oleh

Hampir 90% ASN Kecamatan Rote Barat Laut Tidak Ikut Upacara Penurunan Bendera

Foto: Ketua DPRD Rote Ndao Alfred Saudila, A.Md

RADARNTT, Ba’a – Sejarah panjang para pejuang kemerdekaan yang membebaskan Indonesia dari cengkraman penjajah tentu bukanlah sebuah hal yang dianggap remeh. Keringat, darah, tenaga hingga nyawa dipertaruhkan demi yang namanya kemerdekaan. Namun makna kemerdekaan tersebut rupanya belum sepenuhnya dimaknai oleh sebagian besar ASN yang berada di Kecamatan Rote Barat Laut pada saat upacara penurunan bendera merah putih di halaman Kantor Camat Rote Barat Laut, Kabupaten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur (Sabtu, 17/08/2018).

Hal tersebut sontak membuat Ketua DPRD Kabupaten Rote Ndao, Alfred Saudila, A.Md kesal dengan kondisi yang terlihat saat menghadiri upacara penurunan bendera memperingati Hari Kemerdekaan RI ke 74 tersebut di Kantor Camat Rote Barat Laut, dan pada kesempatan itu Alfred menyebut hampir 90% ASN yang bertugas di kecamatan tersebut tidak hadir.

Dikatakan Alfred Saudila, kehadirannya untuk mengikuti upacara HUT RI di Kecamatan Rote Barat Laut merupakan yang pertama kali selama masa jabatannya sebagai Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Rote Ndao, karena sejak masa jabatannya selama lima tahun ia selalu menghadiri upacara di tingkat Kabupaten sehingga pada momentum kali ini dirinya menyempatkan waktu untuk mengikuti upacara di tingkat kecamatan Rote Barat Laut.

Namun melihat suasana upacara penurunan bendera yang berlangsung di Kecamatan Rote Barat Laut. Menurutnya, memberikan kesan buruk di mata masyarakat Kabupaten Rote Ndao. Hal ini dikarenakan dari 3 SMA/SMK, 7 SMP dan 25 SD yang ada di wilayah kecamatan Rote Barat Laut, hanya 5 kepala sekolah yang ikut upacara penurunan bendera sementara 30 orang kepala sekolah lainnya tidak hadir tanpa alasan,.

Selain kepala sekolah, kepala cabang Dinas tidak hadir apalagi para guru tidak lebih dari 10 orang, termasuk peserta didik yang hadir hanya 2 sekolah. begitu pula kehadiran kepala desa dan perangkat desa sangat minim, ini menggambarkan situasi bahwa belum ada kesadaran dalam momentum seperti ini.

Dijelaskan Alfred Saudila, situasi ini menggambarkan bahwa para guru tidak mengarahkan peserta didik untuk mengikuti upacara sehingga ke depan perlu informasi kepada teman-teman ASN d Rote Barat Laut, para guru dan kepala sekolah untuk mengarahkan anak didiknya untuk mengikuti upacara, apa lagi ini upacara 17 Agustus yang merupakan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang perlu menjadi perhatian ke depan.

“Saya merasa bahwa ketidakhadiran mereka, kita tidak tau apa alasannya tetapi dalam kesibukan apapun harusnya mereka hadir untuk mengikuti upacara penurunan bendera dan itu kewajiban sebagai abdi Negara,” ungkap Alfred.

Lanjut dikatakan Ketua DPRD Rote Ndao, kita harus berpartisipasi dalam momentum ini karena kita mengabdi untuk negara. Kita memperingati Hari Kemerdekaan ini satu kali se-tahun tapi kelihatan kondisi seperti ini tentu menggambarkan situasi yang tidak nyaman serta tidak enak dipandang oleh seluruh masyarakat Rote Ndao, apalagi kalau hal ini diketahui oleh pimpinan- pimpinan dinas atau pembina kepegawaian dalam hal ini pemerintah daerah. Ini yang harus di perhatikan karena terkesan tidak bagus.

”Perlu ada penegasan baik itu dari pimpinan-pimpinan OPD maupun pimpinan daerah supaya kedepan ini tidak boleh terjadi lagi, saya sangat kesal termasuk Pak Camat serta Danramil yang hadir ikut kesal dengan kondisi tersebut,” ungkapnya dengan nada geram.

Menyikapi hal ini Ketua DPRD Kabupaten Rote Ndao, Alfred Saudila minta penegasan dari pimpinan OPD maupun Pimpinan Daerah untuk kedepan hal ini tidak boleh terulang. (TONY/SET/R-N)

Komentar

Jangan Lewatkan