oleh

SMPN 1 Bajawa Gelar Bincang Literasi

Foto: Bonefasius Zanda Sedang Memberikan Motivasi Tips Menjadi Siswa Berprestasi.

RADARNTT, Bajawa – SMPN 1 Bajawa menggelar Kegiatan ‘Tri Hari Bincang Lliterasi, ‘ dari Tanggal 27 – 29 Agustus 2019. Dua hari kegiatan berlangsung di dalam ruangan, dan satu hari berliterasi di alam terbuka.

Bincang literasi dibuka oleh Kepala SMPN 1 Bajawa, Maria C. Imelda, Selasa (27/08/2019) di ruang perpustakaan sekolah itu. Dalam bincang literasi yang dikoordinir oleh guru pembina siswa Ignasius Sabinus Satu itu menghadirkan para pegiat literasi kabupaten Ngada: Bonefasius Zanda, Lucia Yasinta Meme, Reinard L. Meo dan Emanuel Djomba dari Rumah Literasi Cermat Ngada.

Pada kegiatan pembukaan, Kepala SMPN 1 Bajawa, Maria C. Imelda mengatakan, kegiatan literasi dan jurnalistik merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan Spensa tiap tahun. Kegiatan ini bertujuan menambah pengetahuan bagi peserta didik, lebih-lebih bagi siswa yang mempunyai bakat dan minat dibidang tulis menulis. Melalui kegiatan ini, siswa mampu mengembangkan bakat dan kemampuan mereka. Melalui kegiatan ini, Imelda berharap siswa dapat mengikuti dengan serius agar pada suatu saat mampu menjadi penulis hebat dan mengembangkan kreativitas.

Melalui sesi-sesi kegiatan, para narasumber membangun motivasi siswa dan menguatkan siswa dengan skill menulis melalui latihan dan tips-tips praktis.

Reinard L. Meo kepada para siswa, mengatakan, menjadi seorang penulis harus mempunyai niat yang kuat dari dalam diri masing-masing. jika sudah ada niat orang pasti melanjutkan dengan usaha. Dari usaha ia terus mencoba. Menurut Reinard, menulis baginya merupakan tantangan sehingga dengan itu ia berusaha untuk melewati. Lebih-lebih jika ada lomba menulis di sekolah, ia selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik.

Ia juga mengisahkan bahwa pernah suatu saat ia mengikuti lomba menulis di sekolahnya dan ia menjadi yang terbaik. Lucunya hadiah yang ia terima hanya sebungkus biskuit. Ia kesal dan kecewa dengan itu, lantas ia menjadikan pengalaman itu dan ingin membuktikan bahwa pada suatu saat dengan menulis ia akan mendapat hadiah lebih dari itu, dan ia akan dihargai karena karyanya.

Sebagai penulis, kata Reinard yang kini menjadi guru di SMAK Regina Pacis itu, anak-anak harus buka diri dan siap belajar dari siapa saja dan kapan saja. “Saat muda harus berkarya dan pada saatnya kita akan dikenang atas karya-karya kita tersebut,” katanya memberi motivasi.

Di hari yang sama, narasumber lain, Lusia Yasinta Meme, menginspirasi siswa untuk menulis puisi.
Lusia menggambarkan bahwa menulis puisi merupakan cara mengolah rasa. “Dalam hidup, kita pasti merasakan banyak hal, nah dari hal-hal tersebut ia mengahasilkan puisi,” katanya.

Guru SMAK Regina Pacis Bajawa ini, juga menceritakan bahwa prestasi dan karya puisi telah menghantarnya hingga ke tingkat nasional bertemu dengan penyair-penyair hebat seperti Sutarji Calzom Bachri. Ia juga bisa bertemu pejabat negara. Atas prestasi puisi pula menghantarnya ke Kuala Lumpur – Malaysia.

Hari kedua menghadirkan narasumber yang juga guru SMAK Regina Pacis, Bonefasius Zanda yang kian melejit dengan karya tulis kritis di berbagai media cetak maupun online.

Bonefasius mensharingkan tentang kiat-kiat menjadi siswa berprestasi. Menurut Boy, siswa berprestasi adalah siswa yang mempunyai semangat ‘baja’. Semangat baja dimaksud, misalnya siswa tidak mudah menyerah kalau kegagalan. Kegagalan harus menjadi pelajaran berharga untuk meraih prestasi kembali.

Boy menambahkan, siswa harus mencintai proses, karena siswa berprestasi merupakan siswa yang mampu bertahan dalam menjalani proses sehingga pada akhirnya ia akan memanen hasil dan prestasinya.

Siswa, kata Boy, harus kritis melihat fenomena, dan melalui fenomena tersebut siswa mampu memberi solusi. Nah siswa-siswa solutif menurut Boy mampu berkompetisi di dunia nyata nantinya.

Bincang literasi ini juga menghadirkan narasumber non guru tetapi yang gigih berjuang untuk literasi sejak tahun 2015 di Ngada. Dia adalah Emanuel Djomba yang juga tuan Rumah Literasi Cermat Ngada.

Emanuel yang juga seorang wartawan itu memberi motivasi dan tips menulis kepada para siswa. Dirinya, kata Emanuel, adalah bukti bahwa dengan kemampuan dan skil menulis yang mumpuni mampu menghidupi diri dan membiaya keluarga serta pendidikan anak. “Jadi untuk survive kita perlu terus mengasah diri dengan skil,” katanya.

Melalui shering pengalaman bekerja di media nasional dan daerah sejak tahun 1994 hingga saat ini, Emanuel memberi gambaran bahwa profesi menulis dengan menjadi jurnalis juga menjanjikan. Emanuel bahkan sempat mendirikan setidaknya 5 media cetak dan satu media online. Hal ini karena kepiawaiannya menulis.

Melalui kegiatan ini Emanuel menekankan Literasi menjadi penting dalam kehidupan kalau ingin survive. Meminjam kata bijak, “siapa yang berhenti berliterasi sama halnya sudah mati sebelum waktunya. Karena literasi sama dengan nafas dalam kehidupan.

Pada materinya, Emanuel memberi tips menulis dasar dengan formula 5W 1H dan tips menulis feature (karangan khas) secara praktis dengan gaya bertutur. Memberi tips memilih angle (sudut pandang) dalam menulis. Angle akan menuntun penulis dan membela tulisan penulis sehingga tetap konsisten dengan tema sesuai alur dan kerangka.

Namun sebelum proses menulis seorang penulis perlu dibekali dengan asupan membaca dan kepekaan pada fenomena sekitar. Ini diperoleh dengan melakukan aktifitas reportase yang dalamnya ada aktifitas observasi, wawancara maupun riset pustaka. Dengan demikian bisa menghasilkan tulisan yang berkualitas.

Sementara Guru SMPN 1 Bajawa Ignasius Sabinus Satu dalam materi akhir memberi tips praktis menulis opini dengan gaya eksposisi. Materi guru yang akrab disapa Uno ini sekaligus menjadi arahan bagi siswa sebelum berliterasi di alam terbuka (ekoliterasi) yang merupakan rangkaian Tri Hari Bincang Literasi’ di SMPN 1 Bajawa. (FX/SET/R-N)

Komentar

Jangan Lewatkan