oleh

Lahan Bandara DC Saudale Disengketakan, Pemda Rote Ndao Persilahkan Keluarga Boik Tempuh Jalur Hukum

Foto : Ayub Boik Bersama Ayahnya Markus Boik

RADARNTT, Ba’a – Sebagian lahan di Bandara DC Saudale Rote, yang diklaim warga atas nama Ayub Boik cs hanya bisa diselesaikan lewat jalur hukum. Dalam pertemuan hari ini antara pemerintah Rote Ndao dalam hal ini Dinas perhubungan Darat, pihak Bandara dan Ayub Boik cs. Keluarga Boik dipersilahkan menempuh jalur hukum sesuai dengan mekanismenya (Selasa, 03/09/2019).

Kabandara D.C Saudale Rote, Semuel Charles B Malaikosa seusai pertemuan tersebut kepada wartawan mengatakan, pihaknya hanya sebagai pengguna dalam pelayanan penerbangan kepada seluruh masyarakat Rote Ndao yang menggunakan jasa penerbangan dan menyerahkan sepenuhnya persoalan tersebut kepada Pemerintah Kabupaten Rote Ndao.

Foto: Tampak Kepala Dinas Perhubungan Rote Ndao Seldjiana Kiaduy, SE Tiba di Kantor Bandara D.C Saudale Rote

Selanjutnya Malaikosa menjelaskan, pihaknya baru mengetahui persoalan tersebut sejak beberapa bulan yang lalu melalui surat dan pihaknya mengarahkan keluarga Boik ke Dinas perhubungan dalam hal ini Pemerintah Daerah Rote Ndao untuk berkoordinasi terkait persoalan tersebut.
“Saya baru mengetahuinya beberapa bulan kemarin, kami mendapatkan surat dari keluarga Boik bahwa ada hak dari keluarga Boik yang belum dibayar dan kami mengarahkan ke Dinas perhubungan dalam hal ini Pemerintah Rote Ndao untuk berkoordinasi ke sana, karena mereka yang punya kewenangan,” ungkapnya.

Ia menambahkan, sesuai dengan hasil koordinasi dengan unsur Pemerintah Rote Ndao dihadapan Bupati menghasilkan keputusan, bandara tetap beroperasi memberikan pelayanan terhadap masyarakat sesui aturan yang ada dan mempersilahkan keluarga Boik menempuh jalur hukum untuk mencari solusinya, karena sepengetahuan pihaknya sesuai informasi dan data dari pemerintah daerah bahwa lahan yang disengketakan tersebut sudah dibebaskan dari Tahun 2004.

Sementara itu pada tempat terpisah Ayub Boik kepada wartawan mengatakan,sesuai dengan surat yang Ia layangkan pada Tanggal 2 September 2019 niat dari pihaknya melakukan aksi damai namun pihak Bandara D.C Saudale mengarahkan pihaknya ke Dinas perhubungan Kabupaten Rote Ndao dan hasil koordinasi menyarankan pihaknya menempuh jalur hukum.

“Saya sebagai anak kandung dari Bapak Markus Boik, saya sangat menyesal dengan penyambutan dan penyampaian dari pemerintah Daerah, karena niat saya itu baik tapi penyambutan terhadap saya tidak sesuai harapan, maka saya akan melaporkan ke pihak penegak hukum dengan laporan pemalsuan tanda tangan dan yang saya laporkan adalah Dinas Perhubungan Kabupaten Rote Ndao,” tegas Ayub Boik.

Ditambahkan Ayub Boik lahan yang disengketakan tersebut seluas 15 ribu m2 dan dokumen yang Ia miliki bahwa pada Tahun 2004 ayahnya Markus Boik belum menandatanganinya, sedangkan pada dokumen Dinas perhubungan Kabupaten Rote Ndao menyatakan bahwa ayahnya Markus Boik sudah cap jempol. (Tony/Set/R-N)

Komentar