oleh

Kapolres Rote Ndao Tanggapi Pengaduan Kasus Penembakan Kades Lidor

RADARNTT, Baa — Pengaduan Keluarga korban pembunuhan berencana almarhum Pj Kepala Desa Lidor kepada pihak Polres Rote Ndao yang meminta dilakukan proses hukum terhadap 4 orang yang diduga menjadi otak pembunuhan yakni Pj Kepala Desa Lentera inisial NBN, mantan Kepala Desa Lidor inisial AA, BAF dan EA resmi mendapat tanggapan setelah dilakukan proses penyidikan terhadap ke 4 oknum tersebut.

Forkes Marthinus Hilly selaku keluarga korban ketika ditemui wartawan dikediamannya Jumat (17/08/2018) mengatakan, Polres Rote Ndao sudah menanggapi surat pengaduannya melalui surat pemberitahuan perkembangan hasil penyidikan (SP2HP) dari Polres Rote Ndao yang bernomor :B/58/VII/2018/Reskrim ditandatangani Kapolres Murry Mirranda yang menjelaskan bahwa saat ini Polres Rote Ndao melakukan penyidikan terhadap oknum lain yang memiliki kaitan dengan kasus pidana pembunuhan berencana tersebut berdasarkan putusan Pengadilan Negeri Rote Ndao yang bernomor register 16/PID.B/2016/PN Rno.

“Kami sudah terima SP2HP dari Polres Rote Ndao yang menjelaskan saat ini penyidik melakukan penyidikan terhadap oknum lain yang memiliki kaitan dengan kasus tersebut,” kata mahasiswa hukum Universitas Nusa Lontar tersebut.

Seperti diberitakan sebelumnya Forkes Marthinus Hilly mengatakan terkesan penyidik Polres Rote Ndao melakukan pembiaran atau tidak melakukan proses hukum terhadap Pj Kepala Desa Lentera NBN, mantan Kepala Desa Lidor AA, BAF dan EA yang diduga kuat menjadi otak pembunuhan terhadap almarhum Pj Kepala Desa Lidor Yoppy O Hilly yang terjadi pada awal tahun 2016 lalu yang sudah dikuatkan dengan putusan majelis hakim Pengadilan Negeri Rote Ndao yang bernomor register: 16/PID.B/2016/ PN Rno.

Forkes Marthinus Hilly Selaku keluarga korban pada Rabu, (25/07/2018) menghubungi wartawan dan mengatakan, pihaknya telah mengirim surat kepada Kapolres Rote Ndao yang pada pokoknya meminta dilakukan penegakan hukum melalui proses hukum terhadap orang yang diduga menjadi otak pembunuhan berdasarkan pertimbangan majelis hakim pada putusan Pengadilan Negeri Rote Ndao tersebut.

Marthinus Hilly menegaskan sesuai putusan majelis hakim bahwa telah terbukti terjadinya tindak pidana sesuai pasal 340 KUHP jo pasal 55 ayat (1) KUHP tentang pembunuhan berencana dan penyertaan tindak pidana dan majelis hakim menyimpulkan bahwa tiga terpidana (Fery Henukh, Samuel Filly dan Toni Filly) yang sudah menjalani hukuman, bukan otak perencana pembunuhan tapi pembunuhan tersebut direncanakan sebelumnya pada akhir Bulan Desember 2015 yakni 29 Desember 2015 dirumah milik BAF yang dihadiri Pj Kepala Desa Lentera NB N, mantan Kepala Desa Lidor AA, BAF, Samuel Filly, Toni Filly, Fery Henukh, dan EA, tegasnya.

Lanjut Martihus dalam pertimbangan majelis hakim mengatakan, bahwa oknum yang namanya disebutkan tersebut merasa tidak senang dengan korban Almarhum Yoppy O Hilly sehingga bertempat di rumah BAF disampaikan kepada DPO David Adu dan terpidana Samuel Filly  dengan ungkapan meminta menembak korban karena adanya perebutan jabatan kepala desa sehingga korban diduga menyantet anak BAF.

“Dalam pertimbangan hakim dijelaskan perencanaan itu terjadi karena mereka tidak senang terhadap korban karena adanya perebutan jabatan jadi korban diduga menyantet anak BAF sehingga disampaikan kepada David Adu dan Samuel Filly di rumah milik BAF yang meminta menembak korban,” ujarnya dengan nada sedih.

Salinan surat tersebut diterima wartawan Rabu (25/07/2018) yang ditandatangi sekitar 10 orang keluarga korban dan tembusannya disampaikan kepada Dr.Wiranto, SH selaku Menko Polhukam  dan Ketua Kompolnas Republik Indonesia, Irjen Pol. Drs. Raja Erizman selaku Kepala Kepolisian Daerah Nusa TenggaraTimur.(CTA/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan