oleh

Posko Caleg Di Pelataran Rumah ASN, Bawaslu Ngada Siap Bertindak.

RADARNTT, Bajawa – Hal yang mengherankan terjadi dipelataran rumah seorang ASN berdiri posko pemenangan salah seorang caleg. Kejadian itu terjadi tepatnya di Desa Were II, Kecamatan Golewa Selatan, Kabupaten Ngada (Jumat, 01/02/2019).

Padahal TNI/Polri/ASN beserta perangkat pemerintah lainnya diwajibkan menjaga netralitas dalam pagelaran pesta demokrasi, mengingat akan segera digelar pemilu legislatif maupun pemilihan presiden pada 17 April mendatang.

Seperti yang terjadi baru baru ini salah seorang guru SD Inpres Derugawe di Kecamatan Golewa Selatan berinisial HD menyandang status guru negeri (ASN) dan dicurigai terlibat aktivitas politik terselubung.

Hal itu dikuatkan, adanya pondok yang berukuran 2 x 3 meter dipelataran rumah oknum guru tersebut. Didalam pondok terdapat pajangan baliho caleg dari partai PAN (Partai Amanat Nasional). Menurut informasi posko ini sebagai tempat nongkrong pada petang hari.

Dalam group Medsos, akun Facebook yang bernama #Frangky Balubf, mengaku salah satu anak oknum guru itu dalam komentarnya membenarkan adanya posko didepan rumahnya, terkait baliho diakui benar ada dan sementara tertempel. Tapi kamu lihat dulu siapa yang tanda tangan itu semua, saya punya ade Richardua Ngea yang tanda tangan, komen akun tersebut.

Sementara itu, saat dikonfirmasi wartawan salah seorang anggota Bawaslu Kabupaten Ngada, Yohana Leba, Divisi Penanganan Pelanggaran mengatakan, “Secara aturan posko tidak boleh ada pak, kalau sekretariat tim pemenangan harus ada SKnya dan terdaftar di KPU. Selain itu Alat Peraga Kampanye (APK) tidak boleh di pasang rumah ASN. Memang semua harus ijin namun untuk yang ASN tidak boleh kalau non-ASN atau masyarakat biasa baru bisa. Hari ini juga informasi ini kami akan tindaklanjut.”

Harapan kami kepada masyarakat itu, kalau ada informasi menyangkut pemilu sampaikan kepada kami (Bawaslu) secara langsung. Jangan lempar informasi di media sosial sehingga bisa membentuk opini bahwa seolah-olah ada masalah dan sengaja dibiarkan, tukas Yohana. (Fransiskus/Set/RN)

Komentar