivitas sehingga akan membawa keuntungan secara ekonomis. Perempuan selalu dianggap sebagai kelompok rentan daripada laki-laki sehingga perlu diberdayakan agar memiliki kesejajaran secara ekonomi dengan laki-laki.

Siswa di desa, dibawa pada pemahaman demikian sehingga terdorong untuk mengembangkan diri dengan ketrampilan berbasis lokal desa sebagai bekal hidup baginya kelak. Tidak hanya mengembangkan pengetahuan semata. Karena itu ketrampilan perlu dikembangkan sejak dini.

Pada saat belajar menganyam para siswa yang sudah dibagi dalam kelompok tampak antusias memulai mencoba, dibantu para ibu tutor kerajinan anyaman. Siswa SMPN Satap 3 Wolomeze, Nova mengatakan menyenangkan belajar kerajinan anyaman. Dia mau terus mencoba karena pada kegiatan hari ini waktunya singkat. Senang dengan kegiatan menganyam karena produknya menjanjikan.

Sementara Alya, siswa SMPN Natarandang juga punya kesan yang sama dengam Nova. Ketrampilan sangat bermanfaat sebagai bekal hidup. “Hasil anyaman kan bisa dijual,” kata Alya.

Priska siswa SMPN Satap Kurubhoko yang dalam latihan menganyam sudah banyak kemajuan mengatakan, “Sepertinya asyik dan saya mau latih terus. Kalau sudah tetampil pasti bisa menganyam.”

Para siswa mengatakan, kegiatan menganyam sudah dilakukan orang-orang tua di kampung-kampung. Hanya akhir-akhir ini orang muda kurang berminat, padahal menganyam bernilai bernilai ekonomis dan upaya pemajuan kebudayaan.

Sementara, tutor kerajinan anyaman bambu, Mama Sofia mengatakan anak perlu diwarisi dengan ketrampilan anyaman. Bukan sekedar supaya dapat uang tetapi karena kegiatan ini ada kaitannya dengan kebudayaan sebagai asesoris saat pesta adat, jadi perlu diwariskan turun temurun sebagai pendukung lestarinya budaya.

Di bagian lain, mama Rofina, usai membimbing siswa, memuji para siswa yang kelihatan antusias. Kalau dicoba terus ternyata mereka bisa. Jadi teruslah berlatih sampai mahir.

Mama Lina mengatakan senang kalau di sekolah juga ajar menganyam yang berhubungan dengan budaya dan menumbuhkan kreativitas agar dapat keuntungan. Dalam latihan ini ada yang cepat bisa tetapi ada yang lambat.

Salah seorang pembina di Kwarran Pramuka Wolomeze Piter Meo mengingatkan para siswa bahwa memiliki ketrampilan menjadi bekal agar survive dalam hidup. Tidak selalu pendidikan yang berpendidikan. Ini yang disebut aspek psikomotor yang perlu dikembangkan siswa selain aspek kognitif dan afektif.

Dikatakan Piter, kalau suatu saat nanti tidak lanjut ke pendidikan tinggi, siswa yang tinggal di kampung bisa meneruskan ketrampilan ini sebagai salah satu usaha yang punya nilai ekonomi. Karena, kata dia, pendidikan sebagai sebuah proses belajar memang tidak cukup dengan sekedar mengejar masalah kecerdasannya saja. Berbagai potensi anak didik atau subyek belajar lainnya juga harus mendapatkan perhatian yang proporsional agar berkembang secara optimal. Karena itulah aspek atau faktor rasa atau emosi maupun ketrampilan fisik juga perlu mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkembang.

Karena waktu terbatas diharapkan setelah terinspirasi dengan kegiatan ini dapat dilanjutkan di sekolah dan lingkungan masing-masing maupun di rumah. (FRANSISKUS/SET/R-N)

Komentar

Jangan Lewatkan